Terkait Harga Cabai Melambung, Ini Kata Ikappi

Terkait Harga Cabai Melambung, Ini Kata Ikappi
Ketua Umum Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi), Abdullah Mansuri.

Jakarta, Obsessionnews.com – Harga cabai mengalami kenaikan dari Rp 40.000/kg menjadi Rp 160.000. Hal ini menuai protes dari masyarakat agar harga cabai kembali stabil. Terkait kenaikan harga cabai tersebut Ketua Umum Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi), Abdullah Mansuri, angkat bicara.

Mansur, panggilan akrabnya, mengutip pernyataan Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita yang menyebutkan lebih baik menanam cabai saja di rumah. Mansur menilai pernyataan Enggar tersebut sebagai bentuk dari ketidakmampuan pemerintah mengatasi kenaikan harga cabai. Atau dengan kata lain pemerintah  mau melempar tanggung jawab.

“Ini bukan soal menanam cabai. Itu boleh untuk jangka panjang. Tetapi bagaimana harga pangan itu segera diatasi,” kata Mansur ketika dihubungi Obsessionnews.com, Senin (9/1/2017).

Mansur melanjutkan, pemerintah perlu menyelesaikan kondisi ini yang saat ini cukup mengkhawatirkan dan berbahaya.

“Sepanjang sejarah lima tahun terakhir belum ada kenaikan setinggi ini. Artinya, perlu ada kerja keras dalam pemerintahan Jokowi untuk menangani kenaikan tersebut. Sebab kenaikan harga ini hampir semua komoditas di saat konsumsi menurun. Ini kan anomali ya?” katanya.

Jika bercermin pada tahun lalu, kata Mansur, pasca Lebaran, pasca Natal dan tahun baru apabila ada penurunan konsumen, maka akan ada penurunan harga. Akan tetapi saat ini konsumen menurun tetapi harganya masih tinggi.

“Di sisi lain pemerintah menyatakan stok aman, sedangkan harga tetap mahal, ini bagaimana jika ini dibiarkan? ini cukup berbahaya untuk stabilitas pangan,” tuturnya.

Menurutnya untuk menyikapi hal ini paling tidak seluruh instansi melakukan duduk bersama, sehingga ada komunikasi yang baik antara Kementerian Perdagangan (Kemendag) atau Kementerian Pertanian (Kementan) dengan petani dan pedagang.

“Sebab dua stakeholder ini yang paling terdampak atas kenaikan harga cabai. Seperti petani, belum tentu menerima keuntungan yang besar disaat harga yang tinggi karena mereka harus melewati pengepul baru sampai ke pedagang pasar. Sehingga untungnya semakin kecil maka dijual dengan harga yang mahal ditengah keterbatasan modal,” ucapnya.

Ia menuturkan, dengan kondisi tersebut masyarakat misalnya yang sebelumnya akan membeli satu kilogram, menjadi setengah kilogram karena keterbatasan biaya dengan harga yang melambung tersebut.

“Ini yang perlu diketahui oleh pemerintah, bahwa petani dan pedagang itu adalah salah satu pihak yang emang dirugikan. Kami berharap bisa duduk bersama untuk menyikapi hal ini, sebab kami bahkan tidak pernah ada forum bersama yang mengulas persoalan di lapangan terkait pangan, pasar, kebakaran dan lainnya, ini berbahaya karena kita bertarung di media saja,” katanya.

Ia berharap pemerintah dapat merangkul semua pihak, sehingga bisa menyikapi persoalan secara bersama.

Sebelumnya Menteri Perdagangan Enggartiasto mengungkapkan kenaikan tersebut dipicu karena faktor cuaca yang akhir-akhir ini terjadi hujan dengan curah yang tinggi. Terkait kenaikan harga cabai ini, dia menyarankan masyarakat untuk menanam cabai sendiri di pekarangan rumah, dan berpindah untuk mengonsumsi cabai kering.

“Tanam sendiri cabai, kita ada solusi yang tidak ilmiah. Satu kalau mau cabai kering. Di negara yang empat musim sudah mulai dengan cabai kering, tetapi kita terbiasa makan tahu dengan cabai. Kalau pakai cabai kering kan nggak enak rasanya ini hanya kebiasaan,” ungkap Enggar, Rabu (4/1). (Aprilia Rahapit)

Share artikel ini

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Masukan kode dibawah Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.