Muhammad Zainul Majdi Sang Tuan Guru

Sosok ulama sekaligus umara ini mampu membuktikan kapasitasnya sebagai ulama dan gubernur sama baiknya. Di bawah nakhodanya, NTB mencetak tingkat pertumbuhan ekonomi yang signifikan. Kecintaan masyarakat kepada Hafiz Alquran ini pun mengantarkannya menjadi Gubernur Nusa Tenggara Barat selama dua periode.

Zainul Majdi yang akrab disapa Tuan Guru Bajang mulai menunjukkan kapasitas dan minatnya kepada ilmu agama yang semakin dalam setelah lulus dari Madrasah Aliyah. Ia memilih untuk memperdalam Islam di tanah Mesir di Universitas Al Azhar, Kairo. Hebatnya, sebelum memasuki perguruan tinggi, Zainul muda sudah menuntaskan hafalan 30 juz Alquran di Ma’had Darul Qur’an wal Hadits Nahdlatul Wathan Pancor selama setahun (1991-1992).

Kemudian pada tahun 1992, Zainul muda berangkat ke Mesir untuk memperdalam ilmunya di Fakultas Ushuluddin Jurusan Tafsir dan Ilmu-Ilmu Al-Qur’an Universitas Al-Azhar. Lulus setingkat S1 pada 1996, pria kelahiran Selong, 31 Mei 1972 ini memilih melanjutkan pendidikannya ke jenjang master. Lima tahun berikutnya, ia meraih Master of Art (MA) dengan predikat Jayyid Jiddan.

Tidak tanggung-tanggung dalam menimba ilmu, Zainul terus meningkatkan keilmuannya dengan melanjutkan program S3 doktor di bidang yang sama. Pada 8 Januari 2011, Zainul lulus dengan predikat Martabah EL-Syaraf El Ula Ma`a Haqqutba atau Summa Cumlaude.

Tak pernah terbayang bagi seorang ulama seperti Zainul untuk terjun ke pentas politik. Semuanya berawal karena hubungan akrab dengan tokoh reformis Yusril Ihza Mahendra yang mengajaknya maju sebagai anggota DPR-RI dari Partai Bulan Bintang.

Pilihannya masuk ke dalam politik bukan tanpa alasan. Menurut dia, dalam pengalamannya selama berdakwah, banyak sisi dakwah yang tidak bisa disentuh dengan kultural saja, tapi harus secara sistem melalui struktur politik.

Zainul pun terpilih sebagai anggota legislatif periode 2004-2009. Belum genap dalam masa jabatannya, tantangan untuk memimpin lebih tinggi menghampirinya. Banyak calon yang ingin meminangnya sebagai calon wakil gubernur, namun Yusril justru meyakinkannya untuk maju sebagai calon gubernur NTB. Diusung PBB dan PKS, ia sukses terpilih menjadi gubernur NTB periode 2008-2013.

Namanya mungkin tak setenar Gubernur lain yang wajahnya sering menghiasi berbagai media dan saluran televisi nasional. Namun kepemimpinan dan kinerjanya dalam memajukan daerahnya terbilang luar biasa.

Bukan hanya dalam pembangunan ekonomi untuk NTB, prestasi yang diukirnya selama menjadi provinsi berjuluk Bumi Gora itu antara lain meraih penghargaan sebagai Gubernur Termuda di Indonesia oleh Museum Rekor Dunia Indonesia saat dilantik pada 28 Oktober 2009.

Zainul juga pernah menerima Lencana Ksatria Bhakti Husada Arutala yang merupakan penghargaan atas jasa-jasanya dalam pembangunan Bidang Kesehatan di daerahnya yang ditunjukkan dengan program revitalisasi Pusat Kesehatan Masyarakat (Puksesmas) dan jaminan kesehatan bagi masyarakat miskin di luar Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas).

Penghargaan tersebut diserahkan oleh Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada peringatan Hari Kesehatan Nasional di Jakarta tahun 2009.

