Tembok Bawah Tanah Israel di Jalur Gaza

Juru bicara Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas) mengatakan, tindakan rezim Zionis Israel membangun dinding bawah tanah di sekitar Jalur Gaza, ilegal dan bertujuan untuk memperketat blokade.

Abdul Latif al-Qanou’ menyampaikan hal itu pada Selasa (15/8/2017), untuk mereaksi pembangunan dinding bawah tanah di sekitar Gaza oleh rezim Zionis Israel. Menurutnya, tindakan tersebut bertujuan untuk memprovokasi kubu perlawanan.

Al-Qanou’ menegaskan bahwa pembangunan dinding di sekitar Jalur Gaza tidak akan membawa keamanan bagi Israel.

Militer rezim Zionis sejak beberapa bulan lalu telah memulai pembangunan dinding permukaan dan bawah tanah raksasa di sepanjang perbatasan antara Jalur Gaza dan Palestina pendudukan.

Menurut laporan media-media Israel, dinding beton tersebut memiliki panjang sekitar 64 kilometer dan pembangunannya menelan biaya miliaran dolar.

Dalam beberapa tahun terakhir, Israel mencanangkan proyek pembangunan tembok di perbatasan dengan Mesir, Dataran Tinggi Golan Suriah, dan di sebagian perbatasannya dengan Yordania.

Sebenarnya, proyek pembangunan yang terus dikebut Israel di daerah perbatasan merupakan indikasi dari kegagalan rezim Zionis dalam mewujudkan ilusi yang disebut “Israel Raya.”

Dalam pandangan para pejabat Tel Aviv, tembok pembatas dan pemukiman Zionis merupakan sarana untuk menetapkan garis-garis perbatasan rezim penjajah tersebut.

Transformasi Palestina menunjukkan bahwa semua langkah yang diambil Israel di wilayah pendudukan tidak berguna dan untuk itu, mereka memutuskan pembangunan tembok di perbatasan Palestina pendudukan dan memagari dirinya sendiri dengan dinding-dinding beton.

Israel dengan membangun tembok-tembok rasis ingin mengejar kebijakan yang berpijak pada rasialismenya di wilayah Timur Tengah. Tujuan itu dikejar dengan memperketat blokade wilayah Palestina, mencaplok daerah-daerah baru, dan mempertegas pendudukannya di tanah Palestina.

Pembangunan dinding bawah tanah merupakan tindakan provokasi lain Israel terhadap rakyat Palestina, yang selalu berada di bawah kebijakan brutal rezim Zionis.

Kebangkitan Islam di Timur Tengah dan gelora Intifada Palestina telah menyeret Israel di ambang sebuah bahaya yang belum pernah terjadi sebelum ini. Oleh sebab itu, para pejabat Tel Aviv menempuh kebijakan isolasi diri di balik dinding-dinding beton. Namun, rezim yang terus melakukan kejahatan dan kekerasan serta melanggar HAM, tidak akan memperoleh rasa aman di balik dinding tersebut, terlebih di tengah situasi regional yang sulit diprediksi.

Mahmoud Abbas

Mahmoud Abbas Masih Ancam Jalur Gaza
Ketua Otorita Ramallah, Mahmoud Abbas kembali mengancam akan menerapkan hukuman lebih besar kepada Jalur Gaza.

Pusat Informasi Palestina melaporkan, Mahmoud Abbas Selasa (15/8) saat bertemu dengan anggota Gerakan Fatah di Tepi Barat menyatakan, selama para pemimpin Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas) tidak mundur dari langkah mereka, Otorita Ramallah akan melanjutkan hukuman terhadap Jalur Gaza.

Abbas menjelaskan, para pemimpin Hamas harus membubarkan komisi administratif dan mempersiapkan aktivitas pemerintahan Rami Hamdallah, perdana menteri Palestina serta sepakat dengan penyelenggaraan pemilu parlemen.

Sementara itu, Hamas sebelumnya menyatakan akan membubarkan komisi administratif yang mereka bentuk jika pemerintah Rami Hamdallah aktif di Gaza serta menjalankan seluruh tanggung jawabnya dan Otorita Ramallah menghentikan hukuman kepada wilayah ini.

Otorita Ramallah menggunakan beragam metode untuk menekan Hamas demi memaksa gerakan muqawama tersebut menyelenggarakan pemilu baru. Di antara metode tersebut adalah mengurangi gaji pegawai, menghentikan ijin pengiriman pasien ke luar negeri, menurunkan pasokan listrik ke Gaza serta memecat secara paksa ribuan pegawai di Jalur Gaza. (ParsToday)

Share artikel ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Masukan kode dibawah Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.