Jangan Mau Mati Akibat Seks Bebas

Jangan Mau Mati Akibat Seks Bebas
Ilustrasi seks bebas. (Sumber foto: Broadly - Vice)

Akar dari seks bebas ialah lust atau hawa nafsu, jadi bukan masalah broken home atau tidak. Hawa nafsu itu ada di dalam diri setiap manusia, bukan hanya pada anak dari kelurga yang hancur. Itu adalah dosa dasar, keinginan daging, dan itulah yang dieksploitasi dunia.

Seks di luar nikah bukanlah suatu fenomena baru. Sejak zaman dahulu seks bebas merupakan dosa yang selalu menjerat dan menjatuhkan manusia, terlebih lagi di masa sekarang ini di mana internet dan berbagai teknologi canggih semakin memudahkan akses kepada hal-hal tersebut.

Lebih dari itu, dulu yang dianggap mudah terjatuh ke dalam jeratan seks bebas adalah mereka yang berasal dari broken home atau keluarga yang hancur, sebagai bentuk pelarian maupun pemberontakan.

Zaman ini, mereka yang dari keluarga harmonis pun ternyata…hmm…mempunyai alasan tersendiri melakukan seks bebas. Asal melakukan dengan pasangan sendiri, asal suka sama suka, maka sah-sah saja… Benarkah ini? Mengapa hal ini bisa terjadi? Dan bagaimana mengatasinya?

Overadvertised Sex

Akar dari seks bebas ialah lust atau hawa nafsu, jadi bukan masalah broken home atau tidak. Hawa nafsu itu ada di dalam diri setiap manusia, bukan hanya pada anak dari kelurga yang hancur. Itu adalah dosa dasar, keinginan daging, dan itulah yang dieksploitasi dunia. Hal ini bisa menular ke siapa saja. Alkitab berkata jikalau kasih akan Bapa tinggal di dalam diri seseorang, dia akan hidup menurut kehendak Bapa. Namun jika seseorang mencintai dunia, seperti yang tertulis di surat Yohanes yang pertama, yaitu dengan mengikuti keinginan mata, keinginan daging dan keangkuhan hidup, kasih Bapa tidak bisa tinggal dalam diri orang seperti ini.

Jelas sekali ini bukan bicara soal latar belakang seseorang, tetapi pilihan bebas orang itu untuk berdosa. Tentunya selalu ada pekerjaan iblis juga di balik setiap dosa. Sadarlah bahwa iblis bukan hanya mengincar orang jahat tapi juga orang baik-baik. Kita harus selalu waspada, sebab Iblis itu seperti singa yang mengaum-ngaum hendak memangsa siapa saja. Masalah seks bebas pada akhirnya hanya berakar pada dua hal, yaitu hawa nafsu dan iblis. Nah, sekarang tinggal kita mengikuti kehendak siapa: iblis atau Tuhan.

Kalau zaman dulu mungkin lebih konservatif, zaman sekarang lebih liberal, serba bebas, dan serba instan. Seperti makanan yang lama-kelamaan pasti basi, “temperatur” zaman ini semakin mempermudah dan mempercepat orang untuk jatuh ke dalam dosa. Dulu, untuk berbuat dosa masih butuh proses, tetapi sekarang tidaklah demikian.

Apalagi iblis begitu gencar mempromosikan seks bebas melalui media yang terus memborbardir pikiran kita dengan pesan-pesan di alam bawah sadar bahwa instan itu baik, seks itu tidak bisa menunggu, pernikahan itu tidak sakral, dan kalau tidak bahagia cari jalan lain. Seks menjadi dibesar-besarkan—overadvertised—dan dipikirkan terus-menerus, seolah itu yang terpenting bagi hidup manusia. Padahal terlalu banyak hal lain yang perlu kita lakukan.

Sungguh, budaya dan media memainkan peran untuk membangun atau justru menghancurkan sebuah generasi. Tapi tetap penjagaan kita yang terbaik adalah firman Tuhan! Kita tahu apa yang baik dan buruk, mana yang benar dan salah, dan kita terus diperbaharui oleh Roh Kudus supaya tidak luntur dalam menaati firman Tuhan.