Di tahun 2010, Provinsi NTB banjir Prestasi pembangunan. Oleh sebab itu, lagi-lagi Zainul, menerima penghargaan The Best Province Tourism Development dengan dikukuhkannya NTB sebagai Provinsi Pengembang Pariwisata Terbaik versi salah satu TV nasional.

Berkat kemajuan industri di NTB, Zainul meraih penghargaan kategori The Best Dedicated Governor in Developing of MICE Industry.

Penghargaan yang tak kalah bergengsinya kembali diterima Zainul, yakni berupa penghargaan di Bidang Pangan dari Presiden RI atas prestasi meningkatkan produksi padi (P2BN) lebih dari 5 pada tahun 2009 dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Berbagai prestasi tersebut membuktikan kebijakan, program dan kegiatan pembangunan di Provinsi NTB telah memberikan dampak yang nyata di tengah-tengah masyarakat.

Pada tahun sebelumnya, NTB berhasil mencatat peningkatan produksi padi tertinggi di Indonesia yang mencapai 14,7 pada periode (2007-2008). Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Presiden SBY di Istana Negara.

Tak hanya itu, bersama gubernur Bali, Zainul mendapat penghargaan Bintang Maha Putra Utama dari Presiden SBY karena telah berjasa banyak pada negara.

Zainul yang begitu concern dengan pendidikan, juga bercita-cita untuk memajukan pendidikan di NTB dan juga menggratiskan pendidikan di sana.

Maka tak ayal, kiprahnya tersebut, membuatnya dicintai masyarakatnya. Suami dari Hj. Erica Lucyfara Panjaitan ini pun terpilih kembali sebagai gubernur NTB pada periode 2013-2018.

Pada 29 september 2016 lalu, Persatuan Bangsa Bangsa (PBB) mengundang Zainul untuk menghadiri sidang Konferensi United Nations Development Programs (UNDP) atau Badan Program Pembangunan PBB di Amerika.

Alasan peraih TOP Eksekutif Muslim 2016 dari Ikatan Pengusaha Muslimah Indonesia (IPEMI) ini diundang PBB, tak tak lepas dari prestasi apik yang ditorehkan Pemerintah Provinsi NTB terkait program Milenium Development Goals (MDGs). NTB dianggap sebagai salah satu contoh sukses di dunia.

Sebagai pemimpin yang berlatarbelakang ulama, visi keislaman tidak pernah tertinggal dalam setiap kebijakannya. Ayah tiga anak ini aktif dalam dunia keislaman dengan menghadiri Konferensi Dunia Islam Internasional di Arab Saudi yang diselenggarakan oleh World Moslem League. Beliau juga menghadiri Konferensi Ulama Internasional yang diadakan di Situbondo Jawa Timur.

Zainul terpilih menjadi salah seorang tokoh yang meraih gelar “Best Regional Leader” di acara Obsession Awards 2017 di Hotel Dharmawangsa, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis 30 Maret 2017 lalu.

Membangun dengan Visi Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur

VISI menjadi baldatun thayyibatun wa rabbun ghafûr atau negeri makmur berlimpah ampunan dan kasih-sayang Tuhan sudah lama digaungkan the founding fathers negeri tercinta ini. Untuk mencapai visi itu tentu saja tidak mudah. Banyak jalan mendaki dan menurun dengan onak, duri, aral melintang serta jurang curam di kanan-kiri.

Zainul Majdi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Namun, harapan itu harus selalu ada. Seperti semangat para pendekar zaman yang membangun Indonesia dari tak ada. Toh, Tuhan Semesta Alam pun melarang hamba-Nya untuk berputus asa. Selalu ada rahmat Tuhan di setiap niat, ide, dan proses menuju jalan yang diridhai-Nya.

Bagi Indonesia, keyakinan menembus visi itu adalah keniscayaan. Nyatanya, negeri ini memiliki sejumlah pemimpin daerah yang baik, memiliki kompetensi untuk menunaikan visi tersebut. Mereka tak hanya piawai me-manage sebuah wilayah (umarâ), melainkan juga menjadi penuntun dalam religiusitas (ulama).

