Edi Syumaryadi : I’m not the Follower

Edi Syumaryadi : I’m not the Follower
Edi Syumaryadi.

Jakarta, Obsessionnews.com – Risk Taker, Self confident, energetic, spontaneous, itulah empat kata yang menggambarkan sosok pria yang kini menjabat Corporate GM Sales & Marketing of Intiwhiz International, Edi Syumardi. Menariknya, ia memimpin manajemen perhotelan Intiwhiz di usianya yang terbilang muda, yakni 31 tahun.

Edi, sapaan akrabnya, mengisahkan terjun ke dunia perhotelan selepas menyelesaikan pendidikannya di Marketing Institute of Singapore, Singapura pada 2009. Ia menapaki karirnya mulai dari jabatan marketing communication, marketing manager, hingga di tahun ke-7, ia berada di posisi saat ini.

“Saya yakin belum apa-apa dibanding teman-teman dan senior-senior saya di dunia perhotelan. Cuma secara personal kepercayaan pimpinan ke saya adalah sebuah prestasi bagi saya,” ujar pria kelahiran Makasar, 13 Juni 1985 itu.

Baginya, dunia perhotelan semakin menjanjikan terlebih dunia pariwisata Indonesia tumbuh subur, dengan promosi yang kian gencar dilakukan hingga ke luar negeri sehingga memberikan peluang yang lebih besar bagi orang-orang yang memiliki passion di dunia perhotelan atau pariwisata.

Banyak hal yang dialami Edi saat bekerja di dunia yang ia cintai ini, meskipun lebih banyak sukanya, tetapi ia tak menampik juga mengalami hambatan. Misalnya, menerima keluhan dari tamu.

“Sebelum di korporat, saya besar di unit selama 5 tahun lebih. Kala itu posisi saya hotel leader. Ketika tamu-tamu complain dan tim belum bisa begitu handle, saya harus siap turun ke lapangan untuk menghadapi masalah,” ujarnya.

Di situlah learning point baginya, lanjut Edi, “Background saya di sales marketing sehingga pada saat saya ditempatkan untuk in charge di sebuah hotel, bukan hanya sales marketing kacamata saya, tapi setengah pikiran saya juga ada di operation. This is service, kita bukan hanya jual produk, tetapi psikologi tamu itu berpengaruh kepada kepuasan yang kita berikan, jadi tantangannya disitu. Tapi sukanya jauh lebih banyak daripada dukanya,” tandasnya.

Lantas apa filosofi hidupnya? Edi menjawab “I’m not the follower” Ia tahu benar kemana ia akan melangkah, ia tahu berapa kecepatan yang mesti ia pakai. “This is about timing. So, I know exactly kemana tujuan akhir saya. Posisi sekarang bukan goals saya, Karena sebenarnya saat saya mulai di hotel saya sudah mendesain saya harus dimana. So I have a bigger dream than now. Dan saya menuju kesana,” ungkapnya.

Ditengah kesibukannya Edi masih bisa membagi waktu untuk memanjakan dirinya. Saat weekdays (senin-jumat) dari jam 7 pagi hingga jam 6 petang, ia harus fokus pada perusahaan. Setelahnya adalah free time.

“Weekend adalah me time. This is about balancing, time management, dan saya rasa orang-orang yang prepare dirinya untuk sesuatu yang lebih besar dia harus balance dan punya time management yang bagus. Kalau dengan skala yang masih kecil sekarang kemudian saya bilang I don’t have much time, my personal time, saya rasa I don’t think that I’m ready for something bigger in the future,” tegasnya.

Untuk menjaga staminya agar tetap bugar Edi mengatakan harus olahraga sedikitnya 4 kali dalam seminggu minimal selama 1 setengah jam. “Selain itu, rajin minum air putih hangat dan pola makan sehat. Tapi kita jangan lupa harus memanjakan diri kan? Jadi saya selang-seling, satu hari saya bisa bandel, dua hari saya makan sehat. Saya juga sudah setahun berhenti merokok dan kalau minum hanya sedikit-sedikit,” ujarnya.

Tak hanya olahraga, Edi juga begitu mencintai traveling, “Saya percaya tempat baru ngasih kamu energi baru dan ilmu baru. Saya sudah planning setiap ulangtahun saya harus berada di kota yang berbeda. Tahun ini saya ke Tokyo. Tahun depan saya akan ke Dubai. Sementara tahun baru, saya akan ke Maldives. Semua sudah saya siapkan,” katanya.

Menutup permbicaraan Edi mengatakan obsesinya ingin melakuan sesuatu yang berguna bagi banyak orang, “Akhir-akhir ini saya merasa punya passion di politik. I think that’s becoming my next goal. Maybe not now, but someday. Tapi untuk saat ini, saya tidak mungkin lepas dari hospitality, karena saya cinta dan besar di dunia perhotelan,” pungkasnya. (Giattri Fachbrilian Putri)

Share artikel ini

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Masukan kode dibawah Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.