Kadarsah Suryadi, Rektor Inspiratif 2017 Versi Men’s Obsession: ITB Menuju Entrepreneurial University

Kadarsah Suryadi, Rektor Inspiratif 2017 Versi Men’s Obsession: ITB Menuju Entrepreneurial University
Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB)Prof. Dr. Ir. Kadarsah Suryadi, DEA. (Foto: Sutanto/Men's Obsession)

Mengabdi di dunia pendidikan sejak awal meniti karier, merupakan pilihan hidup bagi Prof. Dr. Ir. Kadarsah Suryadi, DEA. Loyalitas, dedikasi, serta pengabdiannya pada dunia pendidikan di Indonesia, dan kampus almameternya, Institut Teknologi Bandung (ITB), membuahkan hasil. Belum lagi segudang prestasi yang ditorehkan serta gagasan-gagasan briliannya untuk membawa nama ITB lebih besar lagi.

Rasanya tak salah jika ia didapuk sebagai Rektor ITB periode 2015 – 2020 untuk yang pertama kalinya melalui musyawarah mufakat.

Ya, memimpin ITB sejak 2015 lalu, Kadarsah memiliki tujuan dan visi misi besar ingin membawa ITB menjadi Entrepreneurial University.

Ditemui di gedung Rektorat ITB,
Bandung, beberapa waktu lalu, Kadarsah bercerita banyak mengenai gagasan-gagasan serta pemikiran besar yang telah dan akan diimplementasikan di kampus pencetak ilmuwan ini.

“Jadi ketika 20 Januari 2015 saya dilantik, saat itu saya menyatakan bahwa ITB akan saya bawa bergerak dari research University menuju Entrepreneurial University, tanpa meninggalkan teaching and learning,” ungkapnya dengan ramah.

Kadarsah memaparkan bahwa ada tiga syarat utama untuk menuju Entrepreneurial University. Pertama, adalah excellent in teaching and learning yang terfokus pada program akreditasi internasional di samping akreditasi nasional.

Kemudian continuous improvement yakni suatu perbaikan dari masa ke masa untuk mencapai standar internasional.

“Jadi dengan demikian maka program pertama saat ini dari 49 program studi, sudah ada 25 yang terakreditasi internasional. Dan kita akan lengkapi sampai akhir 2019 semua program S1 harus akreditasi internasional. Nah ini program pertama dalam entrepreneurial,” pungkas pria kelahiran Kuningan, 22 Februari 1962 ini.

Setelah itu Excellent in Research, merupakan syarat kedua untuk menuju Entrepreneurial University. Dalam hal ini, Kadarsah memberikan motivasi kepada semua dosen dan para peneliti untuk bisa meningkatkan publikasi hingga dunia internasional. Hal tersebut bertujuan agar dunia lebih mengenal karya anak bangsa. Kadarsah memberikan contoh, antara lain, peran ITB pada Program Kemenristek Dikti yakni Program Unggulan Iptek (PUI) yang cukup besar.

Kemudian Excellent in Innovation, merupakan program para inovator ITB yang siap terjun ke masyarakat. Kadarsah menegaskan, kini ITB memiliki 76 inovator yang turut berperan di masyarakat, antara lain inovator yang berhasil membuat handphone nasional, kemudian berhasil menciptakan menara BTS di udara yang bisa terbang dengan tujuan ingin mencapai daerah-daerah yang tidak dapat menerima akses menara BTS konvensional.

Selain itu, implementasi produk katalis kimia, juga menjadi satu keberhasilan dalam rangka menuju entrepreneurial university.

“Industri kimia itu industri yang paling fundamental yang harus dimajukan. Dan Alhamdulillah dengan katalis kimia karya para dosen dan peneliti kita sudah bisa menghasilkan katalis yang bisa meningkatkan kapasitas kilang minyak, pabrik pupuk dan industri kimia lainnya yang meningkat secara signifikan. Itu dari riset yang dilanjutkan ke inovasi. Nah jadi dari riset sendiri, tahun ini menjadi tahun yang fenomenal. Karena angka publikasi internasional menembus di atas 1000, yang tadinya 800 sampai 900, sekarang sudah 1388. Alhamdulillah,” ujarnya dengan penuh rasa syukur.