Tak banyak memang. Tapi, segelintir sosok dengan predikat umarâ dan ulama itu menjadi gantungan harapan generasi muda di masa mendatang. Mereka memiliki ‘paket lengkap’ untuk menjadi pemimpin daerah yang ideal dalam konsep baldatun thayyibatun wa rabbun ghafûr. Sebuah konsep yang hanya akan terjadi ketika pemimpin daerah memiliki watak kepemimpinan Tuhan Semesta Alam.

Di satu sisi mereka menjadi pemimpin yang menentukan kebijakan, seorang inisiator, sekaligus penggerak rakyatnya. Di sisi lain, mereka berpikir dan bergerak dengan landasan sifat dan watak Tuhan: rahman, rahim, qudus, salam, muhaimin, dan seterusnya.

Indikator terwujudnya baldatun thayyibatun wa rabbun ghafûr pun jelas, yakni terciptanya kesejahteraan rakyat secara lahir dan batin, sumber daya alam yang terkelola dengan baik, dan menebarkan rasa damai bagi rakyat serta negara-negara di sekitarnya. Negeri model ini menjalankan manajemen pemerintahan dengan baik berdasarkan arahan Tuhan Sang Pencipta Alam.

Dan satu di antara segelintir itu adalah Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Tuan Guru Bajang Muhammad Zainul Majdi. Sosok umarâ sekaligus ulama ini mampu membuktikan kapasitasnya sebagai ulama dan pemimpin di daerahnya. Di bawah nakhodanya, NTB mencetak tingkat pertumbuhan ekonomi yang signifikan. Di saat yang sama, gairah masyarakat NTB untuk melaksanakan ibadahnya pun semakin meningkat.

Jejak keislaman selalu melekat pada setiap kebijakan yang dibuatnya. Misalnya terlihat dari perubahan tagline Provinsi NTB dari “Bumi Gora” menjadi “Bumi Quran”. Melalui tagline tersebut, gubernur yang merupakan seorang penghafal Al-Quran ini membuat kebijakan untuk membumikan Quran melalui pendidikan kepada anak-anak. Sebagai bukti keseriusannya, Pemprov NTB pernah mengundang dua anak penghapal Al-Quran dari Gaza Palestina untuk berbagi pengalaman.

Mewarisi Darah Ulama dan Umarâ

Sosok yang bergelar adat Tuan Guru Bajang (TGB) ini merupakan pribadi kharismatik yang mewarisi darah dari sang kakek, Sosok bergelar adat Tuan Guru Bajang (TGB) ini, merupakan keturunan ulama besar Pulau Lombok. Kakeknya bernama Mawlânâ Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, atau sering dipanggil Hamzanwadi yang merupakan singkatan dari Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid Nahdlatul Wathan Diniyah Islâmiyah. Beliau juga dikenal sebagai Tuan Guru Pancor.

Hamzanwadi adalah pendiri Nahdlatul Wathan, organisasi Islam dengan jumlah pengikut terbesar di Lombok. Di Mekah, Mesir dan Lebanon, ia dihormati sebagai ulama besar. Hamzanwadi menerbitkan banyak buku, yang menjadi rujukan bagi orang-orang yang mempelajari agama.

Gelar Tuan Guru Bajang diberikan masyarakat kepada Zainul Majdi, sebagai penghargaan. Tuan Guru merupakan gelar yang diberikan warga Suku Sasak, NTB, kepada ulama besar. Membimbing dan mengayomi umat Islam dalam kegiatan keagamaan dan kehidupan sosial merupakan tugas dari seorang Tuan Guru. Sedangkan Bajang bermakna muda, sebab di usai 30-an tahun ia telah dipercaya memimpin masyarakat.

