Aktivis Merasa Dibuntuti Preman Saat Laporkan 'Korupsi' Anggaran Muna Barat

Muna, Obsessionnews - Koordinator Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Gerakan Anti Korupsi (Gerak) Sulawesi Tenggara (Sultra), Nur Arduk, mengaku telah diintimidasi oleh beberapa preman saat melakukan kunjungan di kantor Kejaksaan Raha, Senin (1/2/2016). Kunjungannya di Kejaksaan Raha terkait mengajukan laporan dugaan penyalahgunaan anggaran proyek jalan Lingkar Laworo (Ring Road) yang dianggap banyak keganjalan dan terlihat dipaksakan oleh Pj. Muna Barat Rajiun. Sekitar 30 menit, proses laporan selesai. Usai melakukan pelaporan sekitar pukul 12.00 WITA dan hendak meninggalkan kantor Kejaksaan Raha, seseorang memberi kabar, bahwa di luar ada sekelompok preman. Semua pasukan Gerak Sultra langsung mengarah ke luar gedung , dan Arduk langsung mengambil haluan menuju Watonea dengan mengendarai roda dua, sedangkan teman-temannya tetap di lokasi (kantor Kejaksaan Raha). [caption id="attachment_94891" align="alignleft" width="278"]
Demo aktivis Gerakan anti Korupsi (Gerak) Sultra di Kejaksaan Raha[/caption] Di tengah perjalanan tepatnya depan kantor Diknas, ada sebuah mobil Avanza membuntuti Arduk. "Saya duga mobil yang berada di mobil sound system kami. Saya langsung mengambil haluan dan berputar mengelilingi kota Raha, namun mobil tersebut membuntuti terus dari belakang. Karena saya was-was saya langsung mampir di Polsek Katobu,” ungkapnya pada Obsessionnews.com, Senin (1/2/2016). Bukan saja Nur aduk dan teman-temannya yang dibuntuti, tindakan intimidasi juga langsung terarah pada orang tua Arduk. Tengah perjalanan mengarah ke Polsek Katobu, ayah Arduk menelepon dan menyampaikan kabar di rumahnya (Muna Barat) datang dua buah mobil mencari Nur Arduk. Kemudian selang 10 menit menyusul pemilik sound system yang dipake Gerak Sultra menelepon juga, dan mengatakan kalau ada preman yang membuntuti gerakan mereka. “Orang tua saya mengaku tidak mengenal mereka, namun mereka mengaku masyarakat Muna Barat. Saya ditelepon juga yang punya sound system, kalau ada preman yang buntuti gerakan kami, dan mengingatkan kami agar hati-hati,” katanya dengan serius.
Sedangkan Iman bersama teman-temannya yang tergabung dalam Gerak Sultra yang tadinya berpisah dengan Nur Arduk langsung bersama lagi. "Kami menanyakan posisi Arduk ternyata di polsek, kami pun langsung merapat ke polsek," tutur Iman. Sebelum Iman dan teman-teman mengarah ke polsek, ada juga mobil Avanza hitam tetap parkir di belakang mobil sound system sambil seseorang meneriaki mereka. “Dari dalam mobil seseorang berteriak ikut saya, ikut saya, namun kami tidak hiraukan," kata Iman. Dari kantor Polsek Raha pasukan Gerak Sultra tidak langsung pulang ke Muna Barat, namun mengarah ke rumah salah satu senior mereka guna beristrahat. “Di perjalanan kami masih dikawal oleh polisi. Dan terkait orang yang buntuti sementara diselidiki oleh kepolisian. Tadi polisi minta keterangan pada Nur Arduk," tuturnya. Menyikapi intimidasi tersebut mereka tetap profesional menanggapinya. “Jika saya salah dengan gerakan kami, atau pernyataan kami silahkan dituntut melalui jalur hukum, jangan membuntuti kami,” tantang Nur Arduk. (Asma)
Demo aktivis Gerakan anti Korupsi (Gerak) Sultra di Kejaksaan Raha[/caption] Di tengah perjalanan tepatnya depan kantor Diknas, ada sebuah mobil Avanza membuntuti Arduk. "Saya duga mobil yang berada di mobil sound system kami. Saya langsung mengambil haluan dan berputar mengelilingi kota Raha, namun mobil tersebut membuntuti terus dari belakang. Karena saya was-was saya langsung mampir di Polsek Katobu,” ungkapnya pada Obsessionnews.com, Senin (1/2/2016). Bukan saja Nur aduk dan teman-temannya yang dibuntuti, tindakan intimidasi juga langsung terarah pada orang tua Arduk. Tengah perjalanan mengarah ke Polsek Katobu, ayah Arduk menelepon dan menyampaikan kabar di rumahnya (Muna Barat) datang dua buah mobil mencari Nur Arduk. Kemudian selang 10 menit menyusul pemilik sound system yang dipake Gerak Sultra menelepon juga, dan mengatakan kalau ada preman yang membuntuti gerakan mereka. “Orang tua saya mengaku tidak mengenal mereka, namun mereka mengaku masyarakat Muna Barat. Saya ditelepon juga yang punya sound system, kalau ada preman yang buntuti gerakan kami, dan mengingatkan kami agar hati-hati,” katanya dengan serius.
Sedangkan Iman bersama teman-temannya yang tergabung dalam Gerak Sultra yang tadinya berpisah dengan Nur Arduk langsung bersama lagi. "Kami menanyakan posisi Arduk ternyata di polsek, kami pun langsung merapat ke polsek," tutur Iman. Sebelum Iman dan teman-teman mengarah ke polsek, ada juga mobil Avanza hitam tetap parkir di belakang mobil sound system sambil seseorang meneriaki mereka. “Dari dalam mobil seseorang berteriak ikut saya, ikut saya, namun kami tidak hiraukan," kata Iman. Dari kantor Polsek Raha pasukan Gerak Sultra tidak langsung pulang ke Muna Barat, namun mengarah ke rumah salah satu senior mereka guna beristrahat. “Di perjalanan kami masih dikawal oleh polisi. Dan terkait orang yang buntuti sementara diselidiki oleh kepolisian. Tadi polisi minta keterangan pada Nur Arduk," tuturnya. Menyikapi intimidasi tersebut mereka tetap profesional menanggapinya. “Jika saya salah dengan gerakan kami, atau pernyataan kami silahkan dituntut melalui jalur hukum, jangan membuntuti kami,” tantang Nur Arduk. (Asma)




























