Jangan Lupa, Golkar Pernah ‘Ngerjain’ Partai Banteng (Bagian Terakhir dari 2 Tulisan)

Jangan Lupa, Golkar Pernah ‘Ngerjain’ Partai Banteng (Bagian Terakhir dari 2 Tulisan)
Penderitaan Megawati terus berlanjut. Rumah untuk markas PDI disegel oleh pemerintah. Selain itu dia beberapa kali diperiksa oleh kepolisian dengan tudingan trlibat dalam peristiwa 27 Juli 1996. Tentu saja tuduhan itu terlalu mengada-ada. (Baca: Jangan Lupa, Golkar Pernah ‘Ngerjain’ Partai Banteng (Bagian 1)) Pemilu di era Orba diikuti Golkar, PPP, dan PDI. Pada Pemilu 1997 Megawati menyatakan golput. Dalam pemilu tersebut PDI hanya mendapat 11 kursi DPR, sedangkan pada Pemilu 1992 memperolah 56 kursi. Tanggal 21 Mei 1998 pemerintahan Orba jatuh oleh gerakan refomasi. Presiden Soeharto mengundurkan diri, lalu posisinya digantikan oleh BJ Habibie yang sebelumnya menduduki posisi Wakil Presiden. Di era BJ Habibie itu dilakukan reformasi di bidang politik, yakni siapapun boleh mendirikan partai politik. Pada Januari 1999 Megawati mendeklarasikan PDI Perjuangan (PDI-P) yang diklaim sebagai kelanjutan PDI. Pada Pemilu 1999, yang merupakan pemilu pertama di era reformasi, PDI-P tampil sebagai pemenang, diikuti Golkar, dan PPP. Selanjutnya dalam Sidang Umum MPR Megawati bersaing dengan Abdurrahman Wahid atau Gus Dur untuk memperebutkan kursi Presiden. Ketika itu Megawati menelan kekalahan. Megawati harus puas menduduki kursi Wakil Presiden. Di kemudian hari impian putri Presiden pertama RI Ir. Sukarno ini untuk menjabat Presidn akhirnya terwujud. Pada Juli 2001 Megawati dilantik menjadi Presiden, menggantikan Gus Dur yang diberhentikan oleh MPR. Selanjutnya Megawati maju pada Pilpres 2004 , yang merupakan pemilihan presiden yang pertama kali dipilih langsung oleh rakyat. Di luar dugaan Megawati kalah melawan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Kemudian Megawati kembali tak berkutik menghadapi SBY pada Pilpres 2009. Dua kali secara beruntun kalah dalam Pilpres, Megawati kemudian memberi kesempatan kepada seorang kadernya, Joko Widodo (Jokowi), maju di Pilpres 2014. Saat itu Jokowi yang berpasangan dengan Jusuf Kalla berhasil mengandaskan perlawanan duet Prabowo Subianto-Hatta Rajasa. Para pengamat menilai meski Megawati tidak duduk di pemerintahan, ia memiliki pengaruh besar dalam berbagai kebijakan yang diambil oleh pemerintahan Jokowi. (arh)