Tantangan Membuktikan Kebenaran Al Qur’an

Tantangan Membuktikan Kebenaran Al Qur’an

Oleh: Agus Mustofa, Penulis buku-buku “Serial Diskusi Tasawuf Modern”

 

Segala puji bagi Allah, Sang Maha Berkuasa dan Maha Berkehendak. Yang kekuasaan-Nya tidak ada yang membatasi, dan kehendak-Nya tidak ada yang bisa menghalangi. Dialah Allah yang selalu mengaruniakan rahmat kepada seluruh makhluk-Nya. Rasa syukur yang mendalam kita panjatkan kepada-Nya memasuki hari ke-22 ini: Alhamdulillahirrabbil’alamin.

Suatu ketika saya kedatangan seorang tamu berkebangsaan Australia: Prof. Merle Calvin Ricklefs, PhD. Doktor lulusan Cornell University Aussie dan guru besar di National University of Singapore itu datang bertamu ke rumah saya di Surabaya ditemani seorang dosen UIN Sunan Ampel, Dr. Masdar Hilmy M.A.

Prof. Ricklefs adalah seorang orientalis yang menyusun sejumlah buku tentang dinamika pemikiran Islam di Indonesia. Ia mewawancarai dan berdiskusi dengan saya selama sekitar 2 jam untuk memahami pemikiran saya tentang keislaman, yang dianggapnya ikut mewarnai khazanah pemikiran Islam di Indonesia. Dan kemudian, sebagiannya dia tuliskan di dalam salah satu karyanya yang terbit tahun 2013: “MENGISLAMKAN JAWA, Sejarah Islamisasi di Jawa dan Penentangnya dari 1930 Sampai Sekarang”.

Saya teringat dia, karena sedang membahas keimanan kepada Al Qur’an sebagai sumber petunjuk. Sebagai seorang ilmuwan sejarah, dia melancarkan banyak pertanyaan skeptis kepada saya. Diantaranya tentang keotentikan Al Qur’an sebagai kitab suci umat Islam.

“Dalam pandangan saya, Pak Agus ini seorang pemikir muslim yang tekstual sekaligus kontekstual. Analisis Anda selalu berdasar kepada teks-teks Al Qur’an, sekaligus berpijak pada pemikiran modern yang berbasis pada logika dan rasionalitas. Berbeda dengan pemikiran mainstream Islam yang lebih banyak bersandar secara tekstual.” Dia memberikan opininya panjang lebar.

“Tapi, terkait dengan pendekatan tekstualnya, apakah Pak Agus bisa membuktikan kepada kita semua bahwa Al Qur’an ini benar, dan memang wahyu Tuhan, sehingga bisa dijadikan rujukan?” tanyanya. Sebuah pertanyaan skeptis, khas seorang orientalis.

Saya langsung teringat kepada ayat-ayat Al Qur’an dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan semacam ini, yang meragukan keotentikannya sebagai wahyu Allah. Yakni, dengan membuat statement tegas, sekaligus mengembalikan pertanyaan itu kepada si penanya untuk membuktikan skeptisismenya.

Di satu sisi, Al Qur’an mengklaim dirinya sebagai kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya, dan dijamin oleh Allah sendiri keasliannya. “Inilah Kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya.” [Qs. Al Baqarah(2): 2]. “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al Qur’an, dan sesungguhnya Kamilah yang memeliharanya.” [Qs. Al Hijr (15): 9].

Di sisi lain, Al Qur’an membuka diri untuk diteliti dan dikritisi. Salah satunya, yang disodorkan adalah bukti bahwa ayat-ayat Al Qur’an itu tidak ada pertentangan di dalamnya. Itu menjadi bukti bahwa Al Qur’an bukanlah bikinan manusia. “Maka apakah mereka tidak memperhatikan (meneliti) Al Qur’an? Seandainya Al Qur’an itu bukan dari Allah, pastilah mereka akan mendapati banyak pertentangan di dalamnya.” [Qs. An Nisaa’ (4): 82]

Maka, atas pertanyaan Prof Ricklefs itu pun dengan santai saya mengatakan begini: “Soal kebenaran Al Qur’an saya tidak ingin membuktikan apa-apa kepada siapa pun. Karena, bagi orang-orang yang memilih untuk tidak percaya (skeptis-pesimistik), meskipun saya sudah menjelaskan panjang lebar, tetap saja mereka tidak akan percaya. Jadi, buat apa? Sekarang, kita balik saja pembuktiannya. Silakan Pak Ricklefs yang membuktikan bahwa Al Qur’an ini banyak mengandung kesalahan dan bukan wahyu dari Allah. Mari kita diskusikan.” Tantang saya sambil tertawa.

Dan dia pun menyambut tantangan saya, hanya dengan tertawa..!

Share artikel ini

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Masukan kode dibawah Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.