Liberalisme Jadi Materialisme Tanpa Sukma

Liberalisme Jadi Materialisme Tanpa Sukma

SURAT PEMBACA

Oleh: Sayuti Asyathri – Jakarta

Semakin lama arti kata liberalisme semakin dipahami sebagai najis yang menghilangkan tanggungjawab hubungan negara dengan para pendiri dan pencintanya, dengan para pemangku hikmah kebijaksanaan yang menjaga nilai nilai negara agar senantiasa memiliki cinta dan tanggungjawab pada rakyat, bangsa, manusia dan kemanusiaan,

Bila negara hanya dipandang sebagai sebuah organisasi perusahaan yang berdagang dengan rakyat dan memperdagangkan usaha usaha rakyat, merawat rakyat agar mereka hanya sebagai konsumen dan objek produksi di bawah tekanan pajak atas objek yang tidak produktif dan kenaikan tarif pelayanan publik tanpa kontrol rakyat sehingga rakyat hanya berfungsi meningkatkan produktivitas korporasi dagang asing maka sejatinya negara dalam artian yang hakiki telah sirna.

Karena liberalisme bukan lagi bermakna pembebasan dan kemerdekaan sebagai akar kata dari ‘to liberate’ yang berarti membebaskan dan memerdekaan sebagai tafsir gerakan pembebasan semacam liberation front’ atau gerakan pembebasan seperti di Amerika Latin. Tetapi ditangan kekuatan hegemonik imperialis, liberalisme adalah isme yang membebaskan ruang gerak penjajahan dan kapitalis untuk menghisap rakyat dan membatasi ruang gerak mereka dalam sebuah skema penjajahan..

Liberalisme adalah materialisme tanpa sukma kemanusiaan dan spiritualitas yang mengarahkan manusia di jalan satu dimensi dan kehidupan linier, di jalan penghinaan terhadap rakyat, penghinaan atas manusia dan kemanusiaan sehingga harus dienyahkan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.

Untuk itulah usaha perlu dilakukan agar negara harus berfungsi memikul tanggung jawab subjektif dan objetifnya, yakni tanggung jawab membina hubungan emosi cinta dengan rakyat dan kekuatan kerakyatan. Adapun tanggungjawab objektifnya adalah memacu pertumbuhan ekonomi rakyat dan taraf hidup mereka dalam bentuk pemihakan pada nasib usaha usaha rasional rakyat dalam ekonomi dan perdagangan, dalam kehidupan sosial dan budaya rakyat. Bila negara berhasil melakukan hal itu maka kita optimis akan hadirnya prospek sebuah bangunan peradaban yang berlandaskan kekuatan cinta dan solidaritas sebagai suatu bangsa yang merdeka, bermartabat, adil, makmur dan maju. (*)

Share artikel ini

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Masukan kode dibawah Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.