Bupati Bantaeng M. Nurdin Abdullah, ‘Rising Star’ dari Timur

Bupati Bantaeng M. Nurdin Abdullah, ‘Rising Star’ dari Timur
Bupati Banateng M Nurdin Abdullah. (Foto-foto: Sutanto/Men’s Obsession & Dok. Humas Pemkab Bantaeng)

Menyebut nama Nurdin Abdullah, maka hal yang tersirat hanya satu yakni sosok bupati yang mampu mengubah daerahnya menjadi lebih baik dalam tempo relatif singkat. Prinsip membangun dengan hati, menjadikan dia  dicintai rakyatnya. Tak berlebihan kalau kemudian Bupati Banteng, Sulawesi Selatan, ini disebut sebagai ‘rising star’ dari Butta Toa, sebutan lain Bantaeng.

Humble dan familiar, begitulah gaya Nurdin Abdulah. Tak ada sekat sosial bila berbicara dengan siapapun. Begitulah yang terekam oleh Men’s Obsession saat bertandang ke ruang kerjanya di kantor  Asosiasi Pemerintahan Kabupaten Seluruh Indonesia (APKASI) di bilangan Jakarta Pusat. O ya, selain bupati, Nurdin Abdullah juga menjabat Sekretaris Jenderal (Sekjen) Apkasi.

Selagi kami menunggu di ruang rapat kerjanya yang cukup luas dan tertata apik, Nurdin tiba-tiba masuk, mengucap salam dan tanpa sungkan langsung mengambil beberapa biji buah lengkeng yang tersaji di meja kerja sembari tak lupa menawari kami untuk mencicipinya juga. “Ayo, ayo…jangan malu,” tawarnya dengan logat Makassar yang khas plus gestur tubuh yang mengesankan keakraban.  Suasana pun cair seketika. Terlebih saat pria kelahiran Parepare, 7 Februari 1963, ini membuka obrolan dengan cerita-cerita segarnya. Teryata, di balik penampilannya yang tinggi besar, suami Liestiaty F. Nurdin ini juga figur yang humoris. Begitu pula dalam kepemimpinannya.

Karakter kepemimpinan Nurdin memang berbeda dengan kebanyakan kepala daerah lainnya. Sejak menjabat bupati, ia mengubah manajemen pemerintahan birokratis menjadi ala corporate yang selalu melayani masyarakat, ramah, mudah, murah dan tidak berbelit-belit. Tapi soal disiplin, ketegasan dan keberanian dalam menegakkan aturan dan hukum, jangan ditanya lagi. Banyak warganya sudah menjadi saksi soal kedisiplinan, ketegasan dan keberaniannya.

Wataknya itu sudah terlihat sejak periode pertama kepemimpinannya sebagai Bupati Bantaeng (2008 hingga 2013). Rakyatnya memahami itu dan ketika jabatan periode pertamanya habis, masyarakat di Butta Toa (sebutan khas Bantaeng) berjuang bersama-sama agar Nurdin terpilih lagi di periode kedua. Macam-macam caranya, ada yang melakukannya dengan melakukan penggalangan KTP (Kartu Tanda Penduduk), ada yang membuat pernyataan sikap dan lainnya.

Nurdin Abdullah berbincang-bincang dengan Presiden Jokowi.

Semua itu dilakukan karena masyarakat telah merasakan banyak perubahan yang telah terjadi selama Nurdin memimpin Bantaeng di periode pertama. Perubahan yang paling mendasar adalah kehidupan sosial ekonomi masyarakat makin meningkat dari waktu ke waktu serta penataan infra struktur dan tata kota Bantaeng. Kalau sebelumnya Bantaeng dikenal sebagai kota banjir maka kini sudah tidak lagi. Potensi wisata pantai sebagai tempat rekreasi dan sekaligus pasar bagi sektor informal dan usaha kecil mampu ia wujudkan. Ditambah lagi, jalanan mulai dari perbatasan sampai dalam kota Bantaeng sangat mulus. Di sisi lain, suasana kota Bantaeng mulai terasa ketika kita tidak menjumpai lagi sampah-sampah bertebaran di pinggir jalan. Wajar kalau kabupaten ini meraih piala Adipura tahun 2012 untuk kategori kota kecil.  Wajar pula jika status Bantaeng berubah dari kabupaten tertinggal menjadi kabupaten mandiri.

