Rita Widyasari Bukan Pemimpin Biasa

Rita Widyasari Bukan Pemimpin Biasa

Dua kali memenangkan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, cukup untuk menyimpulkan bahwa Rita Widyasari adalah seorang pemimpin yang sangat dicintai rakyatnya. Selama kepemimpinannya, perempuan kelahiran Tenggarong, 7 November 1973 ini telah memberikan banyak kemajuan bagi Kutai Kartanegara (Kukar).

Kemampuannya memimpin, tak lepas dari kekuatan talenta leadership dalam dirinya plus gaya keibuan dalam mengayomi rakyatnya. Hal itu, membuatnya memiliki nilai tersendiri di hati masyarakat. Ia, mewariskan ketegasan dan keberanian berkorban dari ayahnya yang sebelumnya menjadi Bupati Kukar yakni HR Syaukani. Itulah yang menjadikan rakyat kagum dan segan meski ia seorang perempuan.

Tapi lepas dari semua itu, lingkungan kehidupan berorganisasi dan berpolitik yang pernah ia lalui bersama Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) dan Partai Golongan Karya, juga berperan besar dalam mematri sikap kritis, cerdas dan watak pantang menyerah dalam memimpin.

Dengan bekal itu, ia sukses meniti pembangunan di Kukar di era pertama kepemimpinannya dan dilanjutkan di kepemimpinannya yang kedua saat ini. Sampai kemudian fakta berbicara bahwa hampir semua bidang kehidupan di Kukar mengalami kemajuan di bawah kepemimpinannya.

Sebutlah misalnya, Indek rata-rata Kutai Kartanegara diakui negara menjadi yang terbaik di Indonesia dan Kukar kembali dihadiahi dua penghargaan sekaligus yakni penghargaan Indonesia’s Attractiveness Award 2016 ketegori kabupaten terbaik. Rita Widyasari menerima penghargaan itu langsung dari Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara.

Rita juga berhasil memboyong penghargaan kabupaten tebaik pembangunan daerah per koridor MP3EI (Kalimantan) dari Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (MenPAN-RB) Asman Abnur.

Karena itulah, ketika momentum perhelatan Pemilihan Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim) 2018 rakyat Kaltim yang direpresentasikan oleh partai politik di provinsi tersebut, melirik keberadaannya. Merekak meyakini Rita sebagai figur tangguh yang layak memimpin Kaltim.

Hal itu, tentu saja menjadi tantangan tersendiri bagi Rita. Ketua DPD I Golkar Kalimantan Timur, ini mulai menjadi perhatian serius sejumlah partai. Tingkat kepuasan masyarakat selama dua periode plus sederet prestasi dan penghargaan yang diperoleh, adalah alasan mengapa banyak partai sangat memperhitungkannya. Dengan kata lain, masyarakat Kaltim sangat menunggu kiprahnya sebagai kepala daerah tingkat provinsi. Karena Rita memang bukan pemimpin biasa.

Kepercayaan Dunia Kepada Kukar

Di sektor pariwisata, Pemerintahan Kabupaten Kutai Kartanegara kembali menorehkan prestasi gemilang, karena berhasil mendatangkan wisatawan mancanegara ke Indonesia dengan agenda tahunan yakni Festival Adat Budaya Erau Kutai Kartanegara yang sudah masuk agenda nasional. Keberhasilan tersebut membuahkan hasil dengan dinobatkannya Erau sebagai Festival Budaya Terpopuler di Indonesia dalam ajang Anugerah Pesona Indonesia (API). Dan Menteri Pariwisata RI Arief Yahya menyerahkan penghargaan bergengsi tersebut kepada Bupati Kukar Rita Widyasari.

Bahkan, Kukar sendiri ditunjuk sebagai tuan rumah kongres dunia ke-47 International Council of Organizations of Folklore Festivals and Folk Arts (CIOFF), yang akan dihadiri 120 negara berkumpul di Tenggarong pada Oktober 2017 mendatang. Dalam kongres CIOFF di Italia, Rita menyampaikan terima kasih atas ditetapkannya Tenggarong Kukar sebagai tuan rumah kongres dunia CIOFF ke-47 tahun 2017.

Menurut Rita, hadirnya kongres dunia CIOFF di Tenggarong, sejalan dengan upaya Pemkab untuk mengangkat budaya Kalimantan pada pertemuan tingkat dunia, serta merupakan peluang yang baik untuk membangun interaksi internasional terhadap isu budaya level nasional maupun internasional.

Komitmen Tinggi di Dunia Pendidikan

Bagaimana dengan pendidikan? Di sektor pencerdasan anak bangsa ini Rita juga beroleh apresiasi. Menteri Pendidikan Kebudayaan RI Prof Dr Muhadjir Effendy menganugerahi Kukar dengan penghargaan “Kawastara Pawitra”. Artinya, Rita adalah kepala daerah yang berkomitmen tinggi dalam mengimplementasikan Permendiknas No.28/2010 tentang penugasan guru sebagai kepala sekolah/madrasah utamanya penyiapan calon kepala sekolah. Dan tentunya memberikan pendidikan gratis yang berkualitas bagi masyarakat.

