Abdul Kadir Karding, S.Pi. M.Si (Sekjen Partai Kebangkitan Bangsa) Dipilih untuk Menyejahterakan Rakyat

Abdul Kadir Karding, S.Pi. M.Si (Sekjen Partai Kebangkitan Bangsa) Dipilih untuk Menyejahterakan Rakyat
Abdul Kadir Karding.

Menjadi seorang wakil rakyat, bagi Abdul Kadir Karding, tak sekadar terpilih kemudian dilantik. Tapi selanjutnya adalah berpikir tentang bagaimana dengan jabatannya sebagai “penyambung lidah rakyat” ini ia mampu bekerja dan menyejahterakan orang yang memberikannya amanat yakni, rakyat.

 

Sebagai warga Nahdlatul Ulama (NU), Anggota Komisi III dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini punya pemahaman bahwa seseorang dipilih untuk memimpin adalah semata demi kemaslahatan bersama. “Ya, dalam tradisi kami di NU, kami sering diajarkan kaidah fiqih yang artinya  seseorang pemimpin dipilih tidak lain dan tidak bukan kecuali untuk mensejahterakan atau kemaslahatan rakyat.

 

Prinsip ini penting sebagai  niat sekaligus jadi komitmen bagi seorang pemimpin,” tegasnya menjawab pertanyaan Men’s Obsession. Masyarakat kita, kata pria kelahiran Donggala, ini masih banyak yang hidup dibawah standar yang layak, bahagia, nyaman, aman dan sentosa. “Tentu ini pekerjaan rumah bagi kita. Kesenjangan terlihat nyata. Kemiskinan masih kita temukan. Kebodohan juga masih dimanamana, dan masalah lain bangsa ini juga banyak,” tegas Abdul Kadir Karding yang juga menjabat sebagai Sekjen PKB.

 

Karena itu, setiap kali reses dan melakukan kunjungan ke konstituennya di Jawa Tengah, ia sudah siap menerima tuntutan dan usulan masyarakat yang begitu banyak. “Saya ingin ada jaminan  bahwa  usulusul masyarakat yang nyata dan alasan kuat  harus dijamin diakomodasi dalam APBN kita. Tapi ini belum ketemu formatnya, caranya dan teknisnya. Sehingga Anggota DPR nampak legasinya selain buat Undang-Undang,” ujarnya.

 

PKB, seperti juga partai lainnya yang berorientasi untuk pembangunan kesejahteraan rakyat, diakui Kadir tentu memiliki keinginan untuk dapat benar-benar mewujudkan kesejahteraan itu secara utuh. Namun, dengan posisi PKB yang belum dapat dikatakan sebagai partai besar tentu perlu perjuangan lebih keras untuk memperjuangkan amanat konstituennya. “PKB masih tergolong partai menengah, artinya kami baru punya 47 kursi di DPR, sehingga untuk mengusung dan merealisasikan ide-ide menjadi kebijakan publik  tidak mudah. Butuh lobi, jaringan, kemampuan menyusun argumen, pressure  dengan dosis tertentu, kecerdasan dan kelincahan,” papar pria kelahiran tanggal 4 September 1973, ini.

 

Hal itu, tambahnya, tentu semakin berat jika ditambah oleh keadaan sekarang yang semakin kompleks. Dimana perkembangan teknologi informasi dan media sosial, ikut mendukung terjadinya pressure yang kuat terhadap kinerja anggota DPR. Satu hal yang juga dianggapnya bisa menjadi pemicu kegairah kerja anggota DPR adalah performa DPR yang belakangan ini sangat transparan. “Bahkan, boleh dikata, tidak ada yang bisa ditutup-tutupi.

 

Tapi ini bagus agar jadi kontrol pada anggota dan institusi bahwa ke depan semua harus ada parameternya dan terukur,” ucapnya serius. Semua itu diakuinya mampu menekan siapapun di DPR untuk bekerja super keras untuk menjawab tekanan publik. Alumnus Universitas Diponegoro, Semarang ini tentu saja juga menjawab tekanan tersebut dengan caranya sendiri yang diistilahkannya sebagai “bekerja dengan hati”. “Prinsip saya bekerja berdasar kata hati, namun demikian tentu juga kita harus sensitif terhadap aspirasi masyarakat,” ujarnya.