Dulu Bantaeng dikategorikan sebagai kabupaten ‘miskin’ dengan pendapatan per kapita masyarakat relatif rendah dibanding dengan kabupaten lain di Sulawesi Selatan. Tapi di bawah Nurdin, pendapatan per kapita warga Bantaeng meningkat, industrialisasi terhadap hasil-hasil holtikultura berkembang, stimulus pendanaan terhadap desa-desa untuk meningkatkan pendapatan petani juga makin meningkat, dan masih banyak indikator lainnya. Itu tak lepas dari banyaknya investor asing yang menanamkan modalnya di Bantaeng.

Tapi, Nurdin sendiri tak mau membanggakan diri jika disinggung soal kemajuan yang terjadi di daerahnya.”Saya kira kalau soal keberhasilan sih yang merasakan kan masyarakat. Tapi yakinlah bahwa yang kita lakukan adalah bagaimana masyarakat itu merasa adanya pemerintah, yang tadinya kota itu sebagai kota yang di musim hujan banjir, musim kemarau kekurangan air. Yang kedua layanan publik yang begitu minim, sekarang Alhamdulillah, mereka betul-betul merasakan. Kapan saja mereka ada gangguan kesehatan, ada kecelakaan, dia bisa terakses dengan call center 119, dengan hadirnya ambulance mobile,” tuturnya dengan rendah hati.

Begitu juga ketika disinggung banyaknya harapan masyarakat di Sulawesi Selatan (Sulsel) yang menginginkan dia maju dalam pemilihan langsung Gubernur Sulsel tahun depan, Nurdin lagi-lagi dengan rendah hati menjawab, “terus terang saya kira ini politik gaya baru, yang kita lakukan di Bantaeng ini, kita tidak pernah berpikir mau jadi apa setelah ini,” tegasnya. Jawaban tegas itu juga yang ia berikan dalam wawancara kami di tengah kepadatan tugasnya. Meski serius, tetap saja selingan canda dan tawa keluar dalam wawancara kami.***

Pemimpin dengan Selaksa Prestasi

Ketika banyak masyarakat Sulsel menaruh harapan kepada Nurdin Abdullah untuk menjadi orang nomor satu di provinsi tersebut, peraih S3 Doktor of Agriculture Kyushu University Jepang Tahun 1994, ini tak mau menepuk dada. Meski harus diakui, Nurdin Abdullah adalah satu dari sedikit kepala daerah yang memiliki prestasi dan penghargaan luar biasa dari dalam dan luar negeri. Setidaknya, 100 penghargaan diganjarkan kepadanya atas prestasi kerjanya selama memimpin.

Baginya, ada sejumlah prasyarat jika seseorang mau maju menjadi pemimpin, khususnya menjadi seorang gubernur. Pertama, harus bekerja dengan baik dan membangun simpati masyarakat. Kedua, harus menanamkan investasi sosial, dan yang ketiga, harus membuat sesuatu yang berkesan sehingga tidak harus membuat citra. “Nggak perlu pencitraan, akan tercitra sendiri kalau Anda membuat sebuah monument,” tegasnya. Biarkan masyarakat langsung yang merasakan dan bercerita tentang apa yang terjadi di Bantaeng.

Tapi kalau ditanya apa konsepnya membangun Sulsel kelak, sebagai seorang yang sukses memimpin wilayah, Nurdin tentu punya jawaban.