Selain darah ulama, ia menuruni darah kepemimpinan dari ayahnya, HM Djalaluddin SH, yang merupakan seorang birokrat Pemerintah Daerah NTB. Ketertarikan TGB pada politik, boleh jadi, terinspirasi kiprah sang ayah untuk memajukan masyarakat NTB. Dengan berkiprah di birokrasi, TGB menginginkan adanya keseimbangan dalam hal kesalihan, yakni secara individual dan sosial.

Kelak, niat mulianya ini tersalurkan melalui politik, dimana TGB pernah terpilih sebagai anggota legislatif periode 2004-2009 melalui Partai Bulan Bintang (PBB). Belum genap menyelesaikan jabatannya, PBB dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mengusungnya sebagai calon gubernur.

Bagi TGB, berpolitik menjadi jalan baginya untuk menyapa dan mengayomi masyarakat lebih maksimal. Terlebih lagi, berdasarkan pengalamannya selama berdakwah, banyak sisi dakwah yang tidak bisa disentuh dengan cara kultural, tapi harus dengan sistem melalui struktur politik.

Keikhlasan niatnya untuk memajukan masyarakat NTB pada akhirnya diganjar dengan kemenangan dalam Pilgub 2008. TGB terpilih menjadi gubernur NTB untuk periode 2008-2013. Jabatan itu berlangsung hingga ia terpilih kembali pada Pilgub 2013, sehingga ia masih akan terus menjabat gubernur hingga 2018.

Berguru Santun pada Tuan Guru
“Inilah gubernur yang kalau mengkritik tidak membuat sasarannya terluka. Bahkan tertawa-tawa. Saking mengenanya. Saya mengenal banyak gubernur yang amat santun. Semua gubernur di Papua termasuk yang sangat santun. Yang dulu maupun sekarang. Tapi, gubernur yang baru mengkritik pers itu luar biasa santun. Sebagai gubernur, Tuan Guru Bajang sangat mampu dan modern. Sebagai ulama, Tuan Guru Bajang sulit diungguli. Inikah sejarah baru? Lahirnya ulama dengan pemahaman Indonesia yang seutuhnya?”

Tulisan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di era SBY, Dahlan Iskan, yang dimuat Jawa Pos berjudul “Tuan Guru dengan Masa Depan yang Panjang” pada Februari 2016 itu bisa mewakili testimoni sebagian pihak yang mengakui kesantunan sang Gubernur.

“Peran Ibu di Balik Sukses”

Apa kunci sukses Muhammad Zainul Majdi bisa menjadi orang nomor satu di NTB? Ternyata, salah satu faktor yang paling penting di balik kesuksesannya itu adalah adanya peran ibu dalam mendidik anaknya.

Pria yang akrab disapa Tuan Guru Bajang (TGB) ini menceritakan, ketaatan dirinya terhadap seorang ibu sudah dilakukan sejak masih kecil sampai saat ini. Diceritakan bahwa semasa menimba ilmu di Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir, sejak 1991 hingga 1997. Ia sempat heran dengan ibunya yang berbeda dengan yang lain.

“Umi (ibu) kirim surat hanya dua kali. Isinya pun sederhana, rajin belajar,” kata TGB saat dialog interaktif di Universitas Tidar, Magelang, Jawa Tengah, Minggu,  (14/5/2017).

Umi, kata TGB sangat menghargai dan menjunjung tinggi keilmuan. Karena itu saat TGB mengikuti studi di Mesir, ia dilarang pulang sebelum benar-benar selesai dan menguasai ilmu yang dipelajarinya. TGB menilai, perlakuan ini jauh berbeda dengan apa yang didapat teman-temannya di Kairo yang sering ditelepon ibunya serta pulang ke Indonesia hampir setiap tahun.

Hingga pada akhirnya, setelah kembali ke Pulau Lombok, TGB menanyakan langsung kepada ibunya tentang hal ini. “Umi, dulu waktu tiang (saya) di Mesir, kenapa tiang dilarang pulang setiap tahun, kenapa hanya kirim surat dua kali isinya juga sama, rajin belajar?” tanya TGB.

