Empat Anak Emas Ical Perebutkan Ketum Golkar

Jakarta, Obsessionnews– Partai Golkar akan menggelar Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) di Bali, 25-27 Mei 2016 mendatang untuk memilih ketua umum (ketum) baru. Ketum Golkar Aburizal Bakrie atau Ical memastikan tak akan maju di Munaslub tersebut. Ical telah mempersiapkan empat anak emasnya untuk bersaing memperebutkan kursi ketum Golkar, yakni Setya Novanto, Idrus Marham, Ade Komaruddin, dan Airlangga Hartanto. Setya adalah Ketua Fraksi Partai Golkar DPR. Sebelumnya ia menduduki kursi Ketua DPR. Idrus adalah Sekretaris Jenderal (Sekjen) Golkar. Ia dipercaya menjadi Sekjen Golkar dalam Munas Riau tahun 2009 dan Munas Bali tahun 2014. Sementara itu Airlangga adalah anggota DPR. Sedangkan Ade Komarudin adalah Ketua DPR. Sebelumnya ia menjabat Ketua Fraksi Partai Golkar DPR. Ical secara resmi memperkenalkan keempat orang loyalisnya tersebut dalam acara Musyawarah Daerah (Musda) Jawa Barat di Bandung, Sabtu (23/4/2016). Keempat orang itu akan bersaing dengan Ketua DPD I Golkar Sulawesi Selatan Sahrul Yasin Limpo dan Wakil Ketua MPR Mahyudin. Sekjen Himpunan Masyarakat Peduli Indonesia (HMPI) Tri Joko Susilo menilai Ical masih berambisi mengendalikan Golkar. Beredar isu Ical mengincar posisi Ketua Dewan Pertimbangan Golkar. Posisi strategis ini bisa diperolehnya apabila salah seorang anak emasnya terpilih menjadi ketum. “Jika loyalisnya yang terpilih menjadi ketum, ini berarti Ical masih tetap dominan di Golkar. Sebab, loyalisnya itu hanya menjadi boneka,” kata Tri ketika dihubungi Obsessionnews.com, Minggu (24/4/2016). Namun, Tri menganggap Ical tak pantas menduduki posisi tersebut, karena Golkar di bawah kepemimpinannya babak belur di Pemilu Legislatif 2014, Pilpres 2014, dan Pilkada serentak 2015. “Posisi Ketua Dewan Pertimbangan itu adalah posisi strategis yang harus dipegang oleh orang-orang yang jelas pengorbanannya bagi Golkar, yang membawa marwah partai. Ical ini gagal memimpin Golkar,” ujarnya. Pada Pemilu 2014 Golkar harus puas berada di peringkat kedua setelah PDI-P. Pada Pilpres 2014 Golkar tak berhasil mengantarkan Ical menjadi capres, karena kursi Golkar di DPR tak mencukupi partai ini mengusung capres sendiri. Tak kehabisan akal Ical melobi Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri, minta diduetkan dengan Joko Widodo (Jokowi). Ical rela turun kelas menjadi cawapres. Namun, gayung tak bersambut. Megawati menolak keinginan Ical, lantaran PDI-P telah menetapkan Jusuf Kalla (Jokowi) sebagai wakil Jokowi. Ical gigit jari. Ia lantas membawa gerbong Golkar bergabung dengan Koalisi Merah Putih (KMP) yang mendukung duet Prabowo Subianto – Hatta Rajasa. Tapi jagoan KMP tersebut tak berkutik menghadapi Jokowi – JK. Pasca Pilpres 2014 Golkar dilanda prahara. Partai yang pernah berkuasa di era Orde Baru ini terbelah menjadi dua kubu, yakni kubu Ical dan kubu Agung Laksono. Ical terpilih kembali menjadi Ketum Golkar dalam Musyawarah Nasional (Munas) di Bali pada awal Desember 2014. Namun Munas Bali itu ditentang oleh sejumlah tokoh Golkar yang dimotori oleh Agung Laksono. Kubu Agung membuat Munas tandingan di Ancol, Jakarta, pada Desember 2014, dan Agung terpilih sebagai Ketum. Sial bagi Ical. Pemerintah melalui Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) tak mengakui kepengurusan hasil Munas Bali. Sebaliknya Kemenkumham mengesahkan kepengurusan Munas Ancol. Kasus ini kemudian bergulir ke meja hijau. Dualisme kepemimpinan Golkar berdampak negatif pada Pilkada serentak 9 Desember 2015. Di berbagai daerah banyak kader Golkar yang bertumbangan di pilkada tersebut. (arh, @arif_rhakim)Baca Juga:Ical Tak Pantas Duduki Posisi Ketua Dewan Pertimbangan GolkarIcal Masih Berambisi Kendalikan GolkarMunaslub Momentum Kebangkitan Golkar





























