Rektor Inspiratif 2017 Versi Men’s Obsession: Dwia Ariestina Pulubuhu, Srikandi Pendidikan dari Timur

Rektor Inspiratif 2017 Versi Men’s Obsession: Dwia Ariestina Pulubuhu, Srikandi Pendidikan dari Timur
Rektor Universitas Hasanuddin (Unhas) Prof. Dr. Dwia Aries Tina Pulubuhu, MA. (Foto: Dok. Pribadi)

Tak salah menyebut Prof. Dr. Dwia Aries Tina Pulubuhu, MA. sebagai salah satu Rektor Terbaik yang dimiliki negeri ini. Betapa tidak, kiprahnya dalam membangun Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar untuk menjadi universitas berkelas dunia patut diacungi Jempol. Srikandi pendidikan ini pun berhasil membawa Unhas satu-satunya Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum di Kawasan Timur Indonesia.

Dwia mengawali kuliah S1 Sosiologi di Universitas Airlangga, Surabaya yang kemudian menikah dengan pria Bugis lalu menetap di Makassar. Ia pun mencoba mendaftar menjadi dosen Sosiologi di Unhas tahun 1988, hingga kemudian resmi diangkat pada tahun 1989. Sejak saat itu, ia juga melanjutkan pendidikan tingkat S2 hingga doktoral S3 dengan beasiswa luar negeri.

Di Unhas, Dwia mengawali karier struktural dengan menjadi Sekretaris Program Studi Sosiologi pada program pascasarjana Unhas tahun 2000 hingga 2002. Baru di tahun 2006 ia dipercaya menjadi Wail Rektor IV selama 2 periode.

Tahun 2014, Unhas menggelar pemilihan Rektor. Selama 58 tahun dan 11 pergantian Rektor, Unhas belum pernah memiliki rektor perempuan. Akhirnya, Dwia pun mengajukan diri, apalagi niatnya ini juga didukung teman-temannya.

“Saya tertantang untuk maju menjadi rektor karena melihat banyak potensi di Unhas yang bisa menjadi sumber daya agar Unhas menjadi lembaga pendidikan tinggi yang lebih baik. Selain itu, secara pribadi terdorong untuk membuktikan bahwa seorang perempuan juga bisa memimpin perguruan tinggi dengan sukses,” tandas Dwia.

Prosesnya cukup panjang, Dwia harus bekerja keras meyakinkan para senator dan menunjukkan ia mampu mengemban tugas tersebut. Selain itu, ia juga harus meyakinkan civitas akademika bahwa dirinya memiliki program bagus dan bisa ikut memajukan Unhas.

Perjuangannya berbuah hasil, perempuan kelahiran Tanjung Karang, Lampung 16 April 1964 ini menjadi rektor perempuan pertama Unhas. Istri M. Natsir Kalla ini mendapatkan kesempatan dan dipercaya sebagai rektor ke 12 Unhas periode 2014- 2018.

Dalam mengemban tugas mulia ini, ia menerapkan beberapa konsep pendidikan dalam menakhodai Unhas, seperti memprioritaskan peningkatan budaya akademik (academic culture) dikalangan civitas academica. Sehingga masing-masing civitas academica berlomba-lomba membuat prestasi dalam menjalankan tugasnya.

Meningkatkan model kerja sebagai team-work, dimana masing-masing unit kerja harus saling memperkuat kontribusi para anggotanya. Misalnya: dengan membangun banyak task-force (kelompok kerja) untuk pencapaian target-target kinerja.

Di tingkat universitas dia membuat rapat kordinasi rutin tiap bulan dengan dekan dan ketua lembaga untuk mendengar laporan kinerja bulanan dan sharing best-practice di masing-masing unit kerja. Sehingga masalah yang ada di unit kerja masing-masing bisa dipecahkan bersama, dan keberhasilan di satu unit kerja bisa ditiru di unit kerja yang lain. Ada proses leasson-learned satu sama lain antar unit kerja.

