Presiden Republik Indonesia Joko Widodo

Presiden Republik Indonesia Joko Widodo
Presiden Jokowi.

Kurang lebih tiga tahun memimpin Republik Indonesia, Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Kabinet Kerjanya telah memperlihatkan progres yang sangat signifikan di hampir semua sektor kehidupan. Program pembangunan yang membumi, adalah alasan bagi rakyat untuk tetap mendukung kepemimpinan pria asal Solo ini. Ya, baginya, tujuan pembangunan adalah agar semua rakyat dapat sejahtera.

Memang tak berlebihan jika belakangan ini ada hasil survey yang menyebutkan bahwa elektabilitas Jokowi masih tetap tinggi jika pemilihan presiden (Pilpres) diadakan sekarang. Alasan yang disampaikan responden cukup kuat, stabilitas politik, keamanan, penegakan hukum, dan kesejahteraan merupakan pertimbangan signifikan untuk mengidolakan pemimpin yang dianggap mampu mengatasi persoalan dan itu ada dalam diri Jokowi.

Di dunia internasional, Jokowi juga diperhitungkan. The Royal Islamic Strategic Studies Centre (RISSC) merilis daftar terbaru 500 tokoh muslim tahun 2017 yang paling berpengaruh di dunia dalam situs www.themuslim500.com. Sebanyak empat tokoh asal Indonesia, masuk ke dalam 50 besar, termasuk Presiden Joko Widodo. Sementara studi terbaru firma global bidang kehumasan dan komunikasi strategis, Burson-Marsteller menempatkan Presiden Republik Indonesia Joko Widodo masuk dalam sepuluh besar pemimpin dunia yang punya pengikut terbanyak di jejaring sosial Twitter. Berdasarkan hasil studi tersebut, Jokowi, yang memiliki akun @ jokowi, menempati urutan ke-10 dengan 7,4 juta pengikut di Twitter.

Harus diakui, selama 3 tahun pemerintahannya beragam kemajuan telah ditorehkannya. Misalnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini berada di peringkat ketiga dalam jajaran negara-negara anggota G20. Saat ini, India berada di posisi pertama dalam pertumbuhan ekonomi (7,2 persen), Tiongkok di posisi kedua (6,8 persen), dan Indonesia di posisi ketiga (5,02 persen) berdasarkan data Organization for Economic Co-operation and Development (OECD).

Di bidang pembangunan infrastuktur terus digenjot agar ketimpangan antar wilayah dapat diatasi. Hasilnya, dalam dua tahun pertama, pemerintah telah mempercepat pembangunan jalan nasional sepanjang 2.225 kilometer, jalan tol sepanjang 132 kilometer dan jembatan sepanjang 16.246 meter atau 160 jembatan. Kemudian, kereta api bukan hanya milik Pulau Jawa. Tapi juga ada di Pulau Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi.

Cita-cita untuk menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia mulai dirintis dengan program Tol Laut dan menetapkan 24 pelabuhan sebagai Simpul Jalur Tol Laut. Untuk mendukung program tersebut, juga turut dibangun 47 pelabuhan nonkomersil. Sebanyak 41 pelabuhan sedang dalam pembangunan dan diharapkan di tahun 2019 nanti sudah terbangun 100 pelabuhan.

Untuk melengkapi terwujudnya infstruktur di sektor perhubungan, Jokowi juga menggenjot pembangunan di sektor penerbangan. Hasilnya, tahun 2016 sudah 9 bandara dikembangkan sehingga memiliki standar yang lebih tinggi dan 6 bandara di antaranya sudah resmi beroperasi.

Di sektor pertanian, kepemimpinan Jokowi juga memberikan perhatian yang luar biasa. Dengan semangat ‘Nawa Cita’ yang menjadi pegangan pembangunan, program kebijakan pemerintah di sektor pertanian secara bertahap mulai menunjukan hasil. Data Biro Pusat Statistik mencatat pencapaian produksi jagung di Februari 2017 sebesar 6,3 juta ton, jika dibandingkan februari 2016 hanya sebesar 3,2 juta ton. Dari pencapaian tersebut bukan mustahil jika target 24,2 juta ton di tahun 2017 ini dapat tercapai.

