Johan Budi SP Orang Baik di Sisi Presiden (Bagian 3)

"Saya Tidak Akan Masuk Pada Kepentingan Politik"
Humble, tenang, egaliter dan familiar, begitulah kesan yang terekam oleh Men’s Obsession yang mengenalnya sejak kurang lebih 10 tahun lalu, selepas menjadi wartawan dan bergabung ke KPK. Seolah tak ada batas antara Johan dengan para wartawan yang ngepos di gedung antirasuah ini. Kapan saja wartawan butuh informasi, ia dengan mudah ditemui. Jiwa wartawannya yang terus bersemayam itulah yang membuat ia merasa satu hati dengan para jurnalis. Suasana itulah yang tetap terasa saat Men’s Obsession mewawancarai ayah dua orang anak ini di sela-sela kesibukannya. Berikut petikan wawancara : Bisa ceritakan bagaimana Anda bisa sampai menjadi Juru Bicara Presiden ? Pertama ketika saya dipanggil Pak Presiden, awalnya belum tahu hanya ditelepon untuk diminta bertemu kemudian setelah bertemu disampaikan saya diminta menjadi staf khusus presiden bidang komunikasi. Saat itu saya tanya tugasnya apa? Presiden menjelaskan bahwa tugas saya, pertama, mengomunikasikan kegiatan presiden kepada publik melalui media. Kedua, mengoordinasikan humas-humas di Kementerian agar bisa satu visi. Dalam koordinasi bukan soal tugasnya, tapi bagaimana penyampaian itu bisa sama antar kementerian. Sama itu dalam artian sinergi dengan kebijakan presiden. Kedua tugas besar itu sebenarnya yang diminta oleh presiden. Ada kesan khusus saat pertama ke Istana Presiden ? Saya terus terang saja belum pernah masuk di lingkungan istana. Pertama tentu saya selama sehari, dua hari, tiga hari, saya kaget juga begitu ditunjuk, langsung diajak rapat terbatas. Disuruh ikut mendengarkan. Saya kira kan perlu orientasi dulu ternyata langsung. Saya kan baru tiga hari ini, intinya saya baru dalam tahapan melihat, mendengar, kemudian meminta informasi bagaimana tata kerja SOP yang ada di kalangan istana. Ketika beberapa hari menyesuaikan dengan lingkungan istana ini, apa yang membedakan ketika menjadi staf khusus presiden di istana dan sebagai seorang jubir KPK? Mungkin persoalannya agak lebih luas di sini. Kalau di KPK kan hanya fokus berkaitan dengan pemberantasan korupsi di mana ruang lingkupnya penindakan dan pencegahan. Kalau di sini kan lebih luas. Saya sendiri belum tahu sejauh mana persoalan-persoalan ini, tetapi yang pertama membedakannya ini adalah itu tadi. Kedua menurut saya, di KPK waktu jadi Jubir saya setiap hari bisa berinteraksi dengan pimpinan KPK kalau di sini kan tidak bisa setiap saat meskipun di dalam tugas, saya seringkali diminta mendampingi Bapak Presiden, tapi kan tidak bisa berdiskusi secara terus-menerus, tidak bisa seperti ketika di KPK. Kalau di KPK kan saya bisa berdiskusi ketika ada isu kalau di sini kan tidak bisa setiap hari pasti harus menunggu waktu tertentu bisa beraudiensi dengan presiden, memberi masukan, atau saya diminta untuk apa. Kalau seperti itu apakah ada kesulitan untuk memperoleh informasi? Saya kira belum ada karena saya masih baru. Selama ini, saya cukup dibantu oleh birokrasi istana, staf komunikasi presiden yang lainnya, kemudian juga ada teman-teman di KSP. Tapi karena masih baru saya harus banyak mendengar, melihat, dan bagaimana mengomunikasikan itu keluar. Kalau di KPK Anda dikenal dekat dengan wartawan, di istana ini bagaimana?Karena tentu ada protokoler yang berbeda. Saya kan staf khusus presiden, bukan kepala biro humas istana, itu berbeda. Tapi kalau soal kedekatan, saya tidak mau menjaga jarak dengan teman-teman media, sebatas apa yang bisa disampaikan, dan tentu tidak intens bertemu, tidak seperti di KPK hampir tiap hari. Teman-teman kan punya jaringan tersendiri karena berhubungan dengan biro pers. Presiden mengakui suka dengan gaya Anda sehingga ditarik ke istana kira-kira ketika berbicara langsung dengan Pak presiden apa yang disampaikan? Yang pertama itu tadi bahwa beliau menyampaikan saya ingin Mas Johan gabung di tim komunikasi sebagai staf khusus presiden. Nanti pembagiannya bidangnya berkaitan dengan komunikasi terutama dengan teman-teman media lalu dengan humas-humas di kementerian. Saya awalnya ditanya mau nggak? Tapi saya harus tahu dulu tugas saya apa karena saya mampu nggak untuk melaksanakannya, lalu saya harus bertanggung jawab