Pertama, katanya adalah mengatasi kesenjangan, kemudian  membangun pusat pertumbuhan baru. “Kita fokus ke pariwisata dulu deh, apa yang harus kita lakukan, membangun konektivitas. Jadi kaya Toraja itu sudah menjadi asset dunia, tapi kelemahan kita adalah akses Airport. Jadi seluas Sulawesi Selatan ini, Airport ini harus menentukan. Misal menjadikan Makassar sebagai ibukota yang memiliki bandara hub dan bandara di daerah lainnya menjadi bandara internasional. Begitu juga dengan pelabuhan, harus ditingkatkan. Berikutnya adalah peningkatan pembangunan jalan tol.

Nurdin Abdullah bercita-cita menjadikan Sulawesi Selatan menjadi role model untuk Indonesia. “Saya itu haqqul yakin tidak ada yang terjadi tanpa kehendaknya,” pungkas pria yang mengaku tak pernah merasa sibuk.

 “Perubahan  Harus  Dimulai  Dari Pimpinan”

Sesekali melontarkan guyonan dan menawarkan buah-buahan, begitulah cara Nurdin Abdullah memecah keseriusan kala wawancara. Tapi, tetap saja itu tidak mengurangi persepsi kami tentang betapa cerdasnya orang ini dalam menjabarkan bagaimana memajukan daerah yang dipimpinnya, juga tentang harapan-harapan ke depan tentang sebuah kepemimpinan yang ideal. Dan itu kami tuangkan dalam wawancara kami dengan suguhan teh hangat dan kue coklat di meja kerja yang luas.   Berikut kutipan wawancaranya.

Dekat dengan rakyat.

Mohon ceritakan sedikit perjalanan karir Bapak

Tahun 2008  lalu, bagi saya awal dari sebuah kehidupan baru dimana selama  ini  saya  hanya  mengisi  keseharian  saya  dengan  mengurus  bisnis  dibeberapa  perusahaan  yang  link  dengan Jepang serta menjadi seorang dosen di fakultas  kehutanan UNHAS, dan mengurusi Maruki Foundation yang  memberikan beasiswa kepada para anak-anak sekolah dari  keluarga kurang mampu mulai jenjang SD sampai perguruan  tinggi. Kehidupan baru yang saya maksud adalah karena diminta oleh masyarakat yang melakukan demontrasi di perusahaan saya, meminta harus terjun kedunia politik menjadi Bupati yang selama ini tidak pernah saya pikirkan bahkan cita-citakan. Istri  dan anak-anak sayapun tidak menerima permintaan masyarakat, akan  tetapi kamipun bersama keluarga tetap penasaran apa sebenarnya yang terjadi di Bantaeng, daerah dengan potensi dan keunggulan alam yang paripurna namun berdasarkan data  dari Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal, Bantaeng  termasuk dalam Daftar 199 Kabupaten Tertinggal di Indonesia. Singkat cerita akhirnya kami memutus untuk ikut dalam Pilkada Tahun 2008 tersebut, sebagai Pilkada  Langsung  yang  pertama  kali di  Bantaeng, walaupun waktu itu, kami belum ada Partai  Pengusung ataupun pendukung. Masyarakat secara swadaya  menginvetarisir partai-partai yang waktu itu tidak memiliki kursi di DPRD akan tetapi memperoleh suara pada saat Pemilu, sehingga mencukupi kuota persentase dukungan pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati waktu itu.

Melakukan kunjungan kerja.

 

Bapak  sukses  ‘menyulap’  Bantaeng dari daerah kecil menjadi kabupaten yang sukses meraih apresiasi dengan  berbagai perubahan yang positif. Bagaimana Bapak memulai perubahan di daerah yang Bapak pimpin tersebut.