Ibunya dengan sederhana menjawab pertanyaan TGB, bahwa tidak ada yang paling berharga untuk seorang anak dari ibunya selain doa. Meski jarang berkomunikasi, sang ibu mengaku tidak pernah putus mendoakan anaknya yang sedang berjuang di negeri orang. “Kalau ada pencapaian baik saya, selain karena karunia Allah SWT, itu juga berkat doa umi yang bentengi saya,” ungkap TGB.

“Obsession Award 2017” untuk Rakyat NTB

Santun dan familiar, begitulah Muhammad Zainul Majdi saat menerima tim dari Obsession Media Group yang bertandang ke Wisma NTB, Jl. Garut, Menteng-Jakarta Pusat, Rabu (26/4/2017), untuk menyerahkan Obsession Awards 2017 kepadanya.

Ya, ia menerima penghargaan Obsession Awards 2017 untuk kategori Best Regional Leaders yang diserahkan langsung Andi Nursaiful selaku Direktur Media OMG sekaligus Ketua Dewan Juri Obsession Awards 2017.

TGB Muhammad Zainul Majdi mengungkapkan rasa syukur dan terima kasihnya atas penghargaan yang diberikan OMG. Menurutnya, award yang diterimanya itu bukan hanya menjadi apresiasi bagi pribadinya melainkan juga untuk seluruh masyarakat NTB.

“Saya haturkan terima kasih kepada OMG yang telah memberikan award ini. Sesungguhnya, ini merupakan penghargaan bagi seluruh masyarakat yang telah bekerja keras membangun NTB hingga seperti sekarang,” ungkap Zainul Majdi.

Menurut Gubernur NTB, TGB Muhammad Zainul Majdi, penghargaan ini menjadi pelecut motivasi bagi seluruh masyarakat NTB untuk melakukan transformasi pembangunan.

Ia berharap penghargaan yang diterimanya itu menjadi pelecut motivasi bagi jajaran Pemprov dan masyarakat NTB untuk bisa melakukan transformasi pembangunan.

“Ada geliat positif yang ditunjukkan masyarakat NTB. Dan ini tentunya menjadi momentum yang bagus dan hanya bisa termanfaatkan kalau masyarakat NTB tetap bersemangat. Nah, apresiasi ini merupakan bagian dari penyemangat tersebut,” tandas Zainul Majdi.

Mantan Anggota DPR RI ini mengungkapkan bahwa NTB saat ini menjadi provinsi yang jauh lebih baik mengingat sudah menemukan formula yang tepat untuk melakukan pembangunan di berbagai bidang.

“Alhamdulillah transfomasi di NTB sudah ‘ketemu selanya’, berada di track yang benar. Artinya transformasi di NTB sudah bisa dimulai,” katanya.

Menilik peningkatan pembangunan di NTB, provinsi yang bertetangga dengan Nusa Tenggara Timur itu terbilang memiliki prestasi mengagumkan. Salah satunya tampak dari ciri-ciri pertumbuhan ekonomi berkualitas, seperti menurunkan kemiskinan, mengurangi pengangguran, dan menciptakan kemanfaatan yang inklusif.

Dalam setahun Pemprov NTB bisa melakukan penurunan angka kemiskinan sebanyak satu persen. Angka itu termasuk yang paling progresif di Indonesia, bahkan di atas rata-rata nasional. Demikian halnya dengan angka pengangguran sebesar 3,9 persen yang jauh di bawah rata-rata nasional. Sementara tingkat kesenjangan di NTB hanya sebesar 0,36 persen yang juga jauh di bawah rata-rata nasional.

Kerja Ikhlas di Bulan Puasa

Banyak cara dilakukan Zainul Majdi untuk membangun kinerja dan kejujuran di kalangan aparatur sipil negara (ASN) di pemerintahan provinsi NTB. Dalam membangun rasa ikhlas, khususnya di bulan puasa, menurut Zainul juga harus dibarengi dengan penuh integritas dan jika itu dilakukan maka itu menunjukkan manifestasi dari puasa yang telah dijalankan selama satu bulan penuh.