Di sisi lain, Rita Widyasari kembali juga menerima penghargaan Dwija Praja Nugraha Nugraha dari Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) yang diserahkan oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifudin pada puncak acara peringatan Hari Guru Nasional (HGN) 2016 dan HUT PGRI ke-71 di Sentul International Convetion Center (SICC). Penghargaan tersebut diberikan sebagai penghormatan atas perhatian dan komitmen bupati terhadap guru, keberadaan PGRI di daerah dan pendidikan di Kukar.

Peraih PhD (doktor of philosophy) dari Universitas Utara Malaysia (UUM), ini pendidikan adalah pintu gerbang dalam pembangunan kabupaten yang dipimpinnya. Untuk itu ia bertekad melaksanakan berbagai program kegiatan pendidikan yang tangguh di daerahnya. Tak heran kalau kemudian Kukar telah menjadi kabupaten pertama se Kalimantan Timur yang menerapkan wajib belajar 12 tahun. Kualitas para guru yang merupakan ujung tombak pendidikan di Kukar menjadi perhatian yang utama bagi bupati wanita pertama di Kalimantan Timur ini.

Menariknya, Rita tidak segan-segan membagikan gadget berupa laptop kepada setiap guru yang ada di Kukar. Bahkan, bagi guru yang belum mendapatkan rumah, diperjuangkannya. “Tahun ini satu rumah bagi guru yang belum mendapatkan rumah, karena ternyata ada 7 ribu guru yang belum memiliki rumah dari 13 ribu guru yang ada. Insya Allah Desember ini bisa terlihat hasilnya,” ujar Rita yang akrab disapa Bunda oleh rakyatnya.

Rita juga memberikan insentif yang sangat menarik dengan menaikan tiga kali kenaikan insentif untuk guru-guru yang bersedia mengajar di sekolah-sekolah terpencil yang banyak tersebar di berbagai tempat di Kabupaten Kukar. Dengan kenaikan insentif ini diharapkan menjadi salah satu pemicu para guru di tempat terpencil agar dapat nyaman dalam bekerja.

Program sekolah gratis hingga SMA yang sudah dijalankan sejak era kepemimpinan HR Syaukani terus ditingkatkannya. Bagi mereka yang kuliah diberikan beasiswa dengan syarat IP-nya harus minimal 2,8. Sehingga tidaklah heran bila Kukar menjadi kabupaten yang paling besar se Kalimantan Timur dalam menyediakan anggaran Beasiswa.

Untuk meningkatkan kualitas guru dan murid, Rita bahkan mengundang Cambridge University datang ke Kukar agar dapat melihat apa yang dibutuhkan dalam membangun pendidikan di Kutai Kartanegara. Bagi Rita penguasaan bahasa Inggris bagi para guru dan murid di Kukar menjadi hal yang sangat penting. “Bukan untuk sekadar gagah-gagahan. Saya ingin memberikan pendidikan yang baik karena Kukar ingin menjadi destinasi pariwisata. Sehingga Bahasa Inggris tidak lagi menjadi bahasa asing, tapi sudah menjadi bahasa kedua kita seperti Bali,” jelas ibu dari Dhafin, Khalda, dan Khansa ini.

Rita berharap kelak Kukar dapat menjadi kota pendidikan, seperti Malang, Yogyakarta, dan Bandung. Di Kukar sendiri saat ini telah hadir dua universitas yakni Unikerta yang tahun ini akan menjadi universitas negeri, serta Universitas Seni dan Budaya.

Rakyat Sehat untuk Kukar yang Hebat

Di bidang kesehatan tak perlu dipertanyakan lagi. Banyak hal dilakukan Rita. Bukan lagi membangun ratusan Puskesmas dan pendukungan kesehatan ibu dan anak lainnya, tapi juga membangun rumah sakit-rumah sakit berkelas “bintang” yang bisa diakses rakyat dengan mudah.

Bahkan belum lama ini Presiden RI Joko Widodo yang berkunjung ke Kukar dan memuji pembangunan sarana air bersih yang saat ini sudah bisa dinikmati masyarakat setempat.

Salah satu keberhasilan yang sangat membanggakan yaitu diterimanya penghargaan dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kementerian PANRB) RI kepada Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Parikesit Tenggarong sebagai Role Model Penyelenggaraan Pelayanan Publik dengan katagori Sangat Baik. Selain penghargaan tersebut RS AM Parikesit merupakan RS dengan zona Integritas wilayah bebas Korupsi (ZIWBK) dari Kemenpan RB dan KPK. Saat ini menurutnya RSUD AM Parikesit direkomendasikan oleh Kementerian PANRB RI sebagai RS percontohan bagi RS lain di Indonesia.