Saya sejak awal telah berkomitmen bahwa membangun Bantaeng ini harus dengan hati, karena kita ketahui bahwa Bantaeng itu termasuk Kabupaten terkecil di  Sulawesi Selatan  atau hanya 0,8% dari luas provinsi Sulawesi Selatan, sehingga  untuk mendapatkan dana transfer pemerintah pusat tentunya  sebagai penerima dana terkecil pula setiap tahunnya. Oleh karena itu, diawal pemerintahan saya,  saya sampaikan kepada  segenap aparatur daerah bahwa satu rupiah pun uang daerah  yang keluar di APBD harus ada manfaatnya, kemudian belanja-belanja yang selama ini tidak bermanfaat yah dihilangkan saja  dipindahkan ke belanja yang lebih produktif. Saya juga  berkewajiban memberikan keteladanan kepada segenap  bawahan, agar memanfaatkan anggaran pemerintah secara professional yang sesuai dengan peruntukannya. Jika saya  tidak lakukan seperti itu, maka  saya yakin bahwa APBD hanya digunakan untuk membiayai kegiatan-kegiatan rutin pemerintah daerah, sehingga yakinlah tidak akan ada perubahan baik dari sisi pembangunan fisik mapun non fisik. Jadi saya ingin katakan  bahwa perubahan itu memang harus dimulai dari pimpinan, karena bagi kami bahwa kepemimpinan itu adalah keteladanan.

Bapak berhasil menggerakkan perekonomian dan potensi  Kabupaten Bantaeng menjadi kota dengan pertumbuhan ekonomi dan kesehatan yang cukup fantastis. Bisa ceritakan langkah awal Bapak untuk memulai itu.

Sejak awal saya katakan bahwa Bantaeng ini, dari sisi potensi  alam cukup paripurna karena memiliki keunggulan alam 3  Dimensi yang terdiri atas laut pesisir, dataran rendah dan  pegunungan, hal tersebut biasa kami analogikan bahwa dari  sisi  ketersediaan pangan cukup memadai karena ada potensi ikan yang cukup dari hasil-hasil laut, pada dataran rendah ada beras  dan jagung kemudian pada dataran tinggi ada tanaman horti  berupa sayuran dan buah-buahan. Oleh karena itu, jika masih banyak penduduk miskinnya maka merupakan hal yang sangat  ironis. Oleh  karena itu, mengingat 74% penduduk Bantaeng bekerja disektor pertanian maka sektor pertanian tetap menjadi primadona untuk pembangunan di Kabupaten Bantaeng. Namun mengingat luas wilayah Kabupaten Bantaeng yang relative sempit atau hanya sekitar 395,83 Km2, tentunya memiliki lahan pertanian yang sangat terbatas pula. Oleh karena itu tahun 2009  lalu telah kami canangkan Bantaeng menuju Kabupaten Benih Berbasis Teknologi, dengan asumsi bahwa harga benih jauh  lebih tinggi dibanding memproduksi secara konvensional untuk  bahan konsumsi, hal tersebut adalah untuk meningkatkan pendapatan masyarakat dari usaha disektor pertanian dengan  lahan yang sangat terbatas. Tahun 2014, hingga saat ini Bantaeng telah menjadi Kabupaten Benih berbasis teknologi dibawa pendampingan BPPT dan BIOTROP Bogor. Benih padi, jagung, talas dan bawang merah yang diproduksi petani di Kabupaten Bantaeng telah dikirim keberbagai daerah. Selain  hal tersebut, mengingat Bantaeng sebagai daerah yang memiliki  potensi sumber daya air yang cukup, maka dikembangkan pula  benih ikan nila gesit, sebagai upaya pemenuhan kebutuhan  konsumsi ikan air tawar yang terus meningkat permintaan  pasarnya. Benih ikan nila gesit hasil rekayasa teknologi BPPT  ini, telah didistribusikan keberbagai daerah termasuk ke provinsi Sulawesi Barat. Sedangkan dibidang kesehatan, masyarakat  Bantaeng maupun Kabupaten tetangga atau yang melintas di  trans Selatan Sulawesi, jika mengalami gangguan kesehatan  cukup menghubungi call center 113, saat ini telah berubah  sesuai regulasi kementerian kesehatan menjadi 119, yang merupakan layanan kesehatan mobile 24 Jam dengan Ambulance Hibah dari Pemerintah Jepang, disertai dokter dan  perawat yang berkunjung ke lokasi warga yang mengalami  gangguan kesehatan yang dikemas dalam layanan Gratis,  layanan ini mampu menekan angka kematian ibu dan anak menjadi 0% sejak tahun 2012 lalu. Disisi lain, dari sisi letak  geografis, Bantaeng juga sebagai center point di bagian Selatan Sulawesi Selatan. Letak yang sangat strategis tersebut, saya mencoba melihat fenomena layanan kesehatan selama ini,  bahwa rujukan rata-rata diarahkan ke rumah sakit yang ada di  Makassar, padahal berbagai permasalahan seiring dengan  berkembangnya Ibu Kota Provinsi Sulawesi Selatan juga  bermunculan termasuk macet dan semakin terbatasnya  kemampuan melayani pasien dari daerah sebab semua Kabupaten harus dirujuk ke Makassar, oleh karena itu, kami membangun Rumah Sakit Modern yang refresentatif, dengan  standar pelayanan Internasional, Alhamdulillah Tahun 2017 ini  sudah mulai difungsikan dengan layanan dan teknologi alat  kesehatan terbaru yang setara dengan Rumah Sakit yang ada di Kota-Kota Besar di Indonesia.

