Pakar Juwet

Pakar Juwet

(Revisi Jiwa Manusia)
Oleh: Emha Ainun Nadjib, Budayawan

 

Apa maunya milyuner Rusia bernama Dmitry Itskov itu bercita-cita kelak pada tahun 2045 menciptakan Hologram yang memiliki kecerdasan seperti manusia? Tidak sekadar robot seperti sekarang, yang hanya bisa melakukan beberapa hal yang diprogram? Baik robot dalam arti benda “bid’ah” bikinan manusia, maupun manusia-manusia yang dirobotkan oleh sistem dan mekanisme yang diberlakukan di dunia?

Yang paling mudah diprasangkai adalah Itskov ingin “menelanjangi” semua ummat manusia, seluruh data tentang manusia ada di genggamannya, sehingga “satu sistem dunia” yang dipimpinnya menguasai dan mengendalikan setiap langkah peradaban manusia.

Prasangka lain adalah manusia hologram ini merupakan kritik kepada Tuhan yang meskipun sudah menciptakan “manusia hibrida baru” yang “ahsanu taqwim” tapi tetap saja kejam kepada sesamanya, gila kekuasaan, maniak keduniaan, merusak bumi dan menumpahkan darah, menipu, merekayasa, menjajah, menjebak, memonopoli. Cita-cita Itskov adalah merevisi softwareatau jiwa manusia.

Atau pembikin Hologram ini mungkin “ngonangi” atau memergoki sesuatu yang selama ini tersembunyi, yakni bahwa sesungguhnya manusia hanyalah sesosok hologram. Ia hanya suatu sistem dan mekanisme yang mata manusia menangkapnya sebagai suatu sosok. Sosok itu sebenarnya taka da. Sebagaimana mungkin cahaya itu katanya sebenarnya tak ada. Ia hanya sebuah peristiwa “silaturahmi” antar benda dan sifat tertentu, yang ketika manusia melihat dengan matanya: ia merumuskan itu adalah cahaya.

Atau mungkin juga dengan warna. Pada hakikatnya tidak ada merah, hijau atau kuning. Yang ada hanyalah peristiwa manusia di mana pandangan mata manusia terbentur dengan sesuatu yang kemudian dirumuskan sebagai warna merah. Apalagi hitam. Aku pernah dikasih tahu anakku, yang tidak sungguh-sungguh kupahami hingga hari ini – bahwa warna hitam itu tak ada. Yang disebut warna hitam hanyalah suatu peristiwa anasir-anasir alam di mana cahaya tidak terlibat.

Nanti di sorga manusia mampu melihat beribu-ribu warna yang belum pernah dilihatnya di dunia. Satu-satunya warna di sorga yang ada di dunia adalah hijau tua. Itu sekadar simulasi dari himpunan informasi yang tersedia langsung dari Tuhan. Itu salah satu hal yang mengasyikkan untuk menguak-nguak masa depan. Tempo hari aku mencoba menguak masa silam: tidak karena aku gila masa silam, melainkan karena orang-orang di sekitarku memerlukan cermin masa silam agar sedikit bisa memperbaiki planologinya ke masa depan.

Tetapi kalau ternyata masyarakat Negeriku ini tidak memerlukannya, aku lebih gembira. Setiap huruf, begitu selesai kuketik, ia menjadi masa silam. Setiap huruf yang belum kuketik, ia masih masa depan. Sesungguhnya yang disebut masa kini atau “sekarang” jatah waktunya mungkin seperseribu waktu yang kita perlukan untuk mengetik sebuah huruf. Semua yang kita pertengkarkan adalah suplai ke masa silam. Setiap buku tentang masa silam. Setiap wacana adalah masa silam.

Semua Nabi dan Rasul bersemayam di masa silam. Tetapi mereka tetap ada di seperseribu sekon masa kini kita masing-masing. Juga terserah kita akan mengangkutnya ke masa depan atau tidak. Kita tidak pernah sempat bersandar di kursi masa kini, sebab aliran masa silam ke masa depan sedemikian cepatnya. Sehingga kita tidak perlu konyol untuk mempertengkarkan catatan-catatan statis tentang sesuatu yang kita anggap masa silam. Ketika suku-kata kedua kuucapkan kepadamu, suku-kata pertama sudah memasa silam.

