Dr H Fadli Zon SS. MSc Wakil Ketua DPR Koordinator Polkam, Sosok Multidimensi

Dr H Fadli Zon SS. MSc Wakil Ketua DPR Koordinator Polkam, Sosok Multidimensi

Bagi Fadli Zon, politik adalah civic duty atau tugas bagi seorang warga negara. Maka tak heran jika Ia total berkecimpung di dunia politik, baik di partainya, Partai Gerindra maupun tugasnya di Senayan. Ia pun tak sekadar menjabat anggota dewan di DPR RI, namun keaktifannya dan posisi-posisi penting yang ditugaskannya di DPR, tentu membuktikan bahwa Ia all out dalam mengemban amanah rakyat ini.

Selain sebagai Wakil Ketua DPR RI Koordinator Politik dan Keamanan (Korpolkam) yang membidangi lima badan, yakni, Komisi I, Komisi II, Komisi III, Badan Legislasi, dan Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP), Fadli juga berperan sebagai Ketua Tim Pemantau Otonomi Khusus Papua, Aceh, dan Yogyakarta, Ketua Tim Penguatan Diplomasi Parlemen DPR RI, Ketua Umum atau Presiden organisasi parlemen dunia anti korupsi, Global Organizations of Parliamentarians Against Corruption (GOPAC) yang keanggotaan organisasinya anggota parlemen dari 106 negara.

 

Hal ini tentu menjadi kebanggaan jika melihat Fadli merupakan orang Indonesia pertama yang menjadi Presiden GOPAC. Ia juga sering memimpin delegasidelegasi Indonesia dalam konferensi parlemen Internasional, seperti Interparlimentary Union Assembly (IPU), Asia Pacific Parliamentary Forum (APPF) dan Asian Parliamentary Assembly (APA), serta beberapa model konferensi dan seminar internasional.

 

Kesibukannya di parlemen tak membuatnya lupa akan masyarakat di dapilnya. Fadli bercerita, dalam mengemban amanah sebagai wakil rakyat, Ia seringkali turun langsung dan bercengkrama dengan masyarakat, terutama saat masa reses atau ketika serap aspirasi. Tak hanya masyarakat dapilnya saja di Jabar V (Kabupaten Bogor), lantaran perannya sebagai Wakil Ketua DPR RI, Ia pun harus turun langsung ke daerah lainnya di seluruh Indonesia untuk menampung aspirasi masyarakat.

 

Banyak permasalahan Ia temukan di sana, antara lain, masalah pelayanan kesehatan, kesulitan mencari pekerjaan, kesulitan ekonomi, masalah infrastruktur seperti jalanan yang rusak, pengaduan sengketa tanah, pedagang yang digusur, dan lainnya. “Yang saya lakukan sebagai wakil rakyat adalah menyampaikan dan memperjuangkan aspirasi rakyat kepada pihak terkait untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Saya ada rencana melaporkan apa saja yang telah saya lakukan dalam tugas sebagai bentuk pertanggungjawaban. Insya Allah akan saya bukukan. Mudah mudahan bisa selesai akhir tahun ini,” ujar Wakil Ketua Umum DPP Partai Gerindra ini.

 

Parlemen Indonesia mendapat pengakuan dari salah satu organisasi di Jerman sebagai salah satu parlemen terbaik, parlemen paling terbuka se – Asia Tenggara. Menurut Fadli, bukan hanya se-Asia Tenggara, namun sudah tingkat dunia. Ya, jika bandingkan dengan parlemen negara lainnya di dunia, bisa dikatakan hanya di sinilah para anggota dewan bisa terbuka menerima seluruh lapisan masyarakat. “Tak ada yang lebih terbuka daripada DPR kita. Banyak negara termasuk negara demokratis pun mana ada yang sangat terbuka.

 

Di DPR, anggota dengan mudah menerima orang datang menyampaikan aspirasi. Di negara maju, seperti Amerika Serikat misalnya, mau ketemu anggota Kongres belum tentu bisa ketemu setahun sekali. Begitu juga di Inggris. Kalau di sini, siapapun bisa masuk ke Kompleks DPR. Bahkan tukang jualan saja bisa masuk ke sini. Di negara lain mana bisa. Itu hanya di Indonesia. Ya kita ini parlemen terbuka dan kita ini termasuk yang paling demokratis sedunia. Jadi menurut saya bukan hanya se-Asia Tenggara saja, tapi sedunia kita ini paling terbuka,” Fadli menjelaskan.