Dalam  perjalanan Bapak memimpin Kabupaten Bantaeng, apa  kendala  terbesar yang Bapak alami ?

Sebagai  orang  profesional,  artinya  saya  bukan  politisi  yang  masuk  ke  ranah politik,  tantangan  menjadi  baying-bayang  saya  karena  bagaimana  menghadapi stakeholder  terkhusus  DPRD,  akan  tetapi  saya  pribadi  tidak  pernah mendikotomikan politisi dan bukan politisi,  namun kendala  tetap ada, baik dalam hubungannya  dengan  DPRD  sebagai  perwakilan  rakyat  maupun  dengan masyarakat sendiri dengan tutuntan yang beragam dan sangat kompleks disisi lain potensi penganggaran dalam APBD sangat terbatas, ini yang kami bersama SKPD mencoba memainkan rytmen, dan menganggap ini adalah seni memainkan peran masing-masing, agar  tidak menjadi beban  serta permasalahan bagi  kami  semua dilingkup  Pemda Kabupaten  Bantaeng. Oleh  karena  itu  tidak  ada  kendala  yang  cukup berarti  karena  semua  lini  mempunyai  tanggungjawab  yang  mereka  ketahui masing-masing.  Saya  sejak  awal  mulai  membudayakan  agar  segenap  aparatur pemerintah daerah bekerja dengan sistem sehingga semua urusan pemerintahan mampu diakselerasi dengan baik dalam rangka pencapaian  tujuan pembangunan dan tujuan keberadaan pemerintah daerah.

Bisa  dijelaskan  apa  saja  konsep  dan  kebijakan  yang  sudah  Bapak  laksanakan selama memimpin Bantaeng.