“Alhamdulillah, RSUD AM Parikesit sebagai Role Model Penyelenggaraan Pelayanan Publik dengan kategori Sangat Baik. Ini salah satu keberhasilan, sehingga APKASI menugaskan saya untuk menjadi narasumber pada rakor APKASI regional Bali, NTB, dan NTT untuk berbagi pengalaman,” kata Rita. Dalam paparannya dengan judul Keberhasilan Pemerintah Daerah Dalam Pengelolaan Bidang Kesehatan di Kabupaten Kutai Kartanegara, Rita mengatakan luas wilayah Kukar sendiri mencapai 27 ribu kilometer persegi dengan penyebaran penduduk tersebar di wilayah hulu. Dengan luas wilayah tersebut strategi peningkatan kualitas pelayanan kesehatan yang dilakukannya dengan membangun 3 rumah sakit, 1 buah rumah sakit 1 bertipe B+ RSUD AM Parikesit yang berada di Kota Tenggarong, dan 2 RS tipe C 1 RS Tanpa kelas RSU Dayaku Raja di Kecamatan Kota Bangun, dan RSU Aji Barata Sakti di Kecamatan Samboja dengan Akreditas Madya.

Kukar memiliki wilayah sangat luas, 3 RS yang ada akan melayani masyarakat di tiga wilayah yaitu wilayah pantai, tengah, dan hulu. Masyarakat Kukar yang berada di wilayah hulu bisa ditangani di RS Dayaku Raja di Kecamatan Kota Bangun.

Selain membangun 3 RS, dalam bidang pelayanan kesehatan Kukar juga memliki 32 puskesmas yang berstandar ISO 14 puskesmas, 3 berkatagori akreditas utama, dan 2 berakreditas Madya, 175 Puskesmas Pembantu, 56 Polindes, dan 646 Pos Yandu yang tersebar di 18 kecamatan.

Selain pemenuhan sarana dan prasarana kesehatan, dalam strategi peningkatan akses dan kualitas pelayanan ia juga membuat program 1 desa 1 bidan dan 1 perawat. “Saya berharap keberhasilan Pemerintah Kukar dalam pengelolaan bidang kesehatan, akan berdampak pada peningkatan kesehatan bagi masyarakat Kukar secara keseluruhan, dan menjadi masukan bagi daerah lain,” harap Rita lagi. Rita yakin, masyarakat sehat akan menjadikan Kukar yang hebat.

Keteladanan Rita dalam memimpin pembangunan semakin diperkuat ketika ia menerima penghargaan dari Ombudsman Republik Indonesia (ORI) atas kepatuhan zona kuning atau sedang/menengah dalam standar pelayanan publik sesuai Undang-undang No.25/2009 tentang pelayanan publik tahun 2016.

Kukar secara nasional juga dinilai sukses dalam menerapkan pembangunan zona Integritas, Independensi dan Profesionalisme menuju Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) diraih RSUD AM Parikesit Tenggarong. Penghargaan WBK tersebut diserahkan langsung Menteri Pendayaguaan Aparatur Negara Reformasi Birokrasi (MenPAN-RB RI) Asman Abnur kepada Direktur RSUD AM Parikesit Tenggarong dr Martina Yulianti didampingi Sekda Kukar H Marli bersama 19 Institusi pemerintahan dari ratusan kabupaten/kota di Indonesia.

Peraih penghargaan sebagai Kepala Daerah Terbaik atau Best Achiever in Government dalam ajang Obsession Awards 2017 dan Women’s Obsession Awards 2017 di Hotel Dharmawangsa, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis 30 Maret 2017, ini membuktikan keseriusannya membawa Kukar yang bebas dari kolusi, korupsi dan nepotisme. Terbukti empat tahun berturut-turut, misalnya, Pemkab Kukar mendapat penilaian opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK RI).

Pemkab Kukar juga meraih penghargaan Adipura. Sementara Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) Kukar berada di peringkat ke-10 se-Indonesia, padahal dari sebelumnya jauh di peringkat ke-151.

Tahun lalu, Pemkab Kukar kembali meraih penghargaan dari Kemenpan RB dalam hal Laporan Akutanbilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP), dengan skor 66,10, lebih tinggi dari LAKIP 2015 yang memperoleh skor 65.

Evaluasi LAKIP tahun 2016 yang diraih Pemkab Kukar masuk dalam klasifikasi nilai B, dan merupakan yang tertinggi di Provinsi Kaltim. Rita bertekad tahun ini nilainya mencapai klasifikasi A. (Rudi Rais dari berbagai sumber)

Share artikel ini

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Masukan kode dibawah Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.