Merajut Ikatan Sosial

Merajut Ikatan Sosial

Oleh: Imam Shamsi Ali,  Presiden Nusantara Foundation

Dalam interaksi sosial antar manusia ada beberapa kemungkinan yang bisa terjadi. Banyak hal positif, banyak pula yang negatif, bahkan destruktif.

Interaksi sosia manusia sejatinya adalah demonstrasi nyata dari ikatan sosial (intimaa ijtima’) itu sendiri. Ikatan sosial ini lazimnya dikenal dengan “solidaritas sosial” yang menjadikan manusia itu sebagai “makhluk sosial” (social being).
Sebagai makhluk sosial manusia memang membutuhkan orang lain. Tak seorang pun yang bisa hidup sendiri tanpa orang lain. Kata orang bijak: tangismu di saat lahir itulah kamu. Bahwa tantangan hidup memaksamu mencari orang lain di sekitarmu. Dan Ibu adalah orang pertama yang kita cari dalam hidup.

Ikatan sosial ini pula yang menjadikan manusia mampu membangun kerja sama (ta’awun) di antara sesama. Dengan kerja sama itu mereka membangun dunia yang lebih baik dan berkemajuan.

Akan tetapi di balik dari berbagai aspek positifnya, ikatan sosial antar manusia juga tidak jarang melahirkan aspek negatif, bahkan destruktif.

Aspek negatif pertama dari ikatan sosial itu adalah keangkuhan (takabbur). Keangkuhan adalah merasa lebih sekaligus memandang orang lain kurang atau rendah. Kalaupun memang kelebihan itu ada, angkuh karenanya juga tidak dibenarkan. Apalagi jika keangkuhan itu dibangun di atas perasaan yang tidak ada realita. Merasa pintar, merasa kaya, merasa mampu. Perasaan ini biasanya dibarengi oleh prilaku “big mouth” (ngomong banyak) tanpa realita. Biasanya disebut NATO (no action talk only).

Aspek negatif kedua dari ikatan sosial adalah iri hati atau hasad. Karena ikatan sosial itulah yang menjadikan relasi terbangun. Akan tetapi kenyataan itu kemudian tidak selamanya seperti yang diharapkan. Ada yang berhasil atau sukses. Ada pula yang belum sukses, bahkan gagal. Golongan kedua inilah yang rentan mengalami penyakit kronis sosial yang sangat berbahaya yang disebut iri hati atau hasad.

Iri hati dan hasad sesungguhnya berbeda. Iri hati biasanya masih suasana hati yang “panas” atau “perih” karena keberhasilan orang lain. Ketika sakit hati ini meningkat menjadi aksi untuk melakukan apa saja agar kesuksesan orang lain itu hilang, maka itulah hasad. Orang yang iri hati dan hasad biasanya tidak akan tenang, dan selalu kepanasan bagaikan cacing yang terdampar di pinggir jalan. Menggeliat ke sana sini seolah bisa bergerak tapi sebenarnya tidak ke mana-mana. Hanya di tempat menanggung perih hingga datang kematiannya.

Aspek negatif ketiga dar ikatan sosial adalah apa yang disebut “insecurity”. Yaitu sebuah situasi yang dihantui oleh perasaan terancam (threat). Biasanya orang yang seperti ini adalah orang yang punya sesuatu yang terlalu dibanggakan. Posisi, ekonomi, popularitas, kecantikan, dan seterusnya.

Konon kabarnya banyak penguasa atau raja-raja yang tidak lagi menikmati hidup karena merasa terancam. Bahkan terancam dari keluarga, bahkan anak dan saudaranya.

Konon kabarnya juga banyak artis-artis Hollywood yang keluar masuk rehabilitasi karena masalah emosi, stress bahkan mengalami penyakit mental karena terancam oleh kepopuleran orang lain, atau merasa terancam oleh kecantikan/ketampanan orang lain.
Penyakit ini menjangkiti semua orang yang biasanya mengalami “cultural shock” (kepanikan kultur). Dan ini rentan terjadi kepada yang memiliki ego tinggi tapi kemampuan loyo. Baru jadi kepala RT tapi merasa raja. Jadi sopir perusahaan tapi mengaku penanam saham (investor) di perusahaan itu.

Intinya ikatan sosial di antara manusia ini perlu dijaga, dirawat, dirajut agar membawa kepada prilaku positif.

Prilaku solidaritas yang tinggi untuk tumbuhnya komitmen kerja sama dan gotong royong. Yang di atas menarik yang di bawah dan yang di bawah menopang yang di atas Bukan sebaliknya yang di atas menginjak yang di bawah, yang di bawah merana berusaha menjatuhkan yang di atas. Semoga Allah menjaga!

Share artikel ini

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Masukan kode dibawah Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.