Diusulkan Jadi Capres, SBY Layaknya Hanya Jadi Mentor

Diusulkan Jadi Capres, SBY Layaknya Hanya Jadi Mentor
Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Jakarta, Obsessionnews.com – Meski sudah turun dari jabatannya sebagai kepala negara, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tetap menekuni pekerjaannya dalam dunia politik. Namanya seakan tidak pernah mati, karena ia mampu memainkan peranan penting sebagai Ketua Umum Partai Demokrat.

Sebagian kalangan menilai SBY masih termasuk salah satu tokoh yang punya pengaruh di Indonesia. Sehingga wajar dikotomi perebutan kekuasaan  dalam politik nasional selalu muncul dengan dimotori oleh tiga tokoh besar, yakni Megawati Soekarnoputri, Prabowo Subianto, dan SBY.

Nama SBY kini kembali muncul dan menguat di permukaan dengan adanya Pilkada DKI Jakarta 2017. ‎Ia banyak diperbincangkan di publik, karena dianggap berani mengorbankan anaknya, Agus Harimurti Yudhoyono, sebagai calon gubernur DKI. Agus pun rela melepas kariernya di dunia militer setelah diminta oleh bapaknya.

Di saat Pilkada DKI memanas dengan adanya kasus dugaan penistaan agama yang dilakukan Gubernur nonaktif DKI Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, muncul isu bahwa SBY adalah tokoh di balik Aksi Bela Islam jilid II pada 4 November 2016. Aksi ini menuntut penegakan hukum terhadap Ahok yang tidak lain adalah rival Agus di Pilkada DKI.

Di tengah maraknya tuntutan hukum terhadap Ahok, dan tekanan yang begitu besar dari masyarakat bawah, nama SBY juga kembali muncul dan menjadi trending topic dengan diwacanakan  untuk diusung  sebagai calon presiden (capres) pada Pilpres 2019. Ini menarik karena SBY selalu hadir dalam hiruk-pikuk politik nasional.

Pengamat politik Global Future Institute (GFI), Hendrajit.

‎Menanggapi hal itu, pengamat politik dari Global Future Institute (GFI) Hendrajit‎ ‎mempertanyakan apakah wacana ini memang serius digulirkan oleh Demokrat sebagai alat untuk mengukur elektabilitas SBY, atau hanya sekadar melempar isu untuk menghindari hal-hal negatif.

Bila hal itu dilakukan, menurutnya, sah-sah saja karena baru sebatas wacana. Namun, proses untuk bisa mencapai itu tidak semudah yang dibayangkan, karena peraturan yang berlaku di Indonesia saat ini hanya membolehkan jabatan presiden selama dua periode.

“Ini bisa saja terjadi, karena di negara-negara luar seperti Rusia juga pernah terjadi hal yang sama, di mana Valdimir Putin terpilih lagi sebagai Presiden Rusia. Hanya saja, ini kan harus melalui pembahasan di DPR, karena sistem kita belum mengatur soal itu,” ujar Hendrajit saat dihubungi Obsessionnews.com, Senin (9/1/2017).

Hendrajit menilai SBY masih punya modal karena ketokohannya. Sama halnya dengan Megawati dan Prabowo ataupun Jokowi, di tingkat bawah masih banyak pendukung yang setia terhadap SBY. Selain itu SBY dulu juga dikenal sebagai purnawirawan jenderal TNI yang cerdas dan ahli dalam menyusun strategi.

“Jadi modal SBY itu ada dua, selain karena dia cerdas dan dikenal sebagai ahli dalam menyusun strategi perang, dia juga masih banyak memiliki pendukung setia,” tuturnya. ‎

Namun Hendrajit  menyayangkan bila wacana menjadikan SBY sebagai capres lahir hanya gara-gara kekecewaan terhadap sejumlah kebijakan dari Presiden Jokowi. Misalnya, anggapan yang mengatakan pemerintahan Jokowi telah membungkam demokrasi  dengan menangkap para aktivis dan pemblokiran situs-situs Islam.

“Mamang itu sisi lain dari banyaknya kritikan terhadap pemerintahan Jokowi, di mana dia dianggap membungkam demokrasi dan lain-lain. Tapi harus diakui bahwa Jokowi lahir dari generasi muda seumuran dengan saya,” ‎jelasnya.

Cukup Jadi Mentor

Secara‎ pribadi Hendrajit menilai saat ini sudah bukan lagi menjadi milik era SBY. Tapi ke depan Indonesia membutuhkan sosok pemimpin muda yang berkarakter yang berusia 35 tahun ke atas dan 50 tahun ke bawah.

Ia yakin bila SBY dimunculkan lagi sebagai capres, hanya akan menambah polemik yang berkelanjutan. Dan  cara-cara seperti itu tidak menjadikan demokrasi Indonesia semakin sehat, karena terkesan tidak ada regenerasi.

“Dari pertimbangan umur, saya rasa SBY sudah tidak memungkinkan lagi. Untuk memimpin Indonesia perlu ada regenerasi yang lahir dari kalangan anak muda,” jelasnya.

Menurutnya, kehadiran SBY cukup menjadi mentor saja, bersama para politisi senior yang lain. Artinya, dengan memunculkan tokoh muda di pangung politik tidak serta merta politisi yang senior ditinggalkan saja. Namun, keberadaannya tetap diperlukan sebagai mentor.

“Saya kira lebih tepat kalau SBY cukup jadi mentor saja. Karena sejatinya ia adalah sutradara di balik layar,” jelasnya. (Albar) ‎

Baca Juga:

Mengapa SBY Diusulkan Jadi Capres Pilpres 2019?

SBY Capres Lagi, Indonesia Tak Akan ‘Naik Kelas’

SBY Potensial Tangkal Komunisme

Share artikel ini

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Masukan kode dibawah Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.