Setia Bertahan di Indonesia, Karier Jahja Setiaatmadja Melejit

Setia Bertahan di Indonesia, Karier Jahja Setiaatmadja Melejit
Jakarta, Obsessionnews – Kerusuhan massal yang melanda Jakarta dan kota-kota lain di Indonesia pada 27 Mei 1998, sungguh mencemaskan warga keturunan Tionghoa. Pasalnya, yang menjadi sasaran kebrutalan dalam kerusuhan massal itu adalah warga keturunan Tionghoa. Yang juga merasa cemas adalah Jahja Setiaatmadja. Saat itu Jahja menduduki posisi Kepala Divisi Treasury PT Bank Central Asia (BCA). Di satu sisi di tempat kerjanya Jahja disibukan oleh terjadinya rush. Berhari-hari dia harus kerja lembur, karena banyak sekali nasabah yang menarik dana simpanannya. Dan BCA harus sanggup memberikan pelayanan yang optimal, terutama menyediakan dana cash yang besar sekali nilainya. Di sisi lain Jahja memikirkan keselamatan keluarganya. Terus terang, peristiwa 27 Mei 1998 mengganggu ketentraman hidup keluarganya. Sebenarnya tidak ada anggota keluarganya yang menjadi korban tragedi yang mengerikan tersebut. Tetapi, sebagai warga keturunan Tionghoa yang merasa dijadikan sasaran keberingasan dalam kerusuhan massal, Jahja sangat cemas. Dia khawatir situasi dan kondisi makin tak terkendali, dan keluarganya akan mejadi korban berikutnya. Beberapa temannya yang sesama warga keturunan Tionghoa telah memutuskan untuk bereksodus, meninggalkan Jakarta menuju ke luar negeri untuk sementara waktu maupun seterusnya, demi mendapatkan ketenangan, keamanan, atau keselamatan. Jahja tergoda untuk mengikuti teman-temannya yang eksodus ke luar negeri. Dia merencanakan pindah ke Australia. Mengapa Jahja memilih Australia? Dalam buku biografinya yang berjudul Sang Dirigen, Perjalanan Jahja Setiaatmadja Hingga Menjadi CEO BCA, ia menjelaskan alasannya. Dia mengatakan, Australia menerapkan persyaratan yang cukup ringan bagi pendatang yang ingin menjadi warga di sana. Persayaratan itu antara lain usia yang masih produktif (belum 50 tahun), berpendidikan tinggi, dan memiliki keahlian di bidang tertentu. Selain itu, punya pekerjaan atau jabatan yang cukup tinggi di negara asalnya, dan sanggup membayar biayanya dalam jumlah yang ditetapkan. Jahja merasa memenuhi persyaratan yang ditentukan, karena saat itu usianya hampir 43 tahun, memiliki keahlian dan jabatan di bidang keuangan, serta mampu menyediakan biayanya. Keinginannya pindah ke Australia dengan mengajak keluarganya itu kemudian ia sampaikan kepada istrinya, Winny Setiaatmadja. Di luar dugaannya, ternyata Winny menolak. Pada saat itu Winny dituntut untuk bisa menenangkan hati suaminya yang cemas. Dia harus berusaha menguatkan Jahja untuk tegar bertahan tinggal di negara tempat mereka lahir, besar, mengenyam pendidikan, berkarya, menikah, lalu membangun rumah tangga bersama. Winny berpikir dalam hati, bukankah selama ini hidup yang mereka jalani bersama (sampai sebelum peristiwa kerusuhan itu) semuanya baik-baik saja? Bukankah selama ini mereka juga selalu bersyukur karena menerima berbagai berkat kemurahan Tuhan? Haruskah memilih melarikan diri ketika suatu peristiwa yang menakutkan tiba-tiba terjadi? Paling tidak ada dua alasan yang diajukan Winny dalam dialog dari hati ke hati dengan Jahja. Pertama, tidak seperti suaminya yang boleh dibilang hanya seorang diri karena kedua orang tuanya telah meninggal dunia, tidak memiliki saudara kandung atau hanya