Kapolri Sebut Aksi Teror Yang Kerap Terjadi Ulah JAD

Jakarta, Obsessionnews.com – Aksi teror kerap terjadi belakangan ini, seperti ledakan bom bunuh diri yang terjadi di terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur pada Rabu (24/5/2017) malam. Hal itu dikarenakan ada pihak-pihak yang tak mau situasi keamanan Indonesia dalam keadaan aman dan tentram.

Kepala Kepolisian RI (Kapolri) Jenderal Tito Karnavian menyatakan aksi teror tersebut diduga didalangi oleh kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD). “Semua peristiwa sekarang dilakukan sel JAD, termasuk di Kampung Melayu dan Jalan Thamrin,” ujar Tito kepada wartawan di lapangan Monas, Jakarta Pusat, Senin (19/6/2017).

Dia menjelaskan soal metamorfosis kelompok teroris dari Al-Qaeda, kemudian Jamaah Islamiyah (JI), hingga menjadi JAD. “Kalau tahun 1999-2009 lalu, tertembaknya Noordin M Top di Solo kemudian mereka melemah semua dilakukan oleh Al-Qaeda,” katanya.

Dalam perkembangannya, Al-Qaeda, yang berpusat di Afganistan, berhasil dilemahkan. Petinggi Al-Qaeda Osama bin Laden berhasil dilumpuhkan. Dia tewas dalam sebuah operasi penggerebekan oleh pasukan Amerika Serikat. Elite Al-Qaeda lainnya, yakni Hambali, berhasil ditangkap dan kini ditahan di sel Guantanamo.

Tak hanya petinggi, seribu anggota JI juga berhasil ditangkap dan diproses hukum. Kekuatan mereka pun melemah. “Mereka sekarang muncul yang baru di tingkat global ISIS yang dipimpin Baghdadi ini, kemudian punya sel-sel di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Suporter utamanya Tauhid Wal Jihad, yang dipimpin Aman Abdurrahman, karena ideologi sama takfir dan berubah nama menjadi JAD semenjak 2013,” ujar Tito.

Sementara itu, Pengamat Timur Tengah dan Islam dari Universitas Indonesia (UI), Yon Machmudi, mengatakan sikap umat Islam harus satu dalam menghadapi terorisme di Indonesia, yakni mengecam dan tidak memberikan ruang sekecil apa pun terhadap justifikasi tindakan teror.

“Target terorisme adalah memecah belah bangsa,” ucap Yon seperti yang dilansir media Online lain pada Kamis (25/5/2017).

Terorisme, ujar Yon, bukan aksi tidak rasional. Menurut dia, tindakan itu benar-benar mempelajari kondisi sosial-politik dan serta berusaha mendapatkan simpati atas aksi-aksinya.

Dosen Fakultas Ilmu Budaya UI itu menjelaskan, aksi bom di Kampung Melayu jelas menunjukkan adanya target untuk menciptakan ketakutan di masyarakat karena dilakukan di sarana publik, yaitu terminal. Di samping itu mereka berusaha memecah belah bangsa dengan menargetkan aparat kepolisian.

“Sekarang ini, kan, kepercayaan sebagian umat Islam terhadap kepolisian sedang mengalami penurunan,” kata Yon.

Dia berujar, para teroris membaca fenomena ini dan berusaha mendapatkan simpati dari umat Islam atas tindakannya itu. Namun, ucap Yon, umat Islam di Indonesia kini cukup cerdas membaca sabotase yang dilakukan kelompok teroris. Ia berharap apa pun bentuk aksi terorisme tidak akan pernah mendapatkan tempat di hati umat Islam.

“Publik di Indonesia, terutama umat Islam, cukup rasional dan tidak akan pernah bersimpati terhadap aksi-aksi terorisme,” tuturnya. (Poy)

Share artikel ini

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Masukan kode dibawah Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.