kepada siapa? Setelah disampaikan apa yang menjadi alasan tersebut Anda langsung menerima, padahal kita tahu bahwa di KPK berbeda dengan istana. Misalnya ada kepentingan politik di dalamnya ? Tentu saya harus tidak masuk dalam lingkaran kepentingan politik. Saya mau karena menurut presiden, saya dianggap mampu menjelaskan kepada publik, saya as a professional saja. Pengalaman saya di KPK, menjadi wartawan mungkin bisa berguna untuk menyampaikan apa saja yang menjadi program presiden kepada publik sehingga publik memahami. Menurut presiden, saya dianggap bisa kan harus saya buktikan itu. Kalau dari sisi pemerintahan Pak Jokowi, apakah itu bisa menjadi salah satu pertimbangan? Saya kan sempat ketemu tiga kali dengan Pak Presiden waktu jadi Plt. Pimpinan KPK. Menurut saya Pak Jokowi orang baik, patut untuk dibantu. Keberadaan Anda di Istana ada yang mengaitkan dengan soal tarik menarik kepentingan politik, benar? Waktu di KPK kan ada orang luar yang mencoba mengait-ngaitkan ke politik kan? itu biasa dalam kehidupan. Kalau Anda takut bentrok atau takut dengan kekuasaan kita takut tergilas, ya jangan bekerja di mana-mana. Sama saja di KPK juga kadang pihak luar mengkaitkan itu ke politik. Di sini presiden kan juga lembaga yang dipilih karena proses politik, tapi tentu saya tidak mau mencampuri untuk saya ikut berpolitik, saya nggak mau tapi kalau menarik-narik ke situ itu terserah yang penting saya tidak mau masuk ke dalam wilayah politik, saya hanya ingin menyeimbangkan pengalaman saya sebagai juru bicara. Kalau pertimbangan dari sisi keluarga? Bukankah ketika di KPK, keluarga selalu mewanti-wanti agar Anda tidak menjadi pimpinan KPK karena ada resiko tertentu. Tapi ketika masuk ke dalam istana, apakah keluarga mempunyai pesan-pesan tertentu? Apa pun jabatannya saya selalu sampaikan kepada ibu saya, sebab ibu saya tidak tahu politik, tapi ada sesuatu menurut saya yang patut untuk diikuti. Pesannya cuma satu, kamu di mana pun berada harus hidup jujur, jangan mengkhianati negara yang baik-baik itulah, dan jangan lupa sholat. Selalu itu. Kalau isteri saya lebih banyak menyerahkan keputusan kepada saya karena saya selama 10 tahun di KPK, isteri dan anak saya belum pernah menginjak ruangan saya. Karena saya memang memisahkan antara keluarga dan pekerjaan. Bahkan waktu saya dilantik itu kan tidak mengajak isteri waktu menjadi Plt Pimpinan KPK. Apakah ada support dari pihak KPK kepada Anda ? Saya kan sudah menyampaikan di mana pun saya berada, tentu saya membantu pemberantasan korupsi dan KPK secara lembaga. Saya kan membantu KPK dalam pemberantasan korupsi dimanapun saya berada karena saya sudah merasa menjadi bagian yang dalam kehidupan saya selama 10 tahun, KPK itu melekat betul, tapi sebagai lembaga ya bukan orang per orang. Kalau yang mengucapkan selamat banyak ya? Oh banyak, pegawai-pegawai. Mantan pimpinan seperti Pak Abraham Samad, Pak Bambang Widjojanto, Pak Tumpak, Pak Bibit, Pak Yasin. Tidak bisa disebut satu per satu, teman-teman alumni KPK banyak yang di departemen kementerian itu juga kirim SMS, WA saya. Pak Samad waktu itu sempat ketemu di ulang tahun KPK, peresmian gedung itu. Setelah jadi jubir belum ada WA dari dia, tapi dia pernah menyampaikan itu. Pak Bambang Widjojanto juga pernah menyampaikan lewat SMS. Pak Samad pernah ketemu sama saya waktu induksi pimpinan, waktu itu sudah ramai. Kalau Pak Antasari Azhar? Waktu saya Plt, ulangtahun kan, saya mengundang Pak Antasari. Cuma beliau tidak bisa hadir. Kabarnya Anda banyak mengetahui kasus-kasus besar di KPK dan itu tidak bisa lepas dengan tarik-ulur kekuasaan. Apalagi setelah Anda di Istana… Saya kira harus bisa dipisahkan itu, dan saya tidak mau apa yang saya tahu di sana ya untuk saya. Itu kan sudah lewat dan tidak hubungannya dengan pimpinan sekarang. Harapan terhadap pemerintah ini? Kami berharap terutama ke Presiden Jokowi untuk selalu memegang teguh janji dan amanat rakyat. (Hassan Salampessy/Sahrud/Men’s Obsession)Baca Juga: Johan Budi SP Orang Baik di Sisi Presiden (Bagian 1)Johan Budi SP Orang Baik di Sisi Presiden (Bagian 2)Johan Budi SP Orang Baik di Sisi Presiden (Bagian 4)Johan Budi SP Orang Baik di Sisi Presiden (Bagian Terakhir dari 5 Tulisan)




























