Choliq Memimpin Transformasi Waskita

Jakarta, Obsessionnews - M. Choliq memimpin PT Waskita Karya (Persero), Tbk, berawal saat perusahaan dihadapi rangkaian permasalahan besar yang membutuhkan penanganan serius. Dengan ‘tangan dingin’nya, ia mampu mengatasi keadaan hingga mentransformasi BUMN itu menjadi kontraktor terbesar di Indonesia. Ketika ditemui Men’s Obsession di ruang kerjanya yang bersahaja beberapa waktu lalu, Choliq menyampaikan, rangkaian tantangan yang harus dihadapinya saat kali pertama memimpin Waskita Karya, bahkan perusahaan mencatatkan saldo Modal negatif sebagai dampak pengelolaan yang kurang baik (mismanagement). Sehingga mesti mendapat perhatian lebih dari pemegang saham, yakni Pemerintah dengan menyuntikkan tambahan modal sebanyak Rp.475 miliar melalui PT PPA (Persero). [caption id="attachment_98758" align="alignleft" width="267"]
'Tangan dingin’ Choliq berhasil mengantarkan PT Waskita Karya menjadi kontraktor terbesar di Indonesia.[/caption] Pada Desember 2012 Waskita berhasil melantai di Bursa Efek Indonesia (Initial Public Offering) senilai Rp 1,2 triliun. Tiga tahun kemudian, tepatnya pada Juni 2015, perusahaan menyelesaikan aksi korporasi dengan menerbitkan saham baru (rights issue) dengan total nilai Rp 5,3 triliun yang terdiri dari Penyertaan Modal Negara (PMN) sebanyak Rp 3,5 triliun dan setoran modal masyarakat Rp1,8 triliun. Di bawah komando Choliq, perusahaan yang sempat terpuruk di tahun 2009 lalu dalam waktu relatif singkat menjadi yang terbesar di bidang konstruksi, mencatatkan modal lebih dari Rp 9,7 triliun di tahun 2015. Choliq menyebutkan kinerja Waskita tahun 2015 meningkat tajam. Laba bersih yang dicatat pada tahun 2015 mencapai Rp 1,04 triliun;berarti naik 109 persen ketimbang periode 2014 yang hanya sebesar Rp 501 miliar. Pendapatan usaha yang dibukukan pada periode 2015 juga tumbuh signifikan menjadi Rp 14,2 triliun, sedangkan laba kotor tercatat Rp1,9 triliun. Hingga 31 Desember 2015, total asset Waskita Karya mencapai Rp 31,8 triliun atau peningkatan 163 persen dibanding tahun sebelumnya. Memasuki tahun 2016, Choliq menjelaskan lebih lanjut, Waskita memasuki tahun ke-2 dari fase super growth yang dirintis sejak 2013 lalu. Setiap tahun, Waskita mematok pendapatan laba bersih yang berlipat. Kalau di tahun 2014 baru mencapai Rp 501 miliar, pada 2015 perolehan laba bersih berlipat menjadi Rp 1,04 triliun. Selanjutnya di 2016, laba bersih dipatok pada angka Rp 2 triliun hingga tahun depan Rp 4 triliun. Choliq meyakini target yang dipatok perusahaan tersebut dapat diraih. “Super growth bisa dicapai karena Waskita sudah mencanangkan transformasi dari perusahaan kontraktor konvensional menjadi kontraktor dan deleveloper Infrastruktur serta realty, salah satu strateginya dengan merambah bisnis investasi jalan tol,” paparnya. Sekadar catatan hingga saat ini Waskita Karya dan anak usaha Waskita Toll Road (WTR) serta afiliasinya mengusahakan 12 ruas jalan tol dengan total panjang 524 kilometer di Jawa dan Sumatera. Pada 2016, direncanakan tambahan 3 ruas lagi sepanjang 225 kilometer yang akan diakuisisi atau diperoleh dengan proses tender. Total kebutuhan investasi dari proyek-proyek ini diperkirakan mencapai Rp 90,3 triliun termasuk kontrak pekerjaan konstruksi senilai Rp 59,9 triliun. Proyek-proyek jalan tol tersebut yang akan menjadi landasan dari fase super growth perusahaan. Anak usaha yang bergerak di bidang beton pracetak yaitu Waskita Beton Precast (WBP) telah didirikan dua tahun lalu untuk mendukung proyek-proyek Waskita khususnya kebutuhan konstruksi jalan tol. Walau masih relatif sebagai pemain baru, laba bersih WBP tahun 2015 pada kisaran Rp 334 milyar dengan target tahun 2016 dipatok Rp 505 miliar diperkirakan sudah memposisikannya sebagai perusahaan penyedia beton terbesar di Indonesia. Kinerja anak usaha Waskita Karya Realty pun tidak kalah cemerlang, mengawali tahun 2016 dengan sejumlah proyek pengembangan prestisius dalam portfolionya termasuk Yukata Suites dan 88 Avenue yang berlokasi di daerah strategis Jakarta dan Surabaya. Milestone kesuksesan Waskita di bawah kepemimpinan Choliq sudah terencana dengan jelas. Choliq memastikan, pada 2018 nanti, perusahaan yang dipimpinnya itu, akan bertransformasi penuh, bukan lagi termasuk perusahaan kontraktor. Menurut dia, dari total asset yang dimiliki Waskita, 70 persennya akan dicatatkan sebagai developer infrastruktur. Dalam berkiprah, Waskita menjalankan dua fungsi strategis BUMN secara bersamaan berupa entitas bisnis yang memberikan keuntungan serta agen pembangunan. “Jadi, pembangunan infrastruktur yang mengalami kendala harus kita carikan solusinya. Walaupun pembangunannya menggunakan fungsi BUMN sebagai agen pembangunan, tetap saja Waskita sebagai entitas bisnis harus memberikan nilai tambah bagi seluruh shareholder-nya. Ini harus jadi acuan. Waskita akan membuktikan, bahwa dalam tiga tahun periode 2015-2018 mengalami super growth paling tidak dalam aspek total aset, laba bersih serta kapitalisasi pasar,” tutup Choliq. (Mahbub Junaidi/Men’s Obsession)