Dua  periode  saya  mendapatkan  amanah  memimpin  Bantaeng,  tentunya  sudah dua fase  juga konsep dan kebijakan yang  telah kami  implementasikan, pada fase pertama  fokus  saya  adalah  mewujudkan  Bantaeng  sebagai  wilayah  terkemuka berbasis  desa  mandiri,  artinya  bahwa  desa  diharapkan  menjadi  lokomitif pembangunan membangun Bantaeng dari desa merupakan tagline pembangunan pada  tahun  2008  lalu,  kami  mencoba  memformulasi  kebijakan  yang  dikenal  1 milyar  1 desa,  melalui  pendekatan  program  dan  kegiatan  pembangunan pemerintah  daerah  yang  merata  kesemua  desa  dan  kelurahan  yang  ada  di Bantaeng,  ini  kemudian menjelmakan  Bantaeng menjadi maju  dan  berkembang sehingga  menjadi  role  model  pembangunan  terkhusus  pengembangan  Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) di 46 Desa secara serentak di Kabupaten Bantaeng pada  tahun  2009  lalu.  Keberadaan  BUMDES  berhasil  menjadi  pilar  kegiatan ekonomi  di  desa  berbasis  potensi  desa.  Fase  kedua  atau  periode  kedua,  saya mencoba mengarahkan  agar Bantaeng menjadi Pusat Pertumbuhan Ekonomi  di Bagian  Selatan  Sulawesi  Selatan melalui  tiga  pilar  pembangunan  daerah  yaitu, menjadi  Kota  Jasa,  Kabupaten  Benih  Berbasis  Teknologi  dan  Pusat Pengembangan Industri di Bagian Selatan Sulawesi Selatan. Tiga pilar pembangunan  tersebut,  telah berakselerasi sehingga mampu dirasakan manfaatnya  baik  bagi  pemerintah  daerah  melalui  peningkatan  pendapatan  asli daerah dari sekitar Rp. 12,68 milyar pada  tahun 2008 menjadi sebesar Rp. 76,03 milyar pada tahun 2016, sedangkan bagi masyarakat sendiri yang ditandai dengan meningkatnya  PDRB  perkapita  masyaraka  dari  Rp.  5,5  juta  pada  tahun  2008 menjadi sebesar Rp. 30,5 juta pada tahun 2016.

Apakah kondisi Bantaeng saat ini sudah sesuai dengan harapan Bapak ?

Saya  selalu mengatakan  bahwa  setiap  kemajuan  secara  otomatis memunculkan tantangan dan kebutuhan baru, oleh karena itu kemajuan dan pencapaian ini kami lakukan akselerasi disemua urusan yang menjadi kewenangan pemerintah daerah sehingga tidak terdapat ketimpangan pembangunan antar masing-masing urusan.  Oleh  karena  itu,  pencapaian  saat  ini  saya  rasa  sudah  sesuai  harapan  saya  dan tentunya harapan masyarakat Bantaeng,  karena  saya dalam melakukan  ini  tidak pernah merasa  sendiri akan  tetapi hasil dari  kerja  keras dan  kebersamaan  yang terbangun selama ini di Bantaeng.

Bagaimana Bapak membangun kinerja dengan staf dalam bekerja ?  

Saya  telah  kemukakan  sebelumnya,  bahwa  menjadi  pemimpin  itu  bagi  kami adalah  keteladanan,  saya  tidak  pernah  banyak melarang  ataupun mengarahkan akan  tetapi  saya  selalu  memberikan  contoh  bahwa  menjadi  pelayan  itu  adalah kewajiban  kita  semua  selaku  aparatur  sipil  Negara,  ini  yang  kemudian menjadi kultur bagi segenap pegawai yang ada di Bantaeng.

Mohon  jelaskan  keberhasilan  atau  pencapaian  yang  diraih  Bantaeng   di  bawah kepemimpinan Bapak.

Ini  yang  yang  tidak  bisa  saya  urai  satu  persatu,  akan  tetapi  keberhasilan  dan pencapaian  yang diraih Bantaeng  itu adalah merupakan pencapaian masyarakat Bantaeng,  cuman  indikatornya  banyak  contohnya,  jika  dilihat  dari  penghargaan maka saya telah menerima penghargaan atas kinerja pembangunan lebih dari 100 penghargaan baik dari dalam negeri maupun luar negeri, kemudian jika dilihat dari indikator  pembangunan  makro,  ditandai  dengan  pertumbuhan  ekonomi  yang tumbuh  diatas  rata-rata  nasional dan  provinsi  yakni  diatas 7%  pertahun,  bahkan pernah  mencapai  9,6%,  kemudian  pengangguran  yang  menurun  drastic  dari sekitar 12,12% pada  tahun 2008 menjadi 2,4% pada  tahun 2015, demikian  juga Indeks pembangunan manusia, Bantaeng mampu menjadi peringat pertama dalam pembangunan  indeks pembangunan manusia dibagian  selatan Sulawesi Selatan atau  tumbuh  diatas  rata-rata  provinsi  atau  sekitar  1,17%  sedangkan  Sulawesi Selatan hanya mampu tumbuh sekitar 0,85%.

