Ini Rahasia Sukses BCA (Bagian 2)

Seimbangkan Karyawan Baru dengan Karyawan Lama Kebanyakan karyawan di BCA telah bekerja selama bertahun-tahun, dan sekitar 7 dari 10 orang dari 21.000 orang telah mendampingi perusahaan ini selama 13 tahun atau lebih. Tetapi, baru-baru ini BCA telah mengadakan ekspansi besar-besaran, dan telah mempekerjakan lebih kurang 4.000 karyawan baru selama 2,5 tahun terakhir. Dari semua karyawan baru ini, 7 dari 10 orang di antaranya berusia lebih muda dari 25 tahun. Tantangan yang dihadapi adalah BCA adalah bagaimana cara menyeimbangkan dinamika keterlibatan antara karyawan lama dengan rekannya yang masih muda. BCA berhasil mencapai hal ini dengan cara mendorong rasa keterikatan dan kesetiaan tinggi di kalangan para karyawannya, sehingga tingkat keluar-masuk karyawan sangat rendah (secara keseluruhan sebesar 2%). Jahja menolak asumsi bahwa karyawan yang lebih muda memiliki kecenderungan alami untuk bersikap tidak setia dan berganti pekerjaan sesukanya. Dengan pengarahan dan bimbingan yang tepat, karyawan BCA baik yang tua maupun yang muda akan merasa terus terlibat. Jahja telah menanamkan keyakinan ini secara agresif melalui program-program pengembangan manajemen, untuk memastikan agar BCA bukan hanya mempekerjakan, tetapi juga mempertahankan orang-orang yang berbakat . “Kita harus mencari bakat kepemimpinan dari dalam BCA sendiri. Dan jika kita tidak dapat menemukannya (dalam bank sendiri), maka kita harus berhasil mendapatkan (tenaga kerja) yang terbaik dari industri ini,” katanya. “Tetapi, mereka harus sanggup dan bersedia menyerap budaya dan nilai-nilai kami.” Hal itu disetujui Armand. “Betul, karyawan yang lebih muda cenderung lebih menuntut. Apabila mereka tampak tidak sabaran, itu hak mereka, mengingat tidak seperti di masa lalu, perubahan dapat terjadi lebih cepat. Kita perlu membiarkan generasi baru memberikan ide dan membuat perubahan dengan bebas. Kalau kita mendukung (karyawan yang lebih muda), mereka bisa sama setianya dengan generasi manapun juga,” katanya. Untuk memastikan agar “energi mentah” dari karyawan muda tersalur secara produktif, bank mendirikan sistem formal maupun informal untuk berbagi pengetahuan, dan mengadakan penghargaan untuk inovasi. BCA membangun “komunitas praktik”, atau kelompok-kelompok “penghancur masalah” operasional dan layanan pelanggan dengan cara menciptakan budaya inovasi, berbagi pengetahuan, pengalaman, dan mendorong karyawan-karyawan muda untuk bergabung menjadi anggota kelompok-kelompok tersebut. Teknologi, terutama media sosial (medsos), memainkan peranan kunci dalam mendorong keterlibatan di BCA. Semakin cepatnya adopsi medsos di Indonesia telah menjadikan medsos sebagai perangkat yang sangat berharga. Para pemimpin seperti Armand dan Jahja sering berkomunikasi dengan karyawan muda via Black Berry Messenger (BBM) dan WhatsApp, platform komunikasi yang dipergunakan secara luas di Indonesia. Hal ini memungkinkan diadakannya diskusi dan debat harian mengenai ide dan inovasi baru, sehingga memperkuat pentingnya keterlibatan sebagai kebiasaan dalam kepemimpinan. (bca/arh)Baca juga: Ini Rahasia Sukses BCA (Bagian 1)





























