Idul Fitri dan Romantisme Lampion Lilin

” … Semoga bangsa kita makin rukun dan bersatu dan semoga rakyat Indonesia semakin sejahtera.” (Kutipan pesan ucapan selamat Idul Fitri dari Presiden ke-6 RI, Prof. Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono)

Malam menyambut hari raya Idul Fitri 1 Syawal 1438 H, di tengah-tengah semaraknya pawai takbir keliling di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, isteri saya teringat masa kecilnya sekitar 1980-an. Saat itu, ia merasa menjadi “manusia pilihan” ketika ditunjuk pengurus masjid kampung tempatnya tinggal untuk ikut menjadi pembawa lampion lilin pada pawai takbir keliling bersama anak-anak seusianya yang lain.

Para orangtua pun–saat itu–tak kalah menyemangati anak-anaknya dengan sangat sukacita. Salah satu caranya, para orang tua menunggu di jalan raya yang kebetulan akan dilewati kafilah takbir keliling itu. Saat melihat anaknya ada di barisan pembawa lampion lilin, para orang tua memanggil-manggil anak-anak mereka. Bahkan diantara mereka ada juga yang membawakan bekal sekadar makanan ringan dan minuman.

Isteri saya pun kemudian bertanya, apa mungkin anak-anak generasi saat ini mendapat kesempatan dan mengalami suasana batin yang sama seperti saat dirinya “terlibat aktif” pada pawai takbir keliling itu?

Belum sempat saya menjawab pertanyaannya, ingatan saya terbawa pada sebuah himbauan seorang pemimpin di negara ini yang meminta agar pawai takbir keliling menyambut Hari Raya Idulfitri tidak dilakukan oleh umat Islam. Memang, semua umat Islam pasti setuju, di mana pun mengumandangkan takbir, tasbih, dan tahmid pada malam terakhir bulan Ramadan–sebagaimana ajaran Islam menuntun–tidak akan mengurangi keagungan dan kebesaran-Nya.

Namun demikian, selain berbeda dari pawai-pawai/karnaval biasa lainnya, tradisi pawai takbir keliling punya makna spiritual yang dalam.

Tokoh pembaharuan Islam Indonesia, Prof. Dr. Nurcholish Majdid (1998) pernah bilang, takbir keliling yang sudah membudaya–pada umat Islam di Indonesia–sesungguhnya merupakan manifestasi atau ungkapan kebahagiaan setelah berhasil memenangkan ibadah puasa. Setelah berhasil menjalani ibadah puasa dengan baik, orang beriman kemudian oleh Alquran dianjurkan untuk bertakbir atau mengagungkan asma Allah SWT. sebagaimana disebutkan, …Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu supaya kamu bersyukur (QS Al-Baqarah [2] : 185).

Karena itu, larangan atau himbauan untuk tidak melakukan takbir keliling–yang selama ini belum pernah terjadi, apalagi disampaikan oleh seorang pejabat publik–itu menjadi aneh dan di luar akal sehat. Terlebih alasan di balik himbauan itu untuk menghindari terjadinya bentrokan yang memicu gangguan keamanan dan ketertiban. Hemat saya, akan lebih sejuk kedengarannya dan mengayomi rasanya, jika pejabat publik atau panutan masyarakat dalam rangka menyambut Idulfitri  berpesan kepada semua pihak untuk tetap rukun dan bersatu, seperti yang disampaikan oleh Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagaimana saya kutip di atas.

Dan kita patut bersyukur, hingga pagi 1 Syawal 1438 H, bertepatan dengan 25 Juni 2017, semua berjalan baik, tertib dan aman. Tidak terjadi insiden yang dikhawatirkan dapat mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat.

Justru yang terbayang di benak saya pagi itu–saat seluruh umat Islam melaksanakan salat Id di masjid-masjid dan lapangan, saat takbir, tasbih dan tahmid digemakan, ketika khotbah anjuran kebaikan dan ketakwaan para khatib diditaburkan–adalah sedang terjadi gelombang spiritualitas.

Gelombang dari getaran yang bergerak usai menjalankan ibadah puasa selama sebulan. Getaran dan gelombang kesucian yang menyatu dengan rasa kemanusiaan.

Pada hari itu, umat Islam berbagi kebahagiaan dan rezeki kepada sesama. Saling memerdekakan satu sama lain untuk saling meminta maaf dan memaafkan. (M Zakiy Mubarok,  Direktur Eksekutif DPD Partai Demokrat NTB 2011-2016)

Share artikel ini

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Masukan kode dibawah Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.