Mohon  jelaskan cara Bapak dalam membangun  team work di lingkungan Pemda Bantaeng sehingga mampu melahirkan performa kinerja yang cemerlang.

Jujur  saya  katakan,  bahwa memang  tahun  pertama  hingga  tahun  kedua  semua tergantung  aktor  atau  saya  sebagai  pimpinan,  kenapa  karena  itu  kultur  yang selama  ini menjadi kebiasaan pegawai  lingkup Pemda Bantaeng, oleh karena  itu saya di berbagai kesempatan terus menekankan agar agar bekerja dengan sistem karena  itu  jauh  lebih  baik  dari  pada  bekerja  parsial-parsial.  Pertama  kami  awali dalam membangun kawasan Pantai marina salah satu pantai yang selama ini tidak termanfaatkan, saya tunjuk satu SKPD sebagai  penanggungjawab  untuk selanjutnya semua SKPD turut ambil bagian berdasarkan  tugas pokok dan  fungsi masing-masing.  Dalam  perjalanannya  ini  menjadi  kebiasaan,  sehingga  setiap tahun arahan pembangunan yang ingin dicapai disitulah semua SKPD mengambil bagian, sehingga output pembangunan dapat kelihatan setiap tahun dan dirasakan oleh masyarakat.

Apa makna keberhasilan dan kesuksesan mengelola Bantaeng bagi Bapak.

Jika  berbicara makna  keberhasilan  dan  kesuksesan maka  bagi  kami  ini  adalah pengabdian,  saya  selalu  merasa  belum  mampu  membalas  pengorbanan  para pendahulu  kita  para  pejuang  yang  telah mengorbankan  jiwa  dan  raganya  untuk Republik  ini,  hal  tersebut  selalu  terpatri,  pada  bagian  lain  saya  selalu  merasa bahwa  sebagai  bagian  dari  pemerintah  kita  belum mampu membalas  jasa  para petani yang bersusa payah untuk memenuhi kebutuhan pangan kita semua, inilah yang  menjadi  makna  yang  mendorong  saya  untuk  terus  mengabdi  sesuai kemampuan saya guna wujudkan cita-cita para pendahulu dan leluhur kita.

Siapa yang menjadi inspirator Bapak dalam kepemimpinan ini.

Sebagai  muslim  tentunya  Inspirator  dan  teladan  saya  adalah  Nabi  Muhammad SAW, akan tetapi jika itu adalah sosok yang secara langsung memberikan transfer pengetahuan  dan  dukungan  serta  mengarahkan  saya  dalah  Prof.  Fachruddin almarhum  ayahanda  dari  Istri  saya.  Beliau  sang  pemberi  semangat  bagaimana menjadi seorang professional dimanapun kita berada, kemudian sosok orang  tua saya  terkhusus  ayahanda  almarhum  sebagai  seorang  Tentara  waktu  itu,  yang mengajari kami tentang disiplin dan ketegasan.

Apa legacy yang ingin Bapak tinggalkan untuk Bantaeng ?

Yang pertama adalah kultur masyarakat  terkait kebersihan, kemudian bagaimana kekuatan  dari  kerja  tim  dalam  sebuah  sistem  sehingga  terwujud  sinergitas  bagi segenap SKPD.

Mohon jelaskan filosofi Bapak dalam menjalankan roda kepemimpinan.

Filosofi  saya  dalam  menjalankan  roda  kepimpinan  adalah  bahwa  amanah  ini adalah  merupakan  ajang  bagi  saya  untuk  beramal,  oleh  karena  itu  selalu menganggap bahwa semuanya adalah kewajiban, untuk  itu selalu ada  rasa yang mendorong  untuk  menjadi  pemimpin  yang  terbaik  serta  patut  dicontoh  untuk generasi  pada  masa-masa  yang  datang,  minimal  menjadi  catatan  sejarah bagi suatu daerah, khususnya Kabupaten Bantaeng.