Perempuan yang mengagumi sosok Siti Aisyah dan Marie Curie ini menggarisbawahi membangun budaya mutu dalam bekerja dikalangan civitas academica masih banyak tantangan. Karena antara etos kerja dan sistem kerja harus terbangun secara sinergitas.

Kalau hanya meningkatkan etos kerja sementara sistem kerja belum terbangun, sambungnya maka kualitas (mutu) kerja tidak optimal. Demikian juga sebaliknya, sekalipun sistem kerja sudah didesain dengan baik tapi kalau komitmen dan integritas kerja para civitas academica lemah maka kualitas kerja rendah.

Pada 2017 lalu, Unhas berhasil bertransformasi penuh menjadi PTN BH. “Unhas satu-satunya PTN-BH di kawasan timur Indonesia. Kami pun ditargetkan oleh Kemenristekdikti harus bisa meningkatkan ranking di World Class University,” aku Board Member Australia Indonesia Center ini penuh semangat.

Sejumlah penghargaan ditorehkan Unhas selama kepemimpinan misal meningkatnya prestasi mahasiswa Unhas di kancah internasional salah satunya Juara I (Gold Medal) pada Lomba Karya Tulis Ilmiah “8th Europan exhibition of Creativity and Innovation (EUROINVENT) 2016” dengan Judul “Nepelatobi: Solution for Prevention Colorectal Cancer” di Lasi, Rumania.

Unhas pun sudah mendapatkan akreditas internasional dari ASEAN University Network-Quality Assurance (AUN-QA) untuk 3 Program Studi. Dan dari Abest 21 untuk 1 Program Studi. “Insya Allah di tahun 2017 akan bertambah 3 Program Studi yang terakreditasi internasional AUN-QA,” tutur perempuan yang gemar menyantap rujak cingur.

Saat ini, selain dengan Jepang dan Australia, Unhas sedang memperkuat kerja sama dengan beberapa universitas di Belanda, Prancis, dan Jerman. Dwia pun menerapkan kebijakan dosen junior tidak diperkenankan studi lanjutan di Unhas atau dalam negeri, sekitar 80% dosen Unhas meraih gelar S3 dari universitas ternama di luar negeri.

Tidak hanya melebarkan sayap di kancah internasional, Unhas pun tengah fokus meningkatkan jumlah inovasi yang mengangkat keunggulan benua maritim Indonesia sekaligus University Social Responsbility.

“Lembaga pendidikan tinggi di Indonesia harus mampu berperan secara konkrit/riil dalam menyelesaikan permasalahan bangsa dan Negara. Misalnya, lembaga Pendidikan tinggi tidak boleh semata hanya cerdas dalam mengkritik atau memberi gagasan agar pembangunan bisa ideal dan tumbuh cepat. Namun, bagaimana lembaga pendidikan tinggi ikut terlibat secara konkrit dalam proses pembangunan melalui kegiatan Tri- Dharma nya,” tandasnya.

Salah satu langkah upaya kemaritiman Unhas adalah menginisiasi Badan Usaha Milik Rakyat (BUMR) bekerja sama dengan Tanri Abeng University yang memfokuskan kepada peternak sapi dan nelayan rumput laut. Unhas juga sedang mempersiapkan Science and Techno Park Rumput laut bekerja sama dengan kabupaten Takalar dan pengembangan garam Industri di kabupaten Jeneponto.

“Juga menambah beberapa prototype inovasi yang dihasilkan berbasis riset. Misalnya, kapal fiber untuk nelayan rumput laut,” tuturnya.

Menutup pembicaraan, Dwia mengatakan obsesinya membawa Unhas masuk peringkat 500 besar di standar World Class University. “Serta meningkatkan daya saing luaran Unhas di skala internasional,” pungkasnya. (Giattri F.P.)

 

Share artikel ini

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Masukan kode dibawah Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.