Kadin Ajak Pelaku Usaha Gali Peluang Bisnis Asia Afrika

Kadin Ajak Pelaku Usaha Gali   Peluang Bisnis Asia Afrika

Jakarta, Obsessionnews – Ketua Umum Kadin Indonesia, Suryo Bambang Sulisto, mengajak para pengusaha Indonesia menggali peluang bisnis dengan negara-negara di Asia dan Afrika. Terutama memanfaatkan momentum peringatan 60 tahun Konferensi Asia-Afrika.

“Secara demografisk, Asia dan Afrika meliputi 75.3 persen penduduk dunia dan 28.5 persen GDB dunia. Menurut ADB, pertumbuhan ekonomi Asia tahun ini 6.4 persen, yang tentunya berdampak bagi pertumbuhan ekonomi kawasan lain. Pada saat yang sama total GDP negara-negara sub-Sahara meningkat dari 650 miliar USD pada tahun 2005 menjadi 1600 miliar USD pada tahun 2014. Juga adanya bonus demografi, yakni jumlah kelas menengah yang semakin besar,” ujar Suryo, di sela-sela kegiatan KAA di Jakarta, Rabu (22/4/2015), seperti dilansir laman Kadin Indonesia.

Suryo menambahkan, kemitraan Asia-Afrika memasuki masa yang sangat menarik. Pada dekade terakhir ini proyeksi pertumbuhan ekonomi membaik dikedua kontinen, sehingga membuka peluang-peluang kerjasama ekonomi dan bisnis yang semakin besar.

Adanya komplementaritas antara ekonomi negara-negara Afrika dan negara-negara Asia. Misalnya dalam kerangka Perjanjian Perdagangan Bebas antara ASEAN dan Komunitas Pembangunan Afrika Selatan (SADC), negara-negara Afrika Selatan menyediakan produk-produk pertanian, seperti buah-buahan, sayuran, daging dan ternak.

Sedang negara-negara ASEAN menyediakan produk elektronik, mesin-mesin, dan mobil, sebagai produk impor penting negara-negara Afrika Selatan.

Hal demikian juga dapat dilihat apabila dibuka kerjasama ekonomi dengan the Common Market for Eastern and Suthern Africa (COMESA) dan the East African Community (EAC).

Sementara itu, sektor Perdagangan, Investasi, Infrastruktur, Maritim dan Agribisnis menjadi fokus pembahasan dalam Asian-African Business Summit (AABS) 2015. Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mengharapkan agar realisasi kerjasama ekonomi diantara negara-negara Asia Afrika dapat ditingkatkan dengan signifikan.

Dibidang perdagangan, AABS mendorong hubungan perdagangan dengan mendorong pemerintah untuk mengurangi hambatan–hambatan perdagangan, mendorong fasilitasi perdagangan, dan meningkatkan perdagangan jasa seperti pariwisata, dan meningkatkan perdagangan langsung antara negara-negara Asia dan negara-negara Afrika.

Kadin menargetkan volume perdagangan Indonesia ke Afrika meningkat sekitar 80% dalam kurun waktu tiga tahun ke depan, dari yang mulanya sekitar US$10,70 miliar menjadi US$20 miliar per tahun. Sementara itu, berdasarkan catatan Kadin, nilai tersebut masih jauh rendah bila dibandingkan dengan nilai perdagangan antara Afrika dengan China yang tembus hingga US$ 200 miliar dan dengan India yang mencapai US$ 70 miliar.

“Kita perlu menjajaki peluang-peluang bisnis, serta promosi perdagangan yang lebih baik lagi diantara negara-negara Asia Afrika, tak terkecuali bagi Indonesia,” kata Ketua Pelaksana AABS 2015, Noke Kiroyan.

Menurut Noke perdagangan dan Investasi di Afrika perlu diakselarasi karena bisa menjadi pasar yang menjanjikan apabila digarap secara optimal. Di sisi lain, selama ini pandangan negatif terhadap afrika karena beberapa isu seperti wabah ebola, boko haram dan pembajakan lepas pantai masih mempengaruhi minat investasi.

Meski demikian, Afrika dinilai cukup menarik untuk dilirik. Noke menyebutkan ada dua negara yang cukup potensial untuk dijadikan lahan investasi oleh pengusaha, diantaranya Nigeria dan Afrika Selatan. Pendapatan per kapita Nigeria sebesar US$3.500 dan jumlah penduduknya sangat besar, yaitu 175 juta orang, sementara pendapatan per kapita Afrika Selatan adalah sebesar US$6.500.

“Sudah menjadi tugas para pengusaha untuk membuka peluang-peluang itu. Untuk mempercepat tindak lanjut kerjasama, kami akan membentuk Asia Africa Business Council,” kata Noke.

Selain mendorong volume perdagangan, Kadin juga mengharapkan agar industri strategis dan Infrastruktur Indonesia bisa menarik minat para investor negara-negara Asia Afrika.

Dalam lingkup Asia Afrika, infrastruktur Indonesia masih berada di peringkat 17 dari 44 negara Asia Afrika. Infrastruktur yang minim mendongkrak biaya logistik yang mengakibatkan produk-produk dari Indonesia kalah bersaing di pasar global. Terkait hal ini, mutlak diperlukan pembenahan infrastruktur dan konektivitas secara terintegrasi.

Padahal, meskipun biaya logistiknya tinggi, Indonesia memiliki rel kereta api sepanjang 5.042 kilometer yang merupakan rel terpanjang diantara negara-negara ASEAN, dan jumlah bandara terbanyak yaitu 676 mengalahkan Tiongkok yang memiliki 497 bandara atau India yang mempunyai 352 bandara.

“Dibidang infrastruktur, kerjasama untuk menarik investasi swasta perlu ditingkatkan dalam rangka meningkatkan konektivitas di kedua kawasan,” kata Suryo.

pembangunan jalan, jembatan, pelabuhan, transpor dan telekomunikasi, serta sumber daya energi termasuk listrik, dalam rangka meningkatkan konektivitas dikedua kawasan.

Isu konektivitas di Indonesia menjadi perhatian yang besar karena Indonesia merupakan negara kepulauan. Fakta tersebut juga membawa gagasan agar Indonesia berbicara lebih banyak untuk pengembangan sektor maritim atau blue economy. Peluang bisnis tidak terbatas pada infrastruktur atau sarana transportasinya saja, akan tetapi pada potensi kelautan dan perikanan yang melimpah.

Di sektor agribisnis, Kadin Indonesia telah menyatakan siap mendukung rencana pemerintah untuk membangun ketahanan pangan dan juga meningkatkan komoditas unggulan ekspor melalui program Feed Indonesia, Feed The World.

Saat ini Kadin bersama pemerintah tengah bekerjasama dalam peningkatan kesejahteraan petani melalui perkebunan dan lahan pertanian.

Kadin menilai, praktik pertanian yang baik tidak terlepaskan dari dukungan teknologi, penelitian serta pengembangan. Pemanfaatan teknologi-teknologi di berbagai negara yang lebih maju terbukti membantu meningkatkan produktivitas para petani. Terkait hal ini, Kerjasama teknologi agribisnis diantara negara-negara Asia-Afrika seharusnya dapat ditingkatkan dan dilakukan lebih jauh lagi.

Share artikel ini

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Masukan kode dibawah Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.