'Tangan dingin’ Choliq berhasil mengantarkan PT Waskita Karya menjadi kontraktor terbesar di Indonesia.[/caption] Pada Desember 2012 Waskita berhasil melantai di Bursa Efek Indonesia (Initial Public Offering) senilai Rp 1,2 triliun. Tiga tahun kemudian, tepatnya pada Juni 2015, perusahaan menyelesaikan aksi korporasi dengan menerbitkan saham baru (rights issue) dengan total nilai Rp 5,3 triliun yang terdiri dari Penyertaan Modal Negara (PMN) sebanyak Rp 3,5 triliun dan setoran modal masyarakat Rp1,8 triliun. Di bawah komando Choliq, perusahaan yang sempat terpuruk di tahun 2009 lalu dalam waktu relatif singkat menjadi yang terbesar di bidang konstruksi, mencatatkan modal lebih dari Rp 9,7 triliun di tahun 2015. Choliq menyebutkan kinerja Waskita tahun 2015 meningkat tajam. Laba bersih yang dicatat pada tahun 2015 mencapai Rp 1,04 triliun;berarti naik 109 persen ketimbang periode 2014 yang hanya sebesar Rp 501 miliar. Pendapatan usaha yang dibukukan pada periode 2015 juga tumbuh signifikan menjadi Rp 14,2 triliun, sedangkan laba kotor tercatat Rp1,9 triliun. Hingga 31 Desember 2015, total asset Waskita Karya mencapai Rp 31,8 triliun atau peningkatan 163 persen dibanding tahun sebelumnya. Memasuki tahun 2016, Choliq menjelaskan lebih lanjut, Waskita memasuki tahun ke-2 dari fase super growth yang dirintis sejak 2013 lalu. Setiap tahun, Waskita mematok pendapatan laba bersih yang berlipat. Kalau di tahun 2014 baru mencapai Rp 501 miliar, pada 2015 perolehan laba bersih berlipat menjadi Rp 1,04 triliun. Selanjutnya di 2016, laba bersih dipatok pada angka Rp 2 triliun hingga tahun depan Rp 4 triliun. Choliq meyakini target yang dipatok perusahaan tersebut dapat diraih. “Super growth bisa dicapai karena Waskita sudah mencanangkan transformasi dari perusahaan kontraktor konvensional menjadi kontraktor dan deleveloper Infrastruktur serta realty, salah satu strateginya dengan merambah bisnis investasi jalan tol,” paparnya. Sekadar catatan hingga saat ini Waskita Karya dan anak usaha Waskita Toll Road (WTR) serta afiliasinya mengusahakan 12 ruas jalan tol dengan total panjang 524 kilometer di Jawa dan Sumatera. Pada 2016, direncanakan tambahan 3 ruas lagi sepanjang 225 kilometer yang akan diakuisisi atau diperoleh dengan proses tender. Total kebutuhan investasi dari proyek-proyek ini diperkirakan mencapai Rp 90,3 triliun termasuk kontrak pekerjaan konstruksi senilai Rp 59,9 triliun. Proyek-proyek jalan tol tersebut yang akan menjadi landasan dari fase super growth perusahaan. Anak usaha yang bergerak di bidang beton pracetak yaitu Waskita Beton Precast (WBP) telah didirikan dua tahun lalu untuk mendukung proyek-proyek Waskita khususnya kebutuhan konstruksi jalan tol. Walau masih relatif sebagai pemain baru, laba bersih WBP tahun 2015 pada kisaran Rp 334 milyar dengan target tahun 2016 dipatok Rp 505 miliar diperkirakan sudah memposisikannya sebagai perusahaan penyedia beton terbesar di Indonesia. Kinerja anak usaha Waskita Karya Realty pun tidak kalah cemerlang, mengawali tahun 2016 dengan sejumlah proyek pengembangan prestisius dalam portfolionya termasuk Yukata Suites dan 88 Avenue yang berlokasi di daerah strategis Jakarta dan Surabaya. Milestone kesuksesan Waskita di bawah kepemimpinan Choliq sudah terencana dengan jelas. Choliq memastikan, pada 2018 nanti, perusahaan yang dipimpinnya itu, akan bertransformasi penuh, bukan lagi termasuk perusahaan kontraktor. Menurut dia, dari total asset yang dimiliki Waskita, 70 persennya akan dicatatkan sebagai developer infrastruktur. Dalam berkiprah, Waskita menjalankan dua fungsi strategis BUMN secara bersamaan berupa entitas bisnis yang memberikan keuntungan serta agen pembangunan. “Jadi, pembangunan infrastruktur yang mengalami kendala harus kita carikan solusinya. Walaupun pembangunannya menggunakan fungsi BUMN sebagai agen pembangunan, tetap saja Waskita sebagai entitas bisnis harus memberikan nilai tambah bagi seluruh shareholder-nya. Ini harus jadi acuan. Waskita akan membuktikan, bahwa dalam tiga tahun periode 2015-2018 mengalami super growth paling tidak dalam aspek total aset, laba bersih serta kapitalisasi pasar,” tutup Choliq. (Mahbub Junaidi/Men’s Obsession)




