 

Sebagai anggota Komisi III yang membidangi antara lain masalah hukum, hak asasi manusia, dan keamanan, tentu saja
Kadir fokus agar penegakan hukum berjalan baik dan bisa mewujudkan keadilan  di tengah masyarakat. “Semua institusi penegak hukum kami dorong agar menegakkan hukum dengan tidak melanggar hukum, lebih profesional, menghargai asas hukum praduga tak besalah, persamaan di depan hukum. Dalam praktek penegakan hukum kita dorong  supaya mengutamakan pencegahan, asistensi, dan pendampingan. Sosialisasi hukum di tengah masyarakat baru pada pilihan penindakan,” ucapnya.

 

Ia bersama Komisi III juga mendorong agar Kepolisian, Kejaksaan, dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) berkerja sama dan bersinergi dengan standar yang  terukur dalam menegakkan hukum. Terkait itulah, Kadir tak membantah kalau saat ini dinamika hukum nasional saat ini sedikit mendapat ujian antara lain dengan adanya semacam “persaingan antara penegak hukum dalam konteks kurang sehat”. Demikian pula di pentas politik nasional, Kadir juga menyoroti berkembangnya suasana yang tidak ideal. “Persaingan yang muncul kadang tidak produktif bagi kelangsungan  kita sebagai sebuah bangsa.

 

Munculnya isu sektarian atas dasar isu SARA. Saling serang dan tuduh antara sesama politisi ditambah lagi media sosial yang tidak terkontrol dan lebih banyak menjadi kompor, profokasi, fitnah dan hoax. Ini jelas tidak kondusif,” bebernya. Di sisi lain, sambungnya, semua pihak lebih sibuk memikirkan diri dan kelompoknya sehingga sangat jarang memikirkan kepentingan bangsa dan negara. Abdul Kadir, adalah sosok politisi yang benar-benar mendedikasikan waktunya untuk partai. Sampai-sampai, akunya, ia kurang memiliki waktu untuk keluarga. “Sabtu minggu saja untuk urusan partai, haha…” tukasnya. Karena memang, sebagai Sekretaris Jenderal DPP PKB, ia mengakui kalau mengatur partai itu tidak mudah.

 

“Harus fokus dan memiliki manajemen waktu yang bagus, membangun target pencapain yang jelas,” imbuhnya. Dengan kerja kerasnya bersama seluruh jajaran pengurus dan kader PKB selama ini, Abdul Kadir berharap PKB dapat semakin dicintai rakyat karena kemampuan kerja dan manfaat yang didatangkan untuk rakyat. Khusus terhadap kinerja Fraksi PKB, ia menilai manajemen fraksi harus terus diperbaiki termasuk kualitas anggota fraksi terus harus di-upgrade dengan keterampilan berpolitik yang juga harus diasah terus menerus sehingga fraksi sensitif terhadap masalah-masalah  sosial ekonomi, politik, budaya ditengah mayarakat. “Harus ada target berupa legasi apa yang akan dibuat pada tahun tertentu,” pungkasnya. (Naskah: Purnomo, Foto: Dok. Pribadi)

 

Artikel ini dalam versi cetak dimuat di Majalah Men’s Obsession edisi Oktober 2017.

 

Baca Juga:

Dr.H. Fadli Zon, SS., M.Sc Wakil Ketua DPR RI Koordinator Politik dan Keamanan (Korpolkam), Sosok Multidimensi

Bambang Soesatyo SE MBA, Ketua Komisi III DPR: Pemberantasan Korupsi Jangan Lahirkan Festivalisasi

13 Tokoh DPR Berdedikasi 2017 Versi Men’s Obsession

Share artikel ini

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Masukan kode dibawah Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.