Kinerja Ahok di Mata Buruh: Ponten Merah dan Bapak Upah Murah

Kinerja Ahok di Mata Buruh: Ponten Merah dan Bapak Upah Murah

Oleh: Muchtar Effendi Harahap, Peneliti Senior Politik/Pemerintahan NSEAS (Network for South East Asian Studies)

Penilaian publik beragam tentang kinerja Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. Bagi pendukung buta Ahok acapkali mengklaim Ahok jujur dan bersih, bahkan ada yang menyamakan dengan kepemimpinan Ali Sadikin. Entah apa indikator pembanding, hingga penilaian irasional dan ahistoris Ahok dilabeling sekelas Ali Sadikin. Padahal, anak Ali Sadikin sendiri, Boy Sadikin, menolak ayahnya disamakan dengan Ahok.

Memang sungguh jauh antara Ahok dan Ali Sadikin, bagaikan siang dan malam. Misalnya Ali Sadikin mengunjungi  sebuah kelurahan dan disambut berbondong-bondong oleh rakyat yang mencintainya. Ali Sadikin tak pernah diusir rakyat. Buruh suka Ali Sadikin. Bagaimana Ahok?

Kinerja Ahok di mata buruh tidaklah jauh sebagaimana di mata kelompok-kelompok masyarakat madani lain. Buruh secara terbuka di publik menilai kemerosotan dan bobroknya kinerja Ahok selama beberapa tahun. Buruh memberi ponten merah untuk Ahok.

Bagi buruh, kepemimpinan Ahok dirasa masih banyak borok dan cenderung kurang menyejahterakan warga Jakarta (RMOL, 8 Mei 2016). Menurut Wakil Ketua PC FSPMI DKI Jakarta, Hilman Firmansyah, berbagai sektor juga mengalami kemerosotan. Di bidang ekonomi, kemerosotan Ahok dibuktikan dengan 7 indikator:  1. Pertumbuhan turun sekitar 0, 16 persen, sementara inflasi meningkat sekitar 0,95 persen. 2. Gini rasio juga meningkat hingga 7,20 persen. 3. Jumlah penduduk miskin meningkat hingga 3, 72 persen sejak dipimpin Ahok. 4. Akuntabilitas Kinerja Provinsi DKI: 58,57 (hanya urutan 18 dari 34 Provinsi). 5. ‎Realisasi pendapatan daerah: hanya 66,8% (urutan buncit dari semua provinsi).‎ 6. Penyerapan anggaran: hanya 59,32 % (terburuk se Indonesia). 7. ‎Peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM): hanya 0,31 (nomor 1 dari bawah dari 34 provinsi se Indonesia).

Banyak kasus korupsi terjadi, setidaknya ada 5 kasus korupsi besar menjadi polemik dan bikin resah masyarakat. Pertama, kasus korupsi Pengadaan Bus Trans Jakarta. Kedua, kasus korupsi ‎pengadaan Uninteruptible Power Supply (UPS)‎. Ketiga, kasus korupsi pembelian tanah Rumah Sakit Sumber Waras. Keempat, kasus korupsi ‎tukar guling lahan taman BMW. Kelima, kasus korupsi reklamasi pulau‎.

Selanjutnya, penilaian buruh datang dari  Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal. Tokoh buruh populer ini  menjuluki Gubernur DKI Jakarta Ahok sebagai “Bapak Upah Murah” (Kompas.com, 29 September 2016). Ia menilai  upah minimum provinsi (UMP) di DKI lebih rendah atau  kalah dengan  Bekasi dan Karawang, dua kabupaten di Jawa Barat yang berdekatan dengan DKI. Said menyerukan kepada masyarakat,  khususnya buruh di DKI, agar  jangan memilih  Gubernur “Bapak Upah Murah”. Selama kepemimpinan Ahok upah buruh DKI selalu di bawah Bekasi dan Karawang. “Tidak masuk akal !” kilah alumnus Fakultas Ekonomi UI ini.