Sekarang soal lain Pak, dengan  load  kerja  yang  sangat  tinggi,  bagaimana Bapak membagi waktu  untuk keluarga.

Saya kita sekatang era Teknologi  Informasi, pada awalnya memang berat karena waktu  untuk  keluarga amat  sangat  sedikit  apalagi  anak-anak Sekolah  di  Jakarta dengan  Jepang,  kami  setiap  pagi  saling menyapa  saling mengingatkan  anak-anak apakah sudah Shalat kemudian waktu makan, dan tetap kami control setiap saat. Namun  jika  ada waktu  untuk  bisa  bertemu  dan  berkumpul  langsung,  kami buat  berkualitas  artinya  betul-betul  kami  diskusi,  sharing  pengalaman  masing-masing di kampus dan bermain dengan mereka.

Jika ada, apa saja yang Bapak lakukan bersama keluarga?

Bersama keluarga.

Jika  kami  berkumpul  biasanya  diagedakan  makan-makan  bersama,  kemudian mandi bersama baik di kolam yang terdekat maupun mencari suasana pantai serta yang  paling  banyak  adalah  sharing  pengalaman,  karena  anak-anak  banyak bertanya  juga  sekaligus  klarifikasi  informasi-informasi  yang  berkembang  baik  di Bantaeng maupun nasional.

Belakangan  ini  berkembang  aspirasi  dari  masyarakat  Sulawesi  Selatan  agar Bapak bisa maju dalam Pilkada Gubernur Sulsel, bagaimana pandangan Bapak?

Saya selalu berkeyakinan, bahwa apapun yang kita hadapi itu sudah penggarisan, Allah sudah menuliskan di Lauhul Mahfudz, kami hanya bekerja, sehingga  jika di katakan  saya  mau  jadi  Gubernur,  saya  sudah  katakan,  bahwa  saya  tidak berkeinginan,  namun  karena  ini  di minta maka  saya  nyatakan  SIAP  untuk maju menjadi calon Gubernur.

Jika maju dalam Pilkada Sulsel nanti, apa konsep yang Bapak akan tawarkan?

Sulawesi Selatan, sejak lama telah menjadi icon untuk Kawasan Timur Indonesia, namun  pada  gilirannya  dari  sisi  manfaat  belum  dirasakan  sepenuhnya  oleh masyarakat Sulawesi Selatan sendiri, ini saya akan coba dorong dan maksimalkan agar Sulsel mampu menjadi  lokomotif perekonomian  Indonesia dikawasan  timur. Selain  itu,  dari  sisi  potensi  Sumber  Daya  Alam  masih  belum  dikelola  secara optimal untuk itu saya akan mendorong optimalisasi pengelolaan dan pemanfaatan sumber  daya  alam  agar  bernilai  ekonomis  dan  dirasakan  manfaatnya  oleh masyarakat. Selanjutnya  pusat-pusat  pertumbuhan  baru  karena  Sulsel  ini  terdiri  atas  empat kluster utara selatan utara, timur dan barat, jadi untuk pelayanan dimasing-masing kluster  akan  kami  dorong,  sehingga  tidak  mesti  bertumpu  di  Makassar,  sebab Makassar saat sudah hampir sama Jakarta dari sisi kemacetan,  ini perlu strategi baru  untuk  memecah  konsentrasi  pelayanan  yang  menjadi  kewenangan pemerintah provinsi.  Dalam  skala  pembangunan mikro,  desa  dan  kelurahan  juga wajib mendapatkan sentuhan  pemerintah  provinsi,  sehingga  semua  permasalahan  pembangunan diselesaikan secara bersinergi sesuai kewenangan masing-masing. (Suci Yulianita/Sahrudi)

Artikel ini dalam versi cetak dapat dibaca di Majalah Men’s Obsession Edisi Juli 2017.

Share artikel ini

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Masukan kode dibawah Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.