Rektor Inspiratif 2017 Versi Men’s Obsession: Joni Hermana Tak Hanya Transfer of Knowledge, Tapi Juga Transfer of Value

Rektor Inspiratif 2017 Versi Men’s Obsession: Joni Hermana Tak Hanya Transfer of Knowledge, Tapi Juga Transfer of Value
Rektor ITS Prof. Ir. Joni Hermana, MScEs., Ph.D. (Foto: Sutanto/Men's Obsession)

Sejak dipercaya menjadi Rektor Institut Sepuluh Nopember Surabaya (ITS) pada 2015 lalu, berbagai gebrakan telah dilakukan Prof. Ir. Joni Hermana, MScEs., Ph.D. Maka tak ayal, berbagai penghargaan baik dari dalam dan luar negeri diraih ITS.

Kini, pria kelahiran Bandung, 18 Juni 1960 ini berkomitmen mempersiapkan kampusnya menjadiP PerguruanTinggi Negeri Badan Hukum (PTN BH) terbaik di Indonesia.

Perjalanankarir Joni sebelum menjadi orang nomer wahid di ITS terbilang panjang, pada 1986, setelah menyelesaikan pendidikannya di Institut Teknologi Bandung (ITB), pria rendah hati dan humble ini menjadi dosen di ITS. Pada 1989, Joni kembali ke Belgia untuk melanjutkan program magister. Ia mendapatkan beasiswa pada bidang studi Sanitasi Lingkungan University of Ghent, Belgia.

Dua tahun berselang, ia pulang ke Indonesia dan melanjutkan tugas sebagai dosen di ITS. Setahun Joni mengajar, terbersit keinginan untuk melanjutkan pendidikan hingga meraih gelar doktor.

Akhirnya, melalui beasiswa Asian Development Bank (ADB), ia menempuh S-3 di University of Newcastle, UK. Lulus S-3 pada 1997, Joni dan keluarga kembali ke Surabaya. Ia mulai mengajar dan tentu mengembangkan Jurusan Teknik Lingkungan hingga menjadi Ketua Program Studi S-2 Teknik Lingkungan.

Karirnya terus melejit. Joni kemudian menjadi Wakil Dekan I pada 2003, lalu menjadi Dekan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan pada 2007. Puncaknya, pada 2015 iad dipercaya menjadi Rektor ITS periode 2015/2019.

Saat menjadi Rektor, Joni menerapkan konsep transfer of value dalam proses pendidikan di ITS.

“Saya melihat di Indonesia itu banyak orang pintar, tapi kemudian kepintaran itu digunakan untuk mengakali orang lain. Ketika saya menjadi Rektor, saya memiliki misi harus dapat mengubah attitude seperti itu, jadi tak hanya transfer of knowledge, tapi juga transfer of value dengan membangun soft skills, yakni Emotional Quotient, Spiritual Quotient, Creativity Quotient, dan Adversity Quotient, ” tandas ayah empata anak ini.

Tak hanya itu untuk menciptakan generasi yang unggul, Joni pun menerapkan sistem pendidikan leading by example.

“Kalau mahasiswa teknik hanya dididik bidang keteknikan saja, saya khawatir akan menjadi tukang, saya tidak mau seperti itu. Saya ingin mereka menjadi leader, punya jiwa leadership, entrepreneurship, dan akhlak yang bagus. Caranya pendidik harus bisa menjadi contoh,” urainya.

Beragam penghargaan telah ditorehkan ITS sepanjang 2016. “Mahasiswa kita menjuarai tidak kurang dari 620 kejuaraan baik nasional maupun internasional. Padahal targetk kita hanya 250,” akunya.

Di antaranya penghargaan yang diterima ITS adalah Peringkat 2 sebagai Univeritas Terhijau di Indonesia tahun 2016 – UI Green Metric World Ranking, Indonesia GreenA Awards 2016 kategori Green Campus, Mawapres Nasional Kategori Diploma tahun 2016 dan kategori Sarjana tahun 2015, Juara ke 3 dan 4 Pekan Ilmiah Nasional (PIMNAS) tahun 2015 dan 2016, Peringkat 5 PT Terbaik Indonesia versi Kemenristekdikti tahun 2015, serta Peringkat 5 Keterbukaan Informasi Badan Publik oleh Presiden RI.

