Ratna Sarumpaet Tak Pernah Lelah Bela Rakyat yang Tertindas

Jakarta, Obsessionnews – Suka atau tidak suka, Ratna Sarumpaet ikut berperan menggulingkan Presiden Soeharto dari kursi kekuasaannya. Ratna bersama berbagai elemen masyarakat aktif berdemonstrasi menuntut Soeharto mundur. Akhirnya Soeharto yang berkuasa selama 32 tahun terjungkal oleh gerakan reformasi pada 21 Mei 1998. Di masa kekuasaan Soeharto yang memerintah dengan tangan besi, Ratna acapkali mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan dari aparat keamanan. Pada era 1990-an seringkali Teater Satu Merah Panggung pimpinannya dicekal pentas di berbagai tempat. Termasuk yang dicekal adalah pementasan monolog Marsinah Menggugat. Marsinah adalah aktivis buruh di Sidoarjo, Jawa Timur, yang dibunuh aparat keamanan karena sering memimpin unjuk rasa. Ratna memprotes aparat keamanan yang mencekal pementasan teaternya. Akibatnya ia ditangkap dan diintegorasi. Meski demikian dia tak takut, apalagi dia mendapat simpati dari para aktivis pro demokrasi. Dukungan dari para aktivis yang sebagian besar berusia muda itu membuatnya semakin bersemangat turun ke jalan untuk berdemonstrasi menentang berbagai kebijakan rezim Orde Baru yang dinilainya merugikan rakyat. Perempuan kelahiran Tarutung, Tapanuli Utara, Sumatera Utara, 16 Juli 1949, ini bernafas lega karena ikut berperan menjatuhkan Soeharto. Namun, perjuangan Ratna tak berhenti hanya sampai di situ. Ia terus melancarkan aksi unjuk rasa terhadap siapapun yang berkuasa, termasuk Presiden Jokowi dan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Bahkan dengan lantang Ahok mengajak para pendukungnya menurunkan Jokowi dan Ahok, karena menurut Ratna kebijakan Jokowi dan Ahok merugikan rakyat. Salah satu kebijakan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta yang dinilai Ratna merugikan rakyat adalah penggusuran rumah warga Kampung Pulo, Jatinegara, Jakarta Timur, Agustus 2015 lalu. Ratna pun menganggap perbuatan Pemprov DKI Jakarta itu melanggar HAM. Oleh karena itu Ratna turun tangan membela warga Kampung Pulo, dan bersama berbagai organisasi kemasyarakataan (ormas) menggalang kekuatan melalui Gerakan Melawan Ahok. Meski usianya sudah senja, 66 tahun, Ratna seakan-akan tak pernah kehabisan energi memimpin demonstrasi untuk memperjuangkan aspirasi rakyat yang tertindas. Ya, Ratna tak pernah lelah membela rakyat yang teraniaya, meskipun ia harus berurusan dengan aparat keamanan. Ia pahlawan bagi para aktivis pro demokrasi. Namun, di sisi lain ia juga dikecam oleh orang-orang yang pro pemerintaah. Kritikan terhadap Ratna dilakukan netizen di twitter. Minggu (6/9/2015) seorang netizen yang berakun @DjembarSan menulis,” Aku hanya kasian mau jd pejabat gk tercapai, wk wk wk.” Ratna langsung bereaksi lewat akun twitternya, @RatnaSpaet, dengan menjawab,” Ngoyo betul jd PENJILAT sampai2 dg BAHLUL merendahkan diri. Semua tau aku tidak MINAT jd pejabat. KEMANA AJA?” (Arif RH)





























