Ormas Setia Indonesia: Sjafrie Rendah Hati dan Taat Beribadah

Ormas Setia Indonesia: Sjafrie Rendah Hati dan Taat Beribadah
Jakarta, Obsessionnews.com – Jakarta membutuhkan figur pemimpin yang kuat, disiplin, visioner, rendah hati,  bebas dari korupsi dan  dan mampu menata ibukota Jakarta menjadi kota favorit  destinasi internasional. [caption id="attachment_137651" align="alignleft" width="318"]Ketua Umum ormas Setia Indonesia Asrun Tonga. Ketua Umum ormas Setia Indonesia Asrun Tonga.[/caption] “Sjafrie Sjamsoeddin memenuhi kriteria itu,” kata Ketua Umum organisasi kemasyarakatan (ormas) Setia Indonesia Asrun Tonga ketika dihubungi Obsessionnews.com, Senin (11/7/2016). Letnan Jenderal TNI (Purn) Sjafrie Sjamsoeddin dilahirkan di Makassar, Sulawesi Selatan, 30 Oktober 1952. Sjafrie pernah menjadi Pangdam Jaya (1997-1998), Aster Kasum TNI (1998), Staf Ahli Polhukam Panglima TNI (1998-2001), Koordinator Staf Ahli Panglima TNI (2001-2002), Kapuspen TNI (2002-2005), Sekjen Departemen Pertahanan (2005), dan Wakil Menteri Pertahanan (2010-2014). Saat menjadi Pangdam Jaya Sjafrie menjadi idola kaum wanita. Pasalnya wajahnya ganteng, tutur katanya santun, dan menghargai lawan bicara. Suami Etty Sudiyati ini merupakan salah satu tokoh militer yang memiliki peran signifikan dalam mengubah wajah TNI. Banyak kemajuan yang signifikan di pusat penerangan TNI sejak dipimpinnya. Sjafrie berhasil menyosialisasikan reformasi TNI. Keberhasilan itu pula yang kemudian mengantarnya ke kantor Departemen Pertahanan (sekarang Kementerian Pertahanan). Presiden SBY memberi kepercayaan kepadanya menjadi Sekretaris Jenderal (Sekjen) Dephan. Peran sebagai Sekjen Dephan pun dilakoni Sjafrie dengan baik. Dia berhasil menjadi jembatan yang baik antara sipil dan militer di jajaran Dephan. Bahkan Sjafrie berhasil mengubah citra kementerian tersebut menjadi lebih profesional. Di kementerian itu Sjafrie melakukan pembenahan internal. Langkah pertama yang dilakukannya adalah dengan membentuk sebuah tim dan sistem di dalam kementerian terkait proses pengadaan alutsisa. Dalam sistem itu keputusan pengadaan alutsista dibahas oleh Dealing Center Management. Pencapaian lainnya adalah keberhasilan Sjafrie dalam mengalihkan dan menghapus bisnis TNI. Dia ditunjuk Menhan Juwono Sudarsono sebagai Ketua Tim Pengarah Tim Nasional Pengalihan Bisnis TNI. Berdasarkan inventarisasi saat itu, terdata ada sebanyak 219 unit usaha berbentuk koperasi dan yayasan, baik di lingkungan Markas Besar TNI maupun masing-masing angkatan. Bahkan aset yang dimiliki TNI dari berbagai bisnis itu mencapai Rp 3,4 triliun. Sjafrie berhasil menjalankan tugasnya dengan baik. Dia berhasil menghapus bisnis TNI tanpa mengurangi tingkat kesejahteraan prajurit. Selama ini bisnis di tubuh militer memang menjadi penopang kesejahteraan prajurit. Berkat kecemerlangan kinerjanya sebagai Sekjen Dephan tersebut, Sjafrie kemudian dipercaya oleh Presiden SBY menduduki posisi Wakil Menteri Pertahanan (Wamenhan). Sering Menyabung Nyawa Sjafrie dikenal sebagai petarung. Lulusan terbaik Akmil 1974 ini tergolong sering menyabung nyawa. Dia pernah terlibat dalam operasi di Timor Timur dan Aceh, kemudian diangkat menjadi Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) dan ajudan Presiden Soeharto. Pada tahun 1995 Syafrie pernah membuat pengawal Presiden Israel Yitzak Rabin  ertekuk lutut. Tepatnya 22 Oktober 1995 di Presidential suite, lt. 41 hotel Waldorf Towers, New York, saat Presiden Yitzak Rabin minta bertemu Presiden Soeharto, namun awalnya tak mau menuruti prosedur pengamanan standar Paspampres. Sempat adu mulut, pengawal Presiden Israel dengan arogannya menodongkan senjata Uzi ke perut Sjafrie dan tetap ngotot masuk dalam lift. Tetapi, Sjafrie lebih gesit. Ia lebih dulu menempelkan moncong pistol ke perut tentara Israel itu. “Sorry I understand it,” kata tentara Israel itu sambil menatap mata Sjafrie yang tangannya siap menarik pelatuk. Bahkan dua orang Paspampres lainnya juga sudah siap menumpahkan peluru. Akhirnya Yitzak Rabin rela menuruti prosedur pengamanan Paspampres, dan menunggu 15 menit, karena memang datang lebih awal dari jadwal diterima Presiden Soeharto. (arh, @arif_rhakim)