“Kita juga meraih Best Education & Lecuring Program of the Year Indonesia Education Award 2017,” imbuh Joni.

Perolehan terbaik kedua sebagai Perguruan Tinggi Negeri Badan Layanan Umum (PTNBLU) dalam pelaksanaan program kegiatan dan anggaran Semester II tahun Anggaran 2016 dari Menristek Dikti pada Januari lalu, serta Peringkat Protokol Terbaik 1 untuk Kategori PTN BH dari Kemenristekdikti ternyata belum cukup bagi Joni. Ia pun kini berkomitmen mempersiapkan kampusnya menjadi PTN BH terbaik di Indonesia.

“Jadi kita fokuskan pada dua hal, yakni memberikan kontribusi nasional dalam hal ini inovasi sains dan teknologi yang kita hasilkan betul-betul berdasarkan kebutuhan dan diaplikasikan untuk masyarakat, kedua mengangkat marwah Indonesia di level internasional melalui publikasi ilmiah,” paparnya.

Semuanya diawali dengan komitmen yang kuat dan fokus dalam memperbaiki aspek penilaian PTN BH terbaik. Aspek yang dinilai antara lain tingkat kepatuhan pelaporan kontrak, tingkat capaian kontrak kinerja, capaian realisasi BP PTN BH, capaian fisik dan anggaran output gaji dan tunjangan dari APBN yang dilaporkan dalam Sistem Informasi Monitoring dan Evaluasi (SIMonev).

“Saat ini ITS telah mengembangkan sistem SIMonev yang berbasis IT sehingga paperless dan cashless,” imbuhnya.

Tidak hanya itu, fasilitas dan tunjangan yang dibutuhkan pun turut diperbaiki. “Strategi yang tidak kalah penting adalah mengubah perilaku dan pola pikir. Karena PTN BHb berbedadengan PTN BLU,” ungkap Joni.

Joni pun mewajibkan seluruh dosen agar melakukan publikasi. Publikasi tersebut diharapkan dapat mendongkrak peringkat ITS dalam bersaing dengan sepuluh PTN lainnya yang berstatus sama.

“Sepanjang 2016, kita memproduksi publikasi ilmiah internasional sekitar 704, padahal sejak ITS berdiri tahun 1960- 2015, produksi kita itu hanya 1.500. Sekarang rankingk kita ke-5 untuk publikasi internasional se-Indonesia,” kata Joni.

Namun Joni menyesalkan, Indonesia adalah negara besar dengan 250 juta penduduk, tetapi dari segi performance universitas, publikasi ilmiahnya jauh di bawah Malaysia, Thailand, apalagi Singapura. “Karenanya tahun ini saya menargetkan ITS bisa menghasilkan 1.000 publikasi,” tegasnya.

Joni menggarisbawahi meskipun menjadi PTN BH, pihaknya belum berencana menaikkan Uang Kuliah Tunggal (UKT) lantaran pemasukan perguruan tinggi bukan hanya dari mahasiswa. “Dengan otonomi yang diberikan, kita harus mampu melakukan terobosan. Karena itu, saya mendorong para civitas akademika terutama dosen untuk mencari sumber yang lain. Sumber kita selain mahasiswa kan banyak, misalnya kerjasama dengan pihak ketiga, industri, perusahaan baik dalam dan luar negeri, kita juga bisa berkompetisi mendapatkan hibah internasional, kuncinya kan tinggal harus kreatif,” paparnya.

Meskipun baru saja menyandang status PTN BH, Joni tetap optimis untuk meraih penghargaan tersebut. “Saya yakin ITS bisa menjadi salah satu PTN BH terbaik di Indonesia,” tegasnya.

Pesan Joni, seluruh civitas akademica ITS bertanggung jawab untuk menjadikan kampus perjuangan ini lebih baik lagi. Dan bersatu untuk mempertahankan apa yang telah dicapai saat ini. Karena pada prinsipnya, kata Joni, mempertahankan lebih susah daripada meraih.

Menutup pembicaraan, Joni menuturkan obsesinya, “Saya ingin menyelesaikan tugas saya sebaik-baiknya, husnul khotimah hingga 2019. Saya sudah membentuk sistem organisasi dan manajemen PTN BH secara baik, sehingga nanti siapa pun penerusnya tinggal menjalankan saja,” pungkasnya. (Giattri F.P.)

 

Share artikel ini

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Masukan kode dibawah Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.