Maka tiap hari dan malam aku kesana kemari, sambil kusempatkan membuat tulisan, untuk “ndhedher” masa depan itu. Ndhedher apa? Dan ndedher itu apa? Apakah maksudku di tulisan-tulisan itu akan pernah sampai kepadamu? Apakah ada cakrawala di dalam kotak-kotak? Apakah ada langit di dalam satu warna yang menolak warna lainnya? Kita selip jalan, berpapasan dan berseliweran di antara masa silam dan masa depan, tanpa bisa duduk tenang di masa kini. Pemahaman apa yang bisa kita harapkan di antara kita?

Seorang teman menuntut: “Jadi kenapa Sampeyan menulis tiap hari kalau hasilnya tidak dipahami?”. Bagaimana aku menjawabnya? Di antara ribuan titik hujan deras yang engkau terguyur oleh sebagiannya, titik air yang mana yang kau perlukan? Titik air mana yang membawa hidayah Tuhan kepadamu? Titik hujan yang mana yang harus menyentuhmu sehingga rezeki itu nanti datang menghampirimu? Kalau engkau bersama orang sekantor berdoa bersama memohon agar perusahaan tidak bangkit karena regulasi-regulasi yang tak menentu: ucapan “Amiiiin” siapa yang Tuhan kabulkan? “Amiiin”nya Direktur, Satpam, Tukang Sapu atau siapa?

Kalau engkau menabur benih, ada benih yang langsung bersemi. Ada benih lainnya menunggu besok pagi untuk menggeliat. Ada yang beberapa hari, beberapa minggu baru memuai. Bahkan ada pohon yang menunggu puluhan tahun sebelum orang mengetahui makna dan manfaatnya.

Di balik itu semua, apakah kau marah kepadaku kalau kukatakan bahwa aku menulis ini justru karena aku tidak paham? Anakku kasih info kepadaku tidak tentang Dmitry Itskov dengan tema fenomenologi fisika. Yang dilakukan anakku adalah “memberitahukan sesuatu yang menggembirakanku”.  Jadi tak ada gunanya kau lemparkan ke jidatku hardikan “dibayar berapa ini orang fisikawan dadakan omong tentang sesuatu yang ia tidak paham”.

Kemarin aku menjawab pertanyaan tentang beda antara Pemerintah dengan Negara, maka aku dihardik: “siapa yang bayar pakar hukum dadakan itu omong tentang Negara?”. Pasti dia tidak tahu bahwa masuk SD dulu saya mbayar “juwet”. Maka hidupku bagaikan juwet. Tulisanku adalah tulisan juwet. Mal juwetu, wa mal juwetu, wama adroka mal juwetu?

Mana mungkin kujawab. Aku bukan pakar juwet. Aku tak bisa menerangkan kepadamu tentang “simbukan” sebelum Ibumu mengoleskannya ke hidup atau mencekokkannya ke mulutumu. Bahkan tentang yang biasa saja: manis, pahit, asam, panas, dingin, tak bisa dijelaskan dengan kata-kata kepada orang yang belum pernah merasakan di lidah dan seluruh badannya. Anak kecil harus dituntun pelan-pelan untuk bisa membedakan jenis sakit perut yang dideritanya: “mules”, “sebah”, “mbededeg”, atau “senep”. Kenapa mayoritas penduduk Jawa di Indonesia tidak memaksakan Bahasa Jawa sebagai Bahasa Nasional, karena tidak tega kepada yang lainnya untuk harus menghapalkan beda antara aroma “badheg”, “apek”, “lengur”, “pesing”, “prengus”, “sangit”, “lebus” dan banyak lagi.

Ketika SD aku dikeluarkan dari kelas gara-gara menaburkan “rawé” di kursi Pak Guru. Sejak itu beliau berlaku lebih hati-hati, waspada, mempertimbangkan sebelum bicara. Lebih sabar dan bijaksana.

Sidoarjo, 13 Oktober 2017

Share artikel ini

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Masukan kode dibawah Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.