Syarat lain yang juga penting untuk menuju Entrepreneurial University, adalah adanya kolaborasi dengan masyarakat dan pemerintah, serta para pemain industri hingga skala
internasional. ITB sendiri telah melakukan kerjasama dengan lebih dari 350 perusahaan dan industri dari seluruh dunia.

Menurutnya, hal tersebut menjadi faktor penting lantaran hubungan industri internasional ini, akan mampu mengakselerasi pengembangan ilmu serta memperkuat kerjasama dalam hal inovasi. Salah satu contoh, adalah kerjasama dengan sebuah universitas di Jepang untuk proyek Carbon Capture Storage (CCS).

Tak hanya itu, peran ITB juga cukup besar dalam dunia pendidikan nasional. Selain program pertukaran mahasiswa dan dosen dengan universitas di negara lain, ITB juga melaksanakan program double degree yang bekerjasama dengan beberapa universitas di mancanegara.

“Kita menerima profesor, guest lecturers dari luar untuk mengajar di kita, kita juga punya dosen yang mengajar di tempat lain untuk delivery ilmu, ada penyamaan pendidikan dan pengetahuan. Lalu kita juga melakukan joint supervision. Ada pembimbing yang dari luar juga untuk publikasi bersama-sama maju. Jadi kita ingin dalam dunia pendidikan juga masalah global tidak boleh tertinggal,” ucap lulusan S3
Universite de Droit, d’Economie et des Sciences d’Aix Marseille, Perancis ini.

Memimpin dengan HARMONI

Memimpin ITB dengan harmoni telah menjadi kunci dan mottonya selama ini. Menurutnya, harmoni akan mampu menciptakan satu sinergi yang baik, selaras dengan bhineka tunggal ika. Dengan harmoni, kelemahan dan kekuatan akan bisa bersatu untuk saling mengisi.

Namun ada yang lebih penting dari itu. Bagi Kadarsah, Harmoni memiliki makna lain yang lebih mendalam. Ya, HARMONI terdiri dari 7 kunci dalam memimpin ITB, yakni Humble, harus rendah hati. Agile yaitu responsif terhadap lingkungan, aktif dan lincah terhadap suatu perubahan. Kemudian Respect, harus menghormati siapapun, baik hormat pada yang lebih tua, maupun lebih muda dan hormat pada aturan. Setelah itu Motivated, keinginan untuk maju dari seluruh dosen dan mahasiswa ITB.Kemudian Outstanding, harus memiliki standar kualitas untuk hasil yang terbaik. Nation, melakukan yang terbaik untuk bangsa dan negara, bukan hanya untuk diri sendiri atau golongannya. Dan yang terakhir adalah Integrity, yaitu sebuah kesatuan antara pikiran, ucapan dan perbuatan.

Selain harmoni, Kadarsah juga menggalangkan rumus 4R (Rasio, Raga, Rasa, dan Reliji) dalam pembinaan seluruh mahasiswa ITB.

“Rasio ini penting bagi mahasiswa untuk menjadi orang pintar, tapi pintar saja tidak cukup, badan juga harus sehat. Maka didukung Raga, dan ITB ada mata kuliah wajib olahraga, ada unit kegiatan sepakbola, tennis, dan lainnya. Tapi pintar dan sehat juga bisa menjadi berbahaya karena dia bisa melakukan apapun. Untuk itu diisi dengan Rasa, harus punya empati, berbudi luhur dan kepedulian sosial. Jadi ketika dari rasio dia pintar, badan sehat, punya empati, berbudi luhur, nah ini akan menghasilkan pekerjaan yang bermanfaat. Setelah itu munculah
Reliji, harus menjunjung tinggi nilai nilai agama. Nah kesatuan Harmoni dan 4R ini saling melengkapi, dan ini semua yang akan melengkapi Entrepreneurial University,” jelas ayah tiga putri ini. (Suci Yulianita)

Share artikel ini

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Masukan kode dibawah Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.