Amien Rais: ‘Ahok Itu Songongnya Menyundul Langit’

Amien Rais: ‘Ahok Itu Songongnya Menyundul  Langit’
Mantan Ketua MPR Amien Rais menjadi keynote speech di acara peluncuran buku "Usut Tuntas Dugaan Korupsi Ahok, Menuntut Keadilan Untuk Rakyat" karya Marwan Batubara di Ruang KK2 Kompleks Gedung DPR, Jakarta, Selasa (23/5/2017).‎ (Foto: Edwin B/Obsessionnews.com)

Jakarta, Obsessionnews.com – Mantan Ketua MPR RI Amien Rais menilai Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sebagai sosok yang songong alias sombong.

“Ketika Ahok masih menjabat Gubernur, saya memang tidak bersimpati padanya. Saya melihat sendiri, bahwa Ahok itu songongnya menyundul langit. Sombong sekali. Dalam sejarah tidak ada orang sombong yang selalu menang,” tulis Amien dalam kata pengantar buku Usut Tuntas Dugaan Korupsi Ahok, Menuntut Keadilan untuk Rakyat.

 

Peluncuran buku “Usut Tuntas Dugaan Korupsi Ahok, Menuntut Keadilan Untuk Rakyat” karya Marwan Batubara di Gedung MPR/DPR, Jakarta, Selasa (23/5/2017).‎ (Foto: Edwin B/Obsessionnews.com)

Buku ini ditulis oleh Direktur Eksekutif Indonesian Resources Studies (IRESS) Marwan Batubara, dan diluncurkan di Gedung MPR/DPR, Jakarta, Selasa (23/5/2017).

Dalam buku itu Amien mengungkapkan Ahok pro pemodal aseng dan asing. Ahok sangat arogan, senang menantang berbagai pihak. Bahkan terkesan meremehkan lembaga Negara, termasuk Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) terkait dugaan korupsi RS Sumber Waras.

“Jadi, Ahok lebih banyak melayani kepentingan konglomerat pemodal, sedangkan orang kecil sering ditendang dan digusur secara brutal pada berbagai kasus yang diuraikan pula dalam buku ini,” tulis pendiri Partai Amanat Nasional (PAN) ini.

Seperti diketahui  duet Joko Widodo (Jokowi)-Ahok memenangkan Pilkada DKI 2012 untuk periode 2012-2017. Namun, belum tuntas masa jabatannya, Jokowi maju di Pilpres 2014. Saat itu Jokowi yang berpasangan dengan mantan Ketua Umum Partai Golkar Jusuf Kalla (JK) berhasil menaklukkan pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa. Jokowi-JK dilantik sebagai Presiden RI dan Wakil Presiden RI periode 2014-2019 di Gedung MPR/DPR pada 20 Oktober 2014.

Kursi DKI-1 yang ditinggalkan Jokowi kemudian diduduki Ahok. Ahok dilantik menjadi Gubernur DKI oleh Presiden Jokowi di Istana Negara pada 19 November 2014.

Dalam buku  Usut Tuntas Dugaan Korupsi Ahok, diungkapkan sejak Ahok menjadi Gubernur DKI media massa mengelu-elukan Ahok sebagai pribadi yang baik. Media massa seolah berhasil membangun citra Ahok dengan sangat baik, sehingga pada sebagian masyarakat tercipta persepsi Ahok sosok yang anti korupsi, bersih, jujur, berani, dan profesional.

Namun, sepandai-pandai orang menyembunyikan bangkai pasti akan tercium juga. Pepatah ini selaras dengan yang dialami Ahok. Fakta-fakta tentang dugaan kejahatan korupsi Ahok terus terkuak satu-persatu. Ahok memang bukan sosok bersih seperti yang dicitrakan media. Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah beberapa kali melakukan pemeriksaan atas beberapa kasus dugaan korupsi yang melibatkan Ahok.

