Koperasi Bisa Kelola Dana Zakat dan Wakaf Bagi Pemberdayaan UKM

Koperasi Bisa Kelola Dana Zakat dan Wakaf Bagi Pemberdayaan UKM
Deputi Bidang Pembiayaan Kementerian Koperasi dan UKM Yuana Sutyowati (kanan) dalam acara FGD Kebijakan Pengelolaan Maal Oleh KSPPS/USPPS Koperasi, di Bogor, Rabu (18/10/2017).

Bogor, Obsessionnews.com – Deputi Bidang Pembiayaan Kementerian Koperasi dan UKM Yuana Sutyowati mengatakan setelah kerja sama dengan Laznas, Koperasi Simpan Pinjam Pembiayaan Syariah (KSPPS) dan Unit Simpan Pinjam Pembiayaan Syariah (USPPS), kini memiliki peluang mengelola zakat, infaq/shodaqoh (ZIS), dan wakaf, secara legal formal.

Melalui pengelolaan dana ZIS lanjut Yuana, koperasi dapat memanfaatkannya untuk pemberdayaan usaha mikro dan kecil. Dana zakat dapat diberikan kepada mustahik. Sementara infaq/shodaqoh dapat dimanfaatkan untuk pendidikan/pelatihan peningkatan kapasitas dan pendampingan.

Sedangkan dana yang terhimpun dari wakaf uang, dapat dimanfaatkan oleh koperasi yang bersangkutan untuk memperkuat permodalan dan pembiayaan bagi anggotanya. Sehingga, dapat memperluas jangkauan layanan kepada pelaku UKM anggota koperasi dengan porsi nisbah bagi hasil yang ringan.

“Karena koperasi hanya berkewajiban menjaga nilai harta wakaf dan menyalurkan hasil pendayagunaan kepada penerima manfaat atau maukufalaih,” kata Yuana pada acara FGD Kebijakan Pengelolaan Maal Oleh KSPPS/USPPS Koperasi, di Bogor, Rabu (18/10/2017).

Untuk memperkuat legalitas kelembagaan, kata Yuana, pada 2011 dan 2013 Kemenkop dan UKM telah menjalin kerja sama dengan tujuh Lembaga Amil Zakat Nasional (Laznas) dan Badan Wakaf Indonesia (BWI). Kerja sama tersebut bertujuan untuk mendayagunakan zakat dan wakaf untuk pemberdayaan UKM anggota koperasi, khususnya para pelaku usaha mikro mustahik.

“Selain itu, untuk peningkatan kapasitas pengelola maal telah dilaksanakan pula Bimbingan Teknis Pendayagunaan Zakat dan Wakaf di 15 provinsi,” kata Yuana.

Yuana menambahkan, pengembangan ZIS dan wakaf oleh KSPPS/USPPS Koperasi memiliki beberapa peluang dan tantangan. Saat ini, terdapat 3.804 KSPPS/USPPS koperasi di Indonesia yang melayani 1,8 juta anggota, dengan total sendiri Rp 4,7 triliun, simpanan anggota Rp 3,2 triliun, dan volume pinjaman/pembiayaan Rp 3,1 triliun.

Tantangan pertama, kegiatan sosial (maal) pada KSPPS/USPPS Koperasi lebih menonjol dibandingkan dengan koperasi konvensional, karena anggota KSPPS/USPPS koperasi pada umumnya berbasis komunitas kegiatan keagamaan (Islam). Contohnya, melalui Majelis Taklim, berbasis masjid, kelompok pengajian ibu-ibu, dan kelompok usaha mikro.

Kedua, potensi ZIS dan wakaf cukup besar, namun sebagian besar KSPPS/USPPS koperasi cara pengumpulan dan pengelolaannya masih tradisional. Sehingga, unit maal di KSPPS/USPPS koperasi harus lebih kreatif dan inovatif dalam pengumpulan ZIS dan wakaf (jemput bola dan promosi).

“Ketiga, dalam era teknologi informasi yang begitu maju, mestinya dapat dimanfaatkan untuk mereformasi cara pengumpulan ZIS dan wakaf secara lebih moderen,” tutup Yuana. (Has)

Share artikel ini

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Masukan kode dibawah Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.