Strategi Menangkal Radikalisme di Media Sosial

Depok, Obsessionnews.com –  Di tengah pertumbuhan media sosial yang semakin pesat di Indonesia justru malah banyak menimbulkan persoalan baru khususnya mengenai ‎persatuan bangsa. Mengapa? Karena melalui medsos banyak kalangan yang menyalahgunakannya untuk menebar kebencian, hujatan, hasutan, informasi hoax, serta paham radikal dengan leluasa.

Problem inilah yang dipikirkan oleh Komunikonten Institut Media Sosial dan Diplomasi dengan kembali menggelar diskusi publik dengan ‎tema “Kontribusi Kaum Muda Lewat Medsos untuk Mempromosikan Indonesia dan Menangkal Radikalisme” yang di adakan di Gedung MUI Kota Depok, Jawa Barat, Kamis (15/6/2017).

Melalui diskusi ini Komunikonten mencoba memecahkan berbagai persoalan di medsos untuk kemudian dicarikan solusinya. Hadir sebagai Narasumber, Sidiq Mulyono Kepala Dinas Kominfo Kota Depok, Hariqo Wibawa Satria, Direktur Eksekutif Komunikonten, ‎Irwan Kelana, Redaktur Senior Koran Republika, dan Elvan Dani Sutrisno, Wakil Pemimpin Redaksi Detik.com.

Sidiq mulai menjelaskan soal banyaknya berita hoax di masyarakat. Ia menilai di era digital ini masyarakat dibuat resah dan takut karena ulah sendiri. Mereka belum siap benar-benar untuk menggunakan medsos dengan bijak. Bahkan sebagian dari mereka senang membuat kegaduhan dengan menyebar berita hoax.  ‎

“Dengan kemajuan teknologi, semua orang memiliki whatsapp, android, sehingga orang-orang dengan mudah mendapatkan dan meforward berita. Padahal belum tentu benar. ‎
Contohnya, aktifitas geng motor yang sudah merebah di mana-mana itu sebenarnya hoax. Yang membuat hoax adalah kita sendiri,” ujar Sidiq.

Termasuk kata dia, isu atau berita yang menyangkut dengan radikalisme. Terkadang ia melihat informasi yang diterima oleh masyarakat tentang gerakan radikalisme terlalu berlebihan, sehingga membuat takut. Umumnya gerakan ini sangat masif mengunakan medsos sebagai alat propaganda. Maka gerakan ini harus bisa dilawan.

“Caranya bisa dengan memberikan pemahaman agama dengan baik, bahwa radikalisme adalah paham yang keliru. Tingkatkan lagi pendidikan karakter melalui empat pilar kebangsaan. Dan bisa juga daerah membuat Perda soal penggunaan internet,” jelasnya. ‎

‎Hariqo menjelaskan, meski pengguna internet di Indonesia begitu besar. Namun kesadaran orang Indonesia untuk memikirkan kepentingan nasional di medsos masih minim. Yang ada kata dia, medsos masih banyak diisi dengan konten-konten negatif berbau SARA yang berpotensi memecah kedaulatan bangsa.

“Kita belum punya tradisi bagaimana menggunakan medsos untuk kepentingan nasional, cinta NKRI. Misalnya mempromosikan potensi daerah, wisata, kuliner, atau tokoh-tokoh inspiratif di daerahnya,” ujar Hariqo.

Hariqo menginginkan kesadaran kolektif untuk mempromosikan potensi daerah bukan hanya dilakukan oleh masyarakat biasa. Tapi juga para tokoh, para elit, ataupun artis yang memiliki jumlah pengikut yang banyak di akun medsosnya. Hariqo miris, yang ada justru dijadikan lahan bisnis oleh mereka yang memiliki popularitas tinggi.

“Saya melihat tidak ada jiwa kesukarelawanan diantara kita. Banyak pelaku UMKM yang ingin menjual produknya tapi mereka tidak punya strategi untuk mempromosikannya. Sekali mau promosi diminta untuk bayar, padahal mereka baru memulai,” jelasnya.

Adapun soal isu-isu radikalisme yang marak di medsos, Hariqo menuturkan bahwa persoalan ini harus dihadapi dengan cara balik, yakni buat konten sebanyak-banyaknya tentang berita positif. ‎Sebab, di era digital ini, semua orang sudah  menjadi kantor berita di akun medsosnya masing-masing. Mereka bertanggungjawab dengan akun medsosnya.

“Semua orang sekarang sudah bisa menjadi kantor berita di akun media masing-masing. Kita sendiri yang memproduksi konten lalu menyebarkannya. ‎Karena itu, ‎rdikalisme itu berkaitan dengan konten, kita harus melawannya dengan konten pula. Radikalisme negatif tidak bisa dilawan, kecuali dengan membuat konten positif sebanyak-banyaknya,” terangnya.

Sementara itu, ‎Irawan lebih menekankan pada pemberitaan tentang radikalisme di media mainstrem. Ia menegaskan semua media yang sudah terdaftar di Dewan Pers punya tujuan sama menentang radikalisme. Karena itu, media punya peran penting untuk menyadarkan masyarakat dari paham radikal dengan menyajikan tayangan yang mendidik, dan inspiratif.

‎Elvan sendiri menambahkan, dengan banyaknya pengguna medsos disisi lain menjadi tantangan besar bagi bisnis media, bahwa persaingan semakin ketat karena setiap orang saat ini punya media masing-masing. Di level informasi hoax bisa menyebar dengan begitu bebas dan cepat.

“Jadi bedanya kalau medsos itu tidak punya kode etik. Kalau media resmi itu punya kode etik. Karena itu tugas kita adalah menangkal berita hoax yang bertebaran di masyarakat. Kita harus bisa benar-benar menyajikan berita-berita yang akurat dan juga mengandung manfaat untuk masyarakat,” tutupnya. (Albar).

Share artikel ini

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Masukan kode dibawah Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.