Ahok Hina Alquran dan Ulama

Duet Joko Widodo (Jokowi)-Ahok memenangkan Pilkada DKI 2017 untuk masa bakti 2012-2017. Ahok kemudian naik kelas dari Wakil Gubernur menjadi Gubernur pada 2014. Pria yang akrab dipanggil Ahok ini menggantikan Jokowi yang terpilih menjadi Presiden ketujuh RI. Ahok dilantik sebagai Gubernur DKI oleh Presiden Jokowi di Istana Negara pada 19 November 2014.

Periode 2015 hingga 2016 popularitas Ahok melejit. Survei yang dilakukan sejumlah lembaga survei menyebut elektabilitas Ahok paling tinggi di antara para calon gubernur pada Pilkada DKI 2017.

Namun, sayangnya, seiring melambungnya popularitas dan elektabilitasnya tersebut Ahok tak mampu mengubah kebiasaan buruknya dalam bertutur kata. Ucapan-ucapan kasarnya itu kemudian menjadi bumerang bagi dirinya sendiri.

Ahok pemeluk  agama Kristen Protestan.  Warga keturunan Cina ini  dengan lancang mencampuri urusan agama lain, yakni Islam. Ia menyinggung soal Alquran surat Al Maidah ayat 51 di sebuah acara di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, Selasa (27/9/2016). Ketika itu Ahok antara lain mengatakan,”..jadi jangan percaya sama orang, kan bisa saja dalam hati kecil Bapak Ibu nggak bisa pilih saya ya kan? dibohongi pakai Surat Al-Maidah 51, macam-macam itu. Itu hak Bapak-Ibu ya. Jadi kalau Bapak-Ibu perasaan enggak bisa kepilih nih, karena saya takut masuk neraka karena dibodohin gitu ya, enggak apa-apa.

Ucapan mantan politisi Partai Gerindra tersebut membuat umat Islam tersinggung dan melaporkannya ke polisi. Sementara itu Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat dalam pernyataan sikap keagamaannya, Selasa (11/10/2016), menyebut perkataan Ahok dikategorikan menghina Alquran dan menghina ulama yang berkonsekuensi hukum.

Pernyataan Ahok tersebut menimbulkan gelombang demonstrasi di Jakarta dan berbagai daerah di tanah air.  Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) mengoordinir massa berunjuk rasa yang dibingkai dengan sebutan Aksi Bela Islam (ABI) di Jakarta pada tahun 2016 dengan tuntutan tangkap dan penjarakan Ahok. ABI jilid 1 digelar pada Jumat (14/10/2016) atau dikenal dengan sebutan Aksi 1410. GNPF MUI kembali menggelar ABI jilid 2 pada Jumat (4/11/2016) atau Aksi 411 dan ABI jilid 3 pada Jumat (2/12/2016) atau Aksi 212.

Jutaan orang mengikuti Aksi Bela Islam 3 yang menuntut Ahok dipenjara di Jakarta, Jumat (2/12/2016). (Foto: Edwin B/Obsessionnews.com).

Aksi 1410 diikuti ribuan orang. Jumlah peserta meningkat menjadi sekitar 3,2 juta orang pada Aksi 411. Antusiasme warga Muslim terus meningkat menjadi sekitar 7,5 juta orang pada Aksi 212.

Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Mabes Polri menetapkan Ahok sebagai tersangka dugaan penistaan agama pada Rabu (16/11/2016). Statusnya berubah menjadi terdakwa saat menjalani sidang perdana di Pengadilan Negeri Jakarta Utara pada Selasa (13/12/2016).

Setelah Ahok menjadi terdakwa gelombang unjuk rasa anti Ahok terus bergulir. Massa dari berbagai ormas yang dikoordinir Forum Umat Islam (FUI) menggelar Tausiyah Nasional di Masjid Istiqlal, Jakarta, Sabtu (11/2/2017).

FUI kembali menggelar massa berunjuk rasa di Gedung DPR/MPR pada Selasa (21/2/2017). Selain menuntut Ahok dipenjara, dalam aksi ini juga menuntut Ahok dipecat dari jabatannya.

Karena tuntutannya tak dipenuhi, massa yang dikoordinir FUI yang kembali menggelar demonstrasi besar-besaran di sekitar Istana Presiden pada Jumat (31/3/2017).

