Kasus Dokter Helmi Persis Eks Ketua MK

Kasus Dokter Helmi Persis Eks Ketua MK

Jakarta, Obsessionnews.com – Tidak sedikit manusia yang memiliki pengetahuan cukup di bidangnya tergelincir dalam tindakan kejahatan atau melanggar hukum. Setelah bertindak di luar kewajaran, pasti penyesalan terdalam menyelimuti diri.

Dokter Ryan Helmi telah menembak mati istrinya, dokter Lety Sultri (46) di Azzahra Medical Center, Jalan Dewi Sartika, RT 4. RW 4, Kelurahan Cawang, Kecamatan Kramatjati, Jakarta Timur, Kamis (9/11/2017).

Setelah menjalani pemeriksaan oleh pihak Polda Metro Jaya, Helmi juga diketahui tengah mengomsumsi obat penenang berjenis benzodiazepine, salah satu obat yang dilarang pemerintah.

Sebagai seorang dokter, Helmi sudah pasti mengetahui dampak berbahya jika mengomsusi benzodiazepine, apalagi untuk jangka waktu yang lama, bisa menimbulkan kematian.

Ternyata, jangankan membunuh, seorang dokter juga harus bisa menahan amarahnya. “Dokter nggak boleh marah. Dalam suasana perang, misalkan ada lawan yang perlu bantuan dokter, mereka tidak boleh membunuh, namun harus dibatu. Ini juga diatur dalam perjanjian internasional,” ucap Ketua Umum Badan Eksekutif Nasional Aliansi Praktek Dokter Mandiri Indonesia (BEN APDMI), Dr. HB.Yunaz saat dihubungi Obsessionnews.com, Senin (13/11/2017).

Lalu, kenapa orang yang ahli di bidangnya, malah melakukan kesalahan? Yunaz menerangkan, ini menyangkut pribadi seseorang, bukan profesinya.

“Seperti kasus mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Akil Mochtar (tersandung kasus suap dan kini menjalani hukuman seumur hidup). Akil adalah sarjana hukum, sangat mengerti dibidangnya,” pungkasnya. (Popi)

Share artikel ini

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Masukan kode dibawah Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.