“Arah kita dalam jajaran Pemerintah Provinsi NTB adalah melaksanakan dengan konsisten apa yang telah menjadi visi-misi pembangunan. Itulah yang harus kita laksanakan dengan penuh keikhlasan, suatu nilai yang kita pelajari dalam bulan puasa. Tidak ada kesombongan, tidak ada pencitraan, tidak ada pamer-pamer,” katanya.

Selain itu, tambahnya, dalam melaksanakan tugas dibutuhkan keikhlasan sebagai landasan yang harus dimiliki ASN selain kompetensi-kompetensi teknis serta pengalaman yang dimiliki selama ini.

“Marilah kita ikhlas membangun, bersama-sama kita bekerja. Di atas semua itu, mari kita banyak bersyukur, karena sampai saat ini kita masih dapat melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya,” ujarnya.

Zainul mengajak semua ASN untuk terus-menerus ingat bahwa ASN merupakan pelayan masyarakat. Hal itu sejalan dengan ajaran puasa untuk berkhidmad kepada Allah SWT, juga melayani Allah dengan sebaik-baiknya.

Pada kesempatan itu, gubernur juga mengucapkan permohonan maaf kepada seluruh ASN yang hadir. Karena saling memaafkan, katanya, dapat melahirkan energi baru dalam menjalankan pengkhidmatan kepada masyarakat.

“Sebagai pemimpin dalam perangkat Pemerintah Daerah NTB, maka tentu ada hal-hal yang selama ini dirasakan tidak sepenuhnya tepat, atau masih kurang sesuai dengan harapan, maka pada kesempatan ini saya menyampaikan minal aidin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin,” pungkasnya.

Siapa Tuan Guru?

Nama Muhammad Zainul Majdi tak lepas dari julukan Tuan Guru. Banyak yang sering mendengar gelar tersebut, tapi mungkin tak banyak yang paham dengan gelar luhur tersebut.

Dari Wikipedia.org, Tuan Guru adalah julukan bagi tokoh yang memiliki ilmu pengetahuan agama dalam penyebaran Islam di Pulau Lombok. Tuan artinya haji dan guru artinya tokoh tempat menimba Ilmu atau tokoh yang mendakwahkan agama Islam. Tokoh seperti ini di Pulau Jawa disebut Kyai.

Kesimpulannya ciri-ciri atau syarat disebut tuan guru adalah pernah menunaikan Ibadah Haji, memiliki Ilmu pengetahuan agama Islam, mendakwahkan agama Islam, memiliki murid atau jamaah yang menyebutnya Tuan Guru, taat menjalankan ajaran Agama yang dibuktikan dari Imaniyah, Ibadah, Muammalah, Muasyarah dan Akhlak.

Sebelum Abad ke-18 (1700 – 1799) di Lombok belum ada sebutan tuan guru. Sebutan ini datang dari masyarakat setelah Pulau Lombok mengalami perubahan sebutan struktur atau strata sosial.

Abad ke 19 (1800-1899), peran tuan guru sangat penting bagi pemersatu rakyat. Apalagi tuan guru rata-rata pada masa ini menunjukkan karomahnya yang dibuktikan dengan kemampuan memecahkan solusi dalam agenda-agenda tertentu di luar logika manusia.

Dalam memperjuangkan kemerdekaan, masyarakat Lombok banyak mengikuti petuah tuan guru disamping rutinitas mereka yang senang menuntut dan mengamalkan ajaran Agama. Pada Abad ini tuan guru jumlahnya sangat sedikit. Perpecahan yang terjadi karena penjajahan pada kisaran abad ini, disolusikan oleh tuan guru dengan hal-hal yang tidak mengorbankan nyawa, jiwa dan raga melainkan dengan upaya tidak terlibat atau tidak mengikuti arus perpecahan. (ImamF/Gyattri.F/Arief RH/Sahrudi)

Artikel ini dalam versi cetak dimuat di Majalah Men’s Obsession Edisi Juni 2017

 

Share artikel ini

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Masukan kode dibawah Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.