Megawati dan Tragedi Berdarah 27 Juli 1996

Megawati dan Tragedi Berdarah 27 Juli 1996
Jakarta, Obsessionnews – Besok pagi, Senin (27/7/2015), para aktivis anti Orde Baru (Orba) akan memperingati tragedi berdarah 27 Juli 1996. Peristiwa tersebut merupakan lembaran hitam dalam sejarah perpolitikan Indonesia. Saat itu massa yang didukung pemerintah menyerbu kantor Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Demokrasi Indonesia (PDI), Jl. Diponegoro 58, Menteng, Jakarta Pusat, yang diduduki pendukung Megawati Soekarnoputri. Massa dengan berbagai senjata melakukan kekerasan untuk merebut kantor DPP PDI, dan menyebabkan puluhan pendukung Megawati meninggal dunia, serta mengakibatkan kerusuhan massal di Jakarta dan daerah-daerah lain. (Baca: Kantor PDI Saksi Bisu Kebengisan Rezim Orde Baru) Di era Orba hanya terdapat tiga partai politik (parpol), yakni Golkar, Partai Persatuan Pembangunan (PPP), dan PDI. Orba identik dengan Golkar dan Presiden Soeharto. (Baca: Musuh Besar Soeharto Itu Telah Pergi) Rezim Orba dengan berbagai cara memenangkan Golkar. Dalam enam kali pemilu, yakni Pemilu 1971, Pemilu 1977, Pemilu 1982, Pemilu 1987, Pemilu 1992, dan Pemilu 1997, Golkar selalu tampil sebagai juara. Sementara PPP dan PDI menduduki peringkat kedua dan ketiga. Soeharto memang berkepentingan memenangkan partai beringin untuk melanggengkan kekuasaannya. Ketua Dewan Pembina Golkar ini tak mau PPP dan PDI menjadi besar. Oleh karena itu Soeharto selalu mengobrak-abrik PDI dan PPP. (Baca: Waspadai Kebangkitan Soehartoisme) Jenderal Besar ini memerintah dengan tangan besi. Soeharto tidak mau disaingi oleh siapapun. Dia menyingkirkan  orang-orang yang berpotensi menyainginya. Salah seorang politikus yang dinilai berpotensi mengancam kekuasaan Soeharto adalah Megawati. Megawati yang akrab dipanggil Mbak Mega dicintai oleh kader-kader PDI. Dia simbol perlawanan terhadap Orba. Puteri Presiden pertama Indonesia Ir. Sukarno ini mulai terkenal ketika terpilih menjadi anggota DPR dari PDI pada Pemilu 1987. Megawati kembali melenggang ke Senayan, sebutan populer untuk Gedung MPR/DPR di Senayan, Jakarta Pusat, pada Pemilu 1992. Popularitasnya semakin melejit ketika pada 1993 dia terpilih menjadi Ketua Umum DPP PDI periode 1993-1998 dalam Kongres Luar Biasa (KLB) PDI di Surabaya, Jawa Timur. Dia menggantikan Soerjadi. Terpilihnya Megawati sebagai Ketua Umum PDI tersebut membuat Soeharto tak senang. Soeharto khawatir PDI di bawah kepemimpinan Megawati akan menjadi besar, dan mengancam keberadaan Golkar. Selain itu jika PDI lebih besar dari Golkar akan membuka peluang Megawati menjadi calon presiden. Soeharto menyadari Megawati tidak bisa disetir. Untuk itu berbagai cara dilakukan menggulingkan Megawati. Pemerintah menciptakan konflik di internal PDI, mengadu domba kubu Megawati dengan kubu Soerjadi. Pemerintah tak mengakui kepemimpinan Megawati dan mengizinkan digelarnya Kongres PDI tandingan di Medan, Sumatera Utara, 22-22 Juni 1996 yang diadakan kubu Soerjadi. Dalam Kongres PDI di Medan yang dihadiri Menteri Dalam Negeri Yogie S. Memet tersebut, Soerjadi terpilih menjadi Ketua Umum. Pemerintah merestui PDI dipimpin Soerjadi, dan mencoret semua daftar calon anggota legislatif (caleg) Pemilu 1997 versi Megawati. Yang diakui pemerintah hanya daftar caleg versi Soerjadi. Manuver rezim Soeharto itu membuat para kader dan simpatisan PDI Megawati ngamuk. Mereka tak mau mengakui kepemimpinan Soerjadi. Mereka menduduki kantor DPP PDI di Jl. Diponegoro No. 58 Menteng, Jakarta Pusat. Mereka membuat panggung demokrasi, serta berorasi menghujat pemerintah dan Soerjadi. Tanggal 27 Juli 1996 kantor DPP PDI diserbu orang-orang tak dikenal yang didukung pemerintah. Aparat keamanan yang berada di lokasi itu membiarkan saja penyerangan tersebut. Dan terjadilah tragedi berdarah itu. (Baca: TB: Sutiyoso Terlibat Kasus 27 Juli) Pada Pemilu 1997 Golkar kembali menjadi pemenang dengan memperoleh 325 kursi di DPR, sedangkan pada Pemilu 1992 mendapat 282 kursi. Sedangkan PPP mendapat limpahan suara dari pendukung Megawati. Dalam Pemilu 1997 PPP mendapat 89 kursi, sedangkan pada Pemilu 1992 memperoleh 62 kursi. Yang ironis adalah PDI. Dalam Pemilu 1997 PDI hanya memperoleh 11 kursi, sedangkan pada Pemilu 1992 mendapat 56 kursi. Setelah jatuhnya Soeharto pada 21 Mei 1998, Megawati mendeklarasikan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) dan ia menjadi ketua umumnya. Megawati berhasil mengantarkan PDI-P memenangkan Pemilu 1999 yang merupakan pemilu pertama di era reformasi. Dalam Sidang Umum MPR tahun 1999 Megawati terpilih menjadi Wakil Presiden, sedangkan yang menjadi Presiden adalah KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Selanjutnya Megawati naik kelas menjadi Presiden pada tahun 2001, menggantikan Gus Dur yang diberhentikan oleh MPR. Pada Pemilu 2004 perolehan suara PDI-P merosot dan harus puas duduk di peringkat kedua setelah Golkar. Perolehan suara PDI-P kembali melorot pada Pemilu 2009. PDI-P berada di urutan ketiga setelah Partai Demokrat dan Golkar. Pada Pemilu 2014 barulah PDI-P bangkit kembali dan menjadi pemenang. Selain itu juga sukses mengantarkan seorang kadernya, Joko Widodo (Jokowi), menjadi Presiden periode 2014-2019. Megawati masih dicintai oleh kader-kadernya. Hal ini dibuktikan dia tetap dipercaya memimpin partai berlambang banteng bermoncong putih ini hingga kini. (Arif RH)