Pada Jumat (5/5/2017) GNPF MUI menggelar unjuk rasa besar-besaran di sekitar Gedung Mahkamah Agung, Jakarta Pusat. Demo yang dikemas dengan label Aksi Simpatik 55 ini menuntut Ahok dipenjara.

Dalam sidang ke-20 kasus dugaan penodaan agama yang digelar Pengadilan Negeri Jakarta Utara di Auditorium Kementerian Pertanian, Ragunan, Jakarta Selatan, Kamis (20/4/2017), Jaksa Penuntut Umum (JPU) menuntut Ahok 1 tahun penjara dengan masa percobaan selama 2 tahun. Jaksa menilai Ahok terbukti melakukan perasaan kebencian di muka umum dan menyinggung golongan tertentu.

“Menuntut supaya majelis hakim yang mengadili perkara ini menyatakan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama terbukti bersalah menyatakan perasaan kebencian,” ujar ketua tim jaksa Ali Mukartono.

Ahok dianggap jaksa terbukti melakukan penodaan agama karena menyebut Surat Al-Maidah saat bertemu dengan warga di Kepulauan Seribu, pada 27 September 2016. Penyebutan Surat Al-Maidah ini, menurut jaksa, dikaitkan Ahok dengan Pilkada DKI Jakarta.

“Menjatuhkan hukuman kepada terdakwa dengan pidana penjara selama 1 tahun dengan masa percobaan 2 tahun,” ujar jaksa.

Ahok menyampaikan pledoi (pembelaan) dalam sidang  ke-21, Selasa (25/4/2017) di tempat yang sama.  Dalam pledoi yang berjudul Tetap Melayani Walaupun Difitnah, Ahok mengibaratkan dirinya sebagai ikan kecil Nemo yang berenang di Jakarta.

Dalam sidang ke-22, Selasa (9/5/2017), Ahok dinyatakan terbukti bersalah melakukan penodaan agama tentang Alquran Surat Al Maidah 51. Untuk itu dia dihukum 2 tahun penjara. Hakim ketua Dwiarso Budi Santiarto menyatakan Ahok  terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana melakukan penodaan agama dengan penyebutan surat Al Maidah 51.

“Dari ucapan tersebut terdakwa telah menganggap surat Al Maidah adalah alat untuk membohongi umat atau masyarakat, atau surat Al Maidah 51 sebagai sumber kebohongan dan dengan adanya anggapan demikian maka menurut pengadilan terdakwa telah merendahkan dan menghina surat Al Maidah ayat 51,” papar hakim dalam pertimbangan hukum.

Setelah divonis dua tahun penjara, sang Ahok  langsung meringkuk di hotel prodeo.

Sudah Jatuh Tertimpa Tangga Pula

Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Peribahasa ini bermakna orang yang mendapat musibah secara beruntun.  Itulah nasib Ahok. Ia kalah dalam Pilkada DKI 2017 putaran kedua yang digelar pada Rabu (19/4) lalu. Ahok yang berpasangan dengan Wakil Gubernur DKI Djarot Saiful Hidayat takluk melawan duet Anies-Baswedan. Setelah kalah di Pilkada ia masuk penjara.

Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah mengesahkan hasil rekapitulasi penghitungan suara tingkat provinsi, Minggu (30/4). Anies-Sandi memperoleh 3.240.987 suara atau 57,96%. Sedangkan Ahok-Djarot mendapat 2.350.366 suara atau 42,04%.

Jumat (5/5) KPU DKI menetapkan Anies-Sandi sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih. Anies-Sandi akan dilantik pada Oktober mendatang untuk periode 2017-2022.

Setelah kalah di Pilkada DKI 2017, kini Ahok meringkuk di penjara. (arh)

 

Baca Juga:

Ahok Harus Segera Diadili dalam Dugaan Korupsi RS Sumber Waras

Ahok Bukan Sosok Bersih

Amien Rais Duga Ahok Lakukan Korupsi‎

FOTO Peluncuran Buku Dugaan Korupsi Ahok

 

 

Share artikel ini

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Masukan kode dibawah Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.