 

Meski begitu, Fadli tak menampik bahwa masih ada sebagian masyarakat yang memandang kinerja DPR RI sebelah mata, serta citra DPR RI yang masih kurang baik di mata masyarakat. Tetapi menurutnya semua parlemen di dunia memang memiliki tuntutan yang tinggi di mata masyarakat. Namun yang harus diingat adalah, lagi-lagi DPR RI masih jauh lebih baik dibanding parlemen lainnya. Misal, jika dilihat dari approval rate DPR RI sebesar lebih dari 50%, jauh lebih tinggi dari parlemen Amerika yang hanya sebesar 17%. Dan untuk meningkatkan kinerja DPR RI yang lebih baik lagi, menurutnya, ada beberapa hal yang perlu ditingkatkan, antara lain, keaktifan para anggota sesuai dengan pembagian bidangnya masing-masing. Sementara mengenai pencapaian legislasi, Ia menegaskan bahwa indikator dalam membuat undang undang itu tak sama dengan produksi sebuah produk yang harus ada targetnya. “Membuat Undang Undang itu dinamikanya tinggi, kepentingannya juga tinggi.

 

Sebagai contoh Undang Undang KUHP itu dari tahun 1960-an sampai sekarang ini belum selesai-selesai revisinya, karena begitu banyak tarik-menariknya. Tapi ada juga Undang Undang yang cepat. Jadi bukan karena itu, tapi karena memang kepentingan politik yang berbeda-beda, dan memang di sinilah tempatnya perbedaan perbedaan itu. Jadi kalau selalu dikritik bahwa RUU kita rendah pencapaiannya, ya kita bukan pabrik,” tegas Master of Science (M.Sc) Development Studies dari The London School of Economics and Political Science (LSE) Inggris, ini.

 

Karier Fadli Zon di dunia politik berawal dari keaktifannya dalam berbagai organisasi. Bisa dikatakan Ia adalah sosok yang sangat multi talenta. Selain berkarier di dunia politik, ayah dari Shafa Sabila Fadli dan Zara Saladina Fadli ini, juga seorang profesional, pengusaha, penulis, budayawan, dan tokoh intelektual. Ia mendirikan Fadli Zon Library di Jakarta, Rumah Budaya Fadli Zon di Aie Angek Sumatera Barat, Rumah Kreatif di Depok, dan Kampung Budaya Sunda Paseban di Bogor. Ia kini menjabat Ketua Umum Sekretariat Nasional Perkerisan Indonesia (SNKI), sebuah organisasi keris yang sudah diakui UNESCO, pernah menjadi Ketua Umum Perhimpunan Sastrawan Budayawan Negara Serumpun (PSBNS), dan Ketua Umum Ikatan Keluarga Minang (IKM), serta Ketua Umum Perkumpulan Filatelis Indonesia.

 

Di samping itu, Ia juga menjabat Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), Wakil Ketua Dewan Pembina Induk Koperasi Unit Desa (INKUD), Wakil Ketua Dewan Pembina Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI), dan masih banyak lagi. Tokoh Minang kelahiran Jakarta, 1 Juni 1971 ini, mengaku memang sejak muda Ia sudah aktif dalam berbagai bidang dan menggali semua potensi yang dimilikinya. Fadli muda memiliki ambisi besar ingin belajar mengarungi semua lorong dan menjadi manusia yang multidimensi. “Bagi saya, kita tak mungkin menjadi manusia satu dimensi. Saya ingin mencoba menjadi manusia multidimensi. Karena itu saya menggali dan mengeksplorasi kemampuan saya, dan melakukan apa yang bisa saya lakukan, dalam usia kita yang begitu terbatas ini,” ucapnya. (Naskah: Suci Yulianita, Foto: Sutanto/Dok. Pribadi)

Artikel ini dalam versi cetak dimuat di Majalah Men’s Obsession edisi Oktober 2017.

 

Baca Juga: 13 Tokoh DPR Berdedikasi 2017 Versi Men’s Obsession

Share artikel ini

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Masukan kode dibawah Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.