Menyimak Pidato Perpisahan Presiden AS Barack Obama

Menyimak Pidato Perpisahan Presiden AS Barack Obama

Oleh: Muhammad AS Hikam, Pengamat Politik Universitas Presiden

Seperti kebiasaan para Presiden AS yang akan menjalani purna tugasnya, Presiden Barack Hussein Obama (BHO) menyampaikan pidato perpisahan (farwell address)-nya kepada seluruh rakyat pada Senin, 10 Januari 2017. Lokasi pidato adalah kota Chicago, negara bagian Illinois, di mana sang Presiden memulai kariernya sebagai pegiat sosial, politisi di Senat Illinois, Senator AS di Washington, dan menjadi orang nomor satu di negeri itu selama dua kali masa jabatan (8 tahun).

Bagi saya pribadi, BHO memiliki karakter pemimpin visioner, transformatif, dan negarawan yang bisa menginspirasi bukan saja rakyat dan bangsa AS, tetapi juga rakyat dan bangsa Indonesia dalam hal-hal yang positif dan bermanfaat bagi kejayaan negeri kita di masa depan. BHO sebagai manusia dan pemimpin sebuah negara tentu tidak sempurna atau tanpa kelemahan dan, tentu saja, tak lepas dari kritik dan penolakan dari sebagian orang, baik di AS maupun internasional. Namun kualitas kepemimpinan BHO, hemat saya, akan tercatat dalam memori sebagai salah satu contoh pemimpin dunia yang bisa dijadikan referensi bagi generasi muda dan mereka yang mendambakan kemajuan dan kebesaran bangsa dan negaranya, termasuk Indonesia.

Dari pidato selama lebih kurang 50 menit itu, beberapa hal yang disampaikan BHO, saya kira relevan untuk kita simak, khususnya mengenai dinamika demokrasi yang ada resonansinya dengan kita. Poin-poin penting itu adalah:

Pertama, masalah kewarganegaraan sebagai inti dan salah satu pengikat utama dalam kehidupan berdemokrasi, berbangsa dan bernegara. Apapun perbedaan latar belakang kita, kewarganegaraan adalah pemersatu dan yang membuat kita sebagai bangsa menjadi sama kedudukannya satu sama lain.

Kedua, demokrasi hanya akan berkembang dan bertahan manakala rakyat biasa (ordinary people) punya kepedulian, terlibat langsung,dan bekerja sama di dalam proses.

Ketiga, demokrasi memerlukan rasa solidaritas sebagai komponen dasar. bagaimanapun kebhinnekaan kita, pada akhirnya adalah kita adalah satu bangsa dan akan bersikap sebagai satu kesatuan.

Keempat, diskriminasi adalah persoalan serius dalam demokrasi dan mesti diberantas melaui hukum. Namun hukum saja tak cukup: harus ada perubahan dalam hati dalam upaya memberantas diskriminasi tersebut.

Kelima, demokrasi akan rapuh jika para pendukungnya takut ketika menghadapi berbagai upaya melemahkan sistem nilai yang mendasarinya.

Keenam, perubahan-perubahan besar yang diinginkan terjadi dalam masyarakat, bangsa dan negara menjadi mungkin karena rakyat yang berhasrat dan bekerja melakukannya. Bukan hanya para pemimpinnya. (*)

 

Share artikel ini

Related posts

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Masukan kode dibawah Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.