UMP di DKI sebesar Rp 3.100.000. Jumlah ini rendah dibanding UMP Bekasi Rp 3.200.000. Said menuding kondisi ini karena Ahok memberlakukan barter kebijakan dengan  Corporate Social Responsibility (CSR). “Ini karena Ahok membarter antara CSR dan kebijakan”, tegasnya.  Buruh menuntut kenaikan upah seluruh Indonesia Rp 650.000.

Untuk itu, Said membeberkan hasil survei KSPI dan Aspek Indonesia menunjukkan kebutuhan hidup layak (KHL) di DKI dengan inflasi 2017 adalah Rp 3.750.000. “Sekarang masih Rp 3,1 juta, berarti naiknya sekitar Rp 600.000-Rp 700.000,” ujar Said.

Namun, Said pesimistis Ahok mau mendengarkan tuntutan buruh soal kenaikan upah ini. “Pak Ahok mana mau dengar, orang merasa selalu pinter sendiri, maka jangan dipilih. Sangat susah untuk meminta Pak Ahok mengabulkan buruh, tiga kali kita minta malah dia marah-marah,” ujar Said.

Padahal, bagi Said, Ahok pernah menjanjikan upah buruh di DKI Rp 7.000.000, sama seperti gaji sopir transjakarta. “Namun, hari ini Rp 3,1 juta, kalah sama Bekasi dan Karawang. Oleh karena itu, kami meminta jangan pilih Ahok,” tutupnya.

Di lain pihak buruh kembali bergerak untuk menyampaikan pesan dan menyuarakan tuntutan. Pada 15-16 Agustus 2016, sebanyak 200 buruh dan masyarakat Jakarta melakukan long march berjalan kaki dari lima penjuru kota untuk membagikan petisi kepada masyarakat. Buruh menilai ada “10 kegagalan” Ahok memimpin Jakarta (Beritasatu.com, 15 Agustus 2016). Karena itu, bagi buruh, Ahok tidak layak memimpin kembali DKI Jakarta. Di dalam petisi buruh ini ditegaskan, Jakarta harus memiliki Gubernur baru.

10 kegagalan Ahok yakni: Pertama, meski DKI memiliki anggaran cukup besar, yakni Rp. 67,1 triliun, tetapi Ahok gagal memanfaatkan anggaran tersebut untuk kesejahteraan masyarakat Jakarta.

Kedua, angka gini rasio (kesenjangan ekonomi) meningkat menjadi 0,46 sehingga jauh di atas gini ratio sebelumnya, hanya 0,41. Orang kaya di DKI Jakarta semakin kaya, sementara orang miskin semakin miskin.

Ketiga, angka kemiskinan di DKI bertambah menjadi 15.630 orang.

Keempat, kenaikan harga sembako tidak terkendali.

Kelima, kenaikan harga sembako ini diikuti dengan semakin langka dan mahalnya air bersih.

Keenam, Ahok gagal menyiapkan perumahan murah bagi warga DKI sehingga tingkat kepemilikan rumah di DKI hanya sekitar 50 persen. Ini jauh di bawah angka nasional sebesar 80 persen.

Ketujuh, Ahok gagal menyiapkan sistem transportasi kota dan mengatasi kemacetan sehingga banyak masyarakat akhirnya memilih menggunakan kendaraan pribadi dan justru memperparah kemacetan.

Kedelapan, UMP DKI sebesar 3,1 juta lebih rendah dari upah minimum di Bekasi dan Karawang. Apalagi jika dibandingkan dengan Manila, Bangkok, Kuala Lumpur dan Singapura. Kesembilan, Ahok kerap melakukan penggusuran secara semena-mena seperti terjadi di Pasar Ikan, Kampung Pulo, dan sebagainya.

Kesepuluh, Ahok diduga telah melakukan reklamasi atas dorongan pengembang yang merugikan nelayan dan merusak ekosistem. (*)

Share artikel ini

Related posts

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Masukan kode dibawah Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.