mempunyai saudara sepupu jauh, Winny masih memiliki orang tua dan saudara-saudara yang menetap di Indonesia. Winny merasa berat hidup jauh di negara lain, dengan meninggalkan orang tua dan saudara-saudaranya. Ia mencintai mereka. “Ke luar negeri, sih, oke saja. Namun, untuk jalan-jalan atau wisata, bukan untuk tinggal menetap di sana,” kata Winny. Winny sanggup bertahan tinggal di Indonesia, termasuk dalam situasi kerusuhan massal. Ia mencintai Indonesia. Ia aktif dalam kegiatan sosisal, membantu anak yatim piatu di Panti Asuhan Parapatan. Alasan kedua adalah realitas kehidupan yang Winny dan suaminya jalani selama ini terasa cukup mudah, ataupun kalau ada kesulitan masih bisa diatasi. Buktinya, karier dan jabatan Jahja boleh dibilang selalu meningkat meski harus bekerja keras. Kedua putri mereka, Ariestia Melawaty Setiaatmadja dan Enrica Ariestia Prinatalia Setiaastmadja, mendapatkan pendidikan yang baik, dan kehidupan mereka sejahtera. Winny mengakui sedalam-dalamnya bahwa semua itu lebih karena kemurahan Tuhan, bukan semata-mata usaha suami dan dukungannya sebagai istri. Winny merenungkan permasalahan yang mereka hadapi dan dibawanya ke dalam doa. Bahkan Winny memilih waktu untuk bisa lebih khusuk dalam berdoa, yakni pada malam hari ketika suasana benar-benar sunyi. Dia juga membaca Alkitab, menerungkan dan mendapat jawaban,”Diamlah di negeri di mana pun engkau berada. Aku akan menyertaimu.” Berpatokan pada firman tersebut, Winny menunjukkan kepada Jahja sepertinya Tuhan telah menjawab keragu-raguan mereka untuk pindah ke Australia. Akhirnya Jahja berkata,”Tuhan menginginkan kita untuk tinggal di Indonesia, untuk memberkati sanak saudara dan orang-orang yang membutuhkan pertolongan.” Ya, Winny memang berhasil meyakinkan Jahja untuk bertahan di Indonesia. Jahja merasa sangat beruntung memiliki istri yang demikian teguh imannya, dan mampu mencerahkan perasaannya yang dibayang-bayangi rasa takut dan cemas. Berkat alasan-alasan yang dikemukakan sang istri, Jahja bersemangat lagi untuk meneruskan kerja kerasnya, dan mulai melupakan ide untuk pindah ke Australia. Jahja juga mendorong istrinya untuk terus terjun dalam kegiatan sosial, tanpa melupakan perannya sebagai ibu rumah tangga. Keputusan Jahja dan Winny untuk tetap tinggal di tanah tumpah darah mereka membawa berkah. Sekitar satu setengah tahun setelah peristiwa 27 Mei 1998, Jahja diangkat menjadi Direktur BCA (sejak 29 Desember 1999), dan kemudian pada 2011 menjadi Presiden Direktur BCA. Melejitnya karier Jahja itu selain karena kemampuan dan prestasi kerjanya, juga seperti balasan atas kesetiaannya bertahan di Indonesia dan di BCA. Seandainya keluarga ini bermigrasi, mungkin Jahja harus memulai kariernya dari awal lagi. Pelajaran yang bisa dipetik dari peristiwa 27 Mei 1998 adalah, bahwa perjalanan hidup ini memang tidak selamanya berlangsung dengan lancar dan mulus. Lebih dari itu, hidup ini harus pula diartikan sebagai karunia Tuhan yang paling berharga bagi manusia. Sebab, hanya pada waktu masih hidup seseorang dapat berpikir dan kemudian melakukan banyak kebaikan dan kebajikan sebagaimana kehendak Tuhan. (arh)Baca juga:Jahja Setiaatmadja Raih Indonesia Most Admired CEO 2015Jahja Setiaatmadja Top National Banker 2015Jahja Setiaatmadja Raih Marketeer of The Year 2015Presdir BCA Jahja Setiaatmadja CEO Pilihan Bisnis Indonesia Award 2015