Peningkatan produksi juga terjadi pada komoditi bawang merah dengan capain 1,29 juta ton meningkat sebesar 5,74 % dibandingkan tahun 2015 yang mencapai 1,22 juta. Sama halnya dengan bawang, untuk komoditi cabai produksi ditahun 2016 produksi mencapai 78.167 ton sedangkan kebutuhan 54.346 juta ton. Produksi jagung pun demikian, naik 4,2 juta ton atau 21,9 persen. Peningkatan produksi jagung ini setara Rp 13,2 triliun. Hal ini mengindikasikan bahwa pemerintah mampu memenuhi ekspektasi target swasembada dalam hanya dalam 2 tahun. Ditahun 2016 pemerintah mengambil kebijakan yang berpihak kepada petani dengan tidak mengeluarkan rekomendasi impor, beras, cabai, dan bawang merah.

Pencapaian peningkatan produksi juga diikuti dengan meningkatnya Nilai Tukar Petani (NTP) dan Nilai Tukar Usaha Petani (NTUP) yaitu NTP tahun 2016 mencapai 101,65 meningkat 0,06% dibandingkan NTP 2015 yang sebesar 101,59. NTUP rata-rata nasional tahun 2016 juga berada di posisi tertinggi dalam 3 tahun terakhir. Tahun 2016 NTUP mencapai 109,86 atau naik 2,3% dibandingkan tahun 2015.

Satu hal yang patut dicatat, selama kurun waktu 2016 dan 2017 pemerintah tidak pernah mengeluarkan rekomendasi impor beras medium, karena produksi kita berhasil dan cukup memenuhi konsumsi masyarakat. Rekomendasi impor hanya dikeluarkan untuk beras dengan kebutuhan khusus atau sering disebut specialty rice sebagai peruntukan hotel, restoran dan kesehatan.

Tak sampai disitu, pengendalian harga pangan juga menjadi perhatian serius pemerintahan Jokowi. Karena itu, untuk mengatasi gejolak harga pangan, Kepolisian Republik Indonesia bersama dengan Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan, Kementerian Dalam Negeri, Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) dan Badan Urusan Logistik (Bulog) membentuk Satgas Pangan. Satgas tersebut akan melakukan pengawasan harga pangan di pasar-pasar yang akan dievaluasi hasilnya pada tiap dua pekan. Selain melakukan pengawasan harga dan ketersediaan sembako, satgas ini juga bertugas melakukan penegakan hukum terhadap kartel dan mafia pangan. Di tingkat daerah pun juga dibentuk Satgas Pangan Polda bersama sejumlah dinas terkait yakni Dinas Pertanian dan Dinas Perdagangan. Satgas Pangan Polda dipimpin oleh Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda.

Kinerja satgas pangan terbukti efektif, bergerak di seluruh provinsi dan mampu menjaga kestabilan harga dan ketersedian stok pangan menjelang dan berakhirnya Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri. Biro Pusat Statistik (BPS) sebagai lembaga yang kredibel mencatat inflasi per Juni 2017 hanya sebesar 0,69 persen terendah dalam Ramadan dan Idul Fitri 3 tahun terakhir. Upaya pemerintah dalam membentuk satgas pangan berdampak besar terhadap stabilnya harga pangan di masyarakat. Karena selama ini naiknya harga pangan berdampak besar bagi peningkatan inflasi.

Sedangkan dari sisi ekonomi secara umum, World Bank melihat bahwa ekonomi Indonesia di tahun 2017 masih kuat, dan memiliki fundamental yang kokoh. (Gia)

Artikel ini dalam versi cetak dimuat di Majalah Men’s Obsession edisi Agustus 2017.

Share artikel ini

Related posts

1 Comment

  1. Pingback: Haedar Nashir Berpengaruh Bagi Umat Islam di Indonesia … | Selayar Today

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Masukan kode dibawah Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.