Masa sih Dosa Mendatangkan Maut?

Pertama-tama, maut memang bicara tentang kematian dan neraka. Meskipun demikian, bukan berarti jikalau melakukan dosa (dalam hal ini seks bebas), kita pasti langsung mati secara harafiah. Memang pada akhirnya setiap manusia harus mempertanggungjawabkan segala perbuatannya, yang tersembunyi sekalipun, di hadapan Tuhan yang Maha Tahu setelah ia meninggal dunia.

Arti kedua maut juga bisa berarti life destruction atau kematian tertentu di dalam kehidupan kita, bukan nyawa kita. Bila seks dilakukan di luar pernikahan, baik pasangan yang melakukan hubungan seks sebelum menikah atau perselingkuhan yang terjadi dengan orang ketiga dalam sebuah pernikahan, pasti ada sebuah kepercayaan yang dikhianati sehingga hubungan menjadi dingin dan sulit untuk saling mempercayai lagi. Bahkan pada akhirnya bisa berakhir pada luka batin maupun perceraian.

Dalam diri anak-anak yang dilahirkan dalam hubungan salah itu pasti ada sesuatu yang mati dalam jiwa mereka. Mereka akan bertumbuh dewasa dengan kepercayaan bahwa pernikahan itu tidak bisa langgeng dan setia, tidak ada cinta sejati, kasih yang tulus, dan sebagainya. Bayang-bayang maut pasti mengikuti perjalanan orang yang memilih untuk hidup di dalam dosa.

Mengapa harus memilih hidup di dalam kutuk jika kita punya pilihan hidup di dalam berkat Tuhan? Ketika Tuhan mengatakan “upah dosa adalah maut”, Dia bukan menakut-nakuti kita. Tuhan memberitahukan kebenaran karena Dia peduli kepada kita, anak-anak-Nya, dan rindu memberkati hidup kita. Pilihlah hidup di dalam berkat Tuhan!

Mengapa Harus Tunggu Sampai Menikah?

Pertanyaan seperti ini sering timbul dari mereka yang sudah tidak tahan dan ingin cepat berhubungan seks.

Kenapa tidak tahan?

Karena mereka terus memberi makan jiwa mereka dengan materi-materi seks. Memang benar dorongan seks akan tetap ada sekalipun kita sudah hidup di dalam Tuhan, tapi tidak akan berlebihan. Kita tidak akan dicobai melebihi kekuatan kita. Sebaliknya kalau kita tidak secara sengaja menghindari pencobaan tetapi malah masuk ke dalamnya dan bergaul dengan orang-orang yang salah, tak perlu terlalu lama pertahanan kita pasti hancur.

Lalu mengapa akhirnya kebijakan Tuhan yang mengajarkan kita untuk menahan seks sampai hari pernikahan dipertanyakan?

Mengapa Tuhan dipersalahkan untuk hawa nafsu kita yang kita besar-besarkan sendiri?

Tuhan tidak menciptakan kita dengan nafsu di luar batas, tetapi gaya hidup yang salah itulah yang memancing hawa nafsu. Sungguh, melampiaskan nafsu tidak akan memuaskan hawa nafsu, tetapi justru memperbesarnya!

Mengapa kita diciptakan bisa lapar? Agar bisa menikmati makanan.

Mengapa kita memiliki dorongan seks? Supaya bisa menikmatinya dalam pernikahan yang kudus dan bahagia.

Tunggu sebentar saja, makan malam yang indah sedang disajikan…

Belajarlah sabar, pernikahan kudus nan indah sedang dipersiapkan…

Sungguh, semua indah pada waktunya!

Sebuah rumah tangga yang bahagia terdiri dari banyak hal lain yang dapat dinikmati dan bukan hanya seks. Sebagian besar waktu bersama suami-isteri, serta anak-anak yang Tuhan karuniakan kepada mereka, dinikmati du luar ranjang! (Samuel M.J Karwur,  A New Dimension Bearer)

 

 

 

Share artikel ini

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Masukan kode dibawah Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.