Infrastruktur Akhir Zaman (2)

Infrastruktur Akhir Zaman (2)

 

Oleh : Salamuddin Daeng

Apakah kalian mendirikan pada tiap-tiap tanah tinggi bangunan untuk bermain-main. (Asy-Syu’ara’: 128)

Pendanaan infrasrukur dengan menggunakan utang sampah dan uang sampah dalam jumlah besar produk pasar keuangan global akan membawa akibat pada peningkatan level krisis keuangan global, yang saat ini sedang berhadapan dengan tiga masalah fundamental, yang tidak mungkin
terselesaikan tanpa ada sebuah guncangan perang besar.

Krisis tersebut yakni ; Pertama : krisis overproduction yakni kelebihan kapasitas produksi global yang tidak akan mampu diserap oleh pasar. Kondisi ini akibat efesiensi luar biasa dari industri, penggunaan tehnologi, rekayasa genetika dan penemuan penemuan baru yang mampu memompa produksi, namun menekan penggunaan tenaga kerja dan minimakisasi upah.

Hampir seluruh sektor mengalami overproduksi, seperti pangan, energi, besi baja, elektronik, outomotif, tekstil, dan lain sebagainya. Produk produk tersebut melimpah namun pada sisi lain pasar tidak dapat menyerapnya. Sementara upaya peningkatan kapsaitas pasar dengan
mendorong perdagangan bebas, pembukaan pasar, regionalisme, tidak mendapat hasil significant.

Dalam kasus Indonesia overproduksi global telah memukul industri nasional akibat liberalsiasi perdagangan, penghapusan seluruh hambatan
atau barrier seperti tarif dan proteksi. Dalam kasus Indonesia memang ada penomena aneh yakni harga barang kebutuhan hidup pada tingkat global menurun, namun di Indonesia justru meningkat. Hal ini menunjukkan level pengurasan ekonomi dan keuangan rakyat di Indonesia yang sangat intensif jauh lebih dalam dibandingkan negara atau kawasan lain di dunia.

Krisis overproduksi mengakibatkan pertarungan yang semakin keras antara perusahaan raksasa dalam merebut pasar, pertarungan keras negara negara industri dalam merebut wilayah dalam menyediakan pasar bagi perusahaan perusahaan mereka, overproduksi mendorong negara negara industri kembali pada protecsionisme seperti yang dijalankan oleh China melalui subsidi mata uang dan politik perdagangan lainnya, Ingris dengan Brexit dan Amerika Serikat dengan buy americant product dan Eropa dengan buyerupean act.

Krisis fundamental kedua adalah ; krisis underconsumption yakni daya beli masyarakat yang jatuh ke tempat paling rendah. Pada tingkat global terjadi kemiskinan dan ketimpangan yang luar biasa di berbagai negara. Lebih dari 1.5 miliar penduduk bumi jatuh dalam kemiskinan, 1 miliar diantaranya benar benar kelaparan. Di Indonesia kekayaan 4 orang setara dengan kekayaan 100 juta penduduk.

Logika jatuhnya daya beli bukti underconsumption dalam ekonomi Indonesia. Keadaan ini akan berlangsung lama dalam tempo yang panjang. Semetara pemerintah tidak memiki sumber daya yang memadai untuk memompa daya beli. Akibatnya industri tutup, banyak perusahaan
gulung tikar. Kondisi ini akan semakin memperburuk kondisi daya beli sendiri.

Underconsumption disebabkan oleh pengangguran yang semakin meluas di seluruh negara. Sehingga isue create job menjadi isu utama yang
diusung oleh para politisi di seluruh dunia dalam memenangkan pemilihan baik presiden maupun angggota parlemen. Namun sejauh ini belum menunjukkan hasil. Pengangguran malah semakin bertambah.

Sementara sumber penghidupan petani dari agricultural telah direbut oleh perusaahaan pangan besar. Pangan global yang melimpah hanya dipasok oleh tidak lebih dari 10 perusahaan pangan raksasa global dari negara negara industri maju. Akibatnya petani kehilangan lapangan
pekerjaan dan pasar produk petani direbut oleh perusahaan raksasa.

Akhirnya petani dan buruh serta kaum miskin kehilangan kemampuan dalam membeli barang dan jasa yang mereka perlukan, padahal barang dan jasa tesebut melimpah di pasar, mengisi ritel ritel dan outlet outlet dengan minim sekali pembeli.

Krisis fundamental ketiga adalah ; krisis over accumulation yakni melimpahnya uang sampah dan utang sampah hasil produk pasar keuangan
dan perdagangan utang. Krisis ini mengakibatkan ekonomi tidak dapat Bergerak dalam sektor riel. Ibaratnya mau menghasilkan barang tapi
barang sudah melimpah. Mau mendorong orang berbelanja tapi daya beli sudah tidak ada. Mau menurunkan harga tapi tidak mungkin di bawah ongkos produksi. Mau menggratiskan tapi tidak mungkin karena itu bisa membunuh kapitalisme. Jadi tidak ada jalan keluarnya. Ekonomi masuk dalam perangkap lubang hitam.

Akibatnya ekonomi bergerak di sektor keuangan seperti spekulasi mata uang, bursa saham atau pasar modal, perdagagan utang, dan penciptaan
berbagai produk derivatif sektor keuangan. Ekonomi bergerak dengan logika money to money, uang langsung memproduksi uang. Uang tidak lagi butuh landasan produksi barang dan jasa jasa.

Sementara sisi lain Dolar Amerika Serikat semakin independen baik terhadap emas, minyak maupun terhadap neraca perdangan AS. Negara ini
defisit perdagangan dan neraca primer tapi pencetakan uang dolar semakin gila gilaan. Tidak hanya Amerika serikat, negara negara lain
mencetak utang bahkan hingga melebihi PDB mereka. Membiayai negara dan pemerintahan dengan utang. Utang dibuat tanpa ada lagi landasan atau pijakan ekonominya. Demikian juga dengan perusahaan, mereka sibuk memproduksi utang. Sehat tidak nya sebuah negara dan perusahaan ditentukan oleh rating atau peringkat utang mereka.

Negara negara yang kita kenal kaya seperti Amerika Serikat, Jepang, China dan negara negara Eropa adalah negara penghutang besar. Utang
negara negara tersebut sudah tidak dapat diketegorikan masuk akal. Utang tersebut tidak mungkin terbayarkan. Demikian juga dengan perbankkan dan perusahaan di seluruh negara kaya hidup diatas utang menggunung.

Maka terjadilah buble finance. Utang global sudah lebih dari 150% PDB global. Sedangkan produk pasar keuangan nilainya 10 kali lebih besar
dibandingkan PDB dunia. PDB dunia berada pada angka 60 triliun dolar tapi produk keuangan membengkak mencapai 600 triliun dolar. Jika utang runtuh maka pasar keuangan runtuh. sehingga untuk bertahan dari keruntuhan maka harus diciptakan gelembung utang dan gelembung keuangan yang baru.

Itulah mengapa pembangunan infrastruktur skala besar digalakkan. Pembangunan infrastruktur skala gila semacam itu merupakan strategi akumulasi lebih lanjut untuk memproduksi uang sampah, memperoduksi utang sampah, sebagai sumber uang untuk menopang
peradaban sekarang yang tengah membusuk.

Cepat atau lambat gelembung gas keuangan ini akan pecah. Semakin besar gelembung keuangan maka akan semakin keras ledakannya, membakar dan melelehkan benda benda di sekelilingnya. Semakin besar infrastruktur yang dibangun, semakin keras dentuman keruntuhan bangunan itu dan semakin luas pula bagunan bangunan lain yang ikut runtuh. (***)

Share artikel ini